Tampilkan postingan dengan label ANAK ASUH BERNAMA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANAK ASUH BERNAMA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Januari 2020

Daur I No.066 Bebendhu Tan Kasat Moto Pepeteng Kang Malih Rupo

 

Daur-I • 66

“Bebendhu Tan Kasat Moto
Pepeteng Kang Malih Rupo”

Sebelum Markesot pergi, Sapron menyempatkan diri untuk memperoleh konfirmasi tentang satu hal. Yakni kenapa sekarang banyak bicara tentang dunia dalam manusia, bukan struktur sosial. Kenapa omong banyak tentang rakyat, bukan negara dan pemerintahnya.

Memang tepat tengah malam Markesot meninggalkan rumah hitam Patangpuluhan. Tujuannya Sapron hampir memastikan: menuju suatu tempat untuk menemui Kiai Sudrun.

Begitulah Markesot. Selalu sibuk dengan kecemasan dan rasa daruratnya sendiri atas dunia dan ummat manusia. Sementara dunia tenang-tenang saja tak kurang suatu apa, dan ummat manusia tidur dengan nyenyaknya.

Bahkan dunia dan manusia tak kenal pula pada Markesot yang mencemaskannya. Kalaupun ada satu dua yang mengenalnya, mereka cueg-cueg saja, tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan, apalagi dengan kecemasan setingkat kecengengan Markesot.

Beberapa saat yang lalu sambil menyiapkan sejumlah hal, pakaian, beberapa kertas sobekan, sebuah bungkusan kain kumal yang entah apa isinya, Sapron mendengar Markesot rengeng-rengeng lagu Jawa yang ia tembangkan dengan sangat buruk sekali:

“Bebendhu tan kasat moto, pepeteng kang malih rupo…”, itu diulang-ulang. Alhamdulillah hanya Sapron sendiri yang mendengarnya. Volume suara Markesot tidak sampai melebar-lebar ke telinga para tetangga. Sehingga Sapron tidak perlu menanggung rasa malu.

Tembang itu dilantunkan oleh Markesot, bergantian dengan sebuah lagu yang Sapron ingat pernah dinyanyikan oleh orang yang tidak terkenal sama sekali, lagu itu juga tidak popular dan tidak laku:
“Akhirnya akan sampai di sini
Di amanat Ilahi Rabbi
Orang-orang tak lagi bisa menanti
Zaman harus segera berganti pagi
Aku tangiskan teririsnya hati
Para kekasih di dusun-dusun sunyi
Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani
Ya Allah
Sudah tak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan
Akhirnya akan sampai di sini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu itu adalah tangan-Mu sendiri
Tak akan ada yang bisa menghalangi”
***
Sapron turut siaga kalau-kalau Markesot memerlukan sesuatu sebelum pergi dari rumah hitam.
Sapron menggerundal lirih kepada dirinya sendiri.

“Apa itu bebendhu tan kasat moto…. Kalau bebendhu ya kasat mata. Gempa. Longsor. Banjir. Gunung meletus. Badai puting beliung. Air laut meluap ke darat….”

“Pepeteng kok malih rupo… Kalau peteng ya gelap. Kalau gelap ya rupa apa saja tidak tampak. Berubah wajah kayak apapun kalau dalam kegelapan ya tidak kelihatan…”

“Akhirnya akan sampai di sini…. Di sini di mana. Dari dulu ya di sini. Sesekali ke sana, sananya tidak pernah jelas. Bahkan di sini di rumah hitam ini juga tidak jelas. Di amanat Ilahi Rabbi…. Amanat apa? Memangnya Markesot Nabi? Kok merasa diamanati Tuhan. Ayam juga diamanati Tuhan. Pohon juga diamanati Tuhan….”

“Orang-orang tak bisa lagi menanti… Siapa yang tak bisa lagi menanti? Orang-orang tenang-tenang semua, tertawa-tawa, cengengas-cengenges, tak kurang suatu apa. Kalau memang menanti, apa yang dinanti? Ratu Adil? Satrio Pinilih? Imam Mahdi? Mesiah? Kalau menanti laba atau uang lebih banyak, memang…. Tapi bukan yang serem-serem muluk-muluk seperti di syair lagu itu….”

“Zaman harus segera berganti… apanya yang berganti. Pager ganti handphone. Mesin ketik ganti komputer. Pejabat ganti preman. Pemimpin ganti gentho. Ulama ganti Gus. Kiai ganti Ustadz. Informasi ganti rerasanan. Komunikasi ganti penggelapan. Silaturahmi ganti pisuhan….”

“Aku tangiskan teririsnya hati…. Silakan dikulum-kulum dan ditelan sendiri sana tangismu…. Para kekasih di dusun-dusun sunyi…. Kan Sampeyan sudah siap-siap mau pergi entah ke kesunyian dusun atau hutan atau gunung…silakan”
***
Walhasil di ruang kesetiaan Sapron kepada Markesot, terkandung ketidakpahaman, kesalahpahaman, kelelahan, rasa sebal, tapi juga penasaran, gairah untuk lebih menyelam, dan bermacam gejolak yang saling bertentangan, namun juga dorongan untuk menggumpalsatukan.

Begitulah dzat yang bernama cinta.

Ia penuh api, sangat membakar, tapi di ujungnya cahaya juga yang mempersatukannya.

Ketika Sapron mengejar Markesot kenapa yang dipandang terutama manusianya dan bukan tatanan sosialnya, kenapa yang disentuh rakyatnya dan bukan negara dan pemerintahnya, jawaban Markesot lebih pelik lagi untuk bisa dipahami.

“Di wilayah yang tidak saya pandang itu, adzab sedang berlangsung”, kata Markesot, “tak ada sesuatu yang bisa saya lakukan atasnya. Ada, tapi masih di tangan Tuhan. Ranah yang saya berpaling itu sedang dikepung oleh kegelapan. Yang saya perhatikan adalah sisa-sisa wilayah kemanusiaan yang mengandung benih masa depan. Yang saya datangi di ujung kegelapan malam adalah semburat fajarnya, yang akan segera menerbitkan matahari pagi”

Aduh. Ini penyair remaja lagi, karya orang tua.

Kok adzab sedang berlangsung. Adzab gimana. Kereta cepat sedang dibangun. Infrastruktur diratakan. Jutaan orang lalu-lalang menaiki pesawat, kereta, bis dan kendaraan pribadi. Mal-mal penuh sesak. Uang berputar menciptakan siklon di semua tempat.

Satrio Piningit telah turun ke bumi dan memimpin negara. Segala yang dilakukannya selalu baik. Setiap langkahnya tidak ada yang buruk. Seburuk apapun tetap baik. Sesalah apapun tetap benar. Sebodoh apapun tetap pandai. Sebanyak apapun janji tidak dipenuhi, yang salah adalah janjinya, bukan yang berjanji.

Rakyat sangat waskita dan cerdas memilih pemimpinnya. Pemimpin yang mereka pilih hampir semutu Tuhan itu sendiri. Negeri ini sudah tidak memerlukan tokoh apapun dan juru selamat sedahsyat apapun. Rakyat sudah menentukan dan mengangkat pemimpin yang mereka puja melebihi Tuhan, mereka junjung melebihi Nabi.

Dajjal, Ya’juj Ma’juj, tak perlu dikawatirkan lagi. Konspirasi global, sindikat konglomerasi dari utara, rekayasa-rekayasa yang memasuki penyusunan Kabinet, yang mengatur lalu lintas modal, yang menentukan skala prioritas pembangunan, dan apapun saja yang diseram-seramkan itu, hanyalah isu dari orang-orang yang tidak mendapat bagian.

Bangsa ini tidak takut kepada Dajjal, Iblis dan Setan, karena sudah dipimpin oleh Tuhan langsung. Bangsa ini tidak merindukan Imam Mahdi, Satrio Pinilih, Mesiah, Ratu Adil, karena pemimpin yang mereka pilih sudah sangat adil, sangat pinilih setiap gerak geriknya, sangat mesianistik kebijakan-kebijakannya. Pemimpin mereka sangat ‘mahdi’, sangat terbimbing, sangat dituntun oleh hidayah, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.

Bahkan Sang Pemimpin sudah menggerakkan revolusi mental, move on, dan berbagai macam gelombang besar sejarah, yang kalau bukan Tuhan, tak mungkin sanggup menyelenggarakannya. Sang Pemimpin bangsa ini can do no wrong, tak bisa salah. Dan siapakah itu kalau bukan Tuhan?

https://www.caknun.com/2016/bebendhu-tan-kasat-moto-pepeteng-kang-malih-rupo/ 
Koleksi Buku Yaddie Jossmart

Daur I No.065 Mengurus dan Menghimpun Tenaga Hidup

 

Daur-I • 65

Menguras dan Menghimpun Tenaga Hidup

Kepada orang yang jelas-jelas membunuhnya saja Markesot tidak benci, tidak mendendam, bahkan tetap santun dan menjunjung.

Sapron heran, “Cak Sot kok bisa to dianiaya orang sampai tingkat hampir mati kok tidak marah, tidak dendam, malah lebih santun dan lebih menyayangi mereka yang mendholimi Sampeyan?”

“Ah”, jawab Markesot, “Marah itu menguras tenaga. Dendam itu mengikis energi hidup. Kalau memaafkan itu menghimpun tenaga, bahkan Tuhan melipatgandakannya”

Markesot memang sangat melindungi jangan sampai orang-orang yang membunuhnya itu tahu bahwa Markesot tahu mereka bunuh. Markesot tidak tega. Jangan sampai mereka merasa bersalah seumur hidup sehingga frustrasi.

Kalau frustrasi, jangan-jangan nanti tidak bisa mengatasi. Lantas stress tiap hari. Depresi sewaktu-waktu. Tidur mereka tidak tenang. Mengigau. Bahkan bisa jadi terus ambil narkoba. Atau suka mengamuk.

Di tengah-tengah proses Markesot sakit, terbakar dalamnya leher dada hingga perut sampai hitam legam luluh lantak, salah seorang pembunuh menelpon Markesot. Mungkin untuk ngecek keadaannya, sudah mati atau belum.

Markesot menjawab telepon itu dengan riang gembira, meskipun tremor seluruh badannya. Markesot bersyukur dan berterima kasih beliau-beliau berkenan menghubunginya.

“Mas”, kata Markesot, “Kapan-kapan mbok saya dikirimi mobil, jangan hanya knalpotnya, kan panas, nanti mlepuh tangan dan badan saya…”

Juga tidak ada upaya Markesot untuk mem-pinter-i siapa dan kenapa ada orang-orang yang mengirim uranium ke dalam tubuhnya. Mem-pinter-i itu maksudnya menyelidiki, mendata, menganalisis, merangkumnya untuk dijadikan laporan kepada dirinya sendiri.

Markesot cuma ambil ‘tlethong’ dari uranium itu, artinya: mencari dan menemukan manfaat dari pergaulannya beberapa minggu dengan uranium.

Memang Sapron banyak dikejar oleh teman-temannya tentang uranium santet Markesot. Itu pengalaman nyata atau khayalan.

Sapron menjawab yang tidak bisa kita bantah adalah fakta tentang hasil Lab, baik tentang uranium dalam ‘keluaran dubur’ Markesot maupun kondisi bagian dalam tubuh Markesot.

Kemudian vonis Dokter bahwa hidup Markesot tinggal 3,5 bulan. Ditambah kenyataan kasat mata bahwa berat badannya turun sangat jauh karena mekanisme onderdil-onderdil dalam tubuhnya memakan lemaknya sendiri, karena makanan yang masuk tidak bisa diolah.

“Apakah itu santet, tenung atau apapun, itu soal konsep dan cara pandang”, kata Sapron, “sampai sekarang tidak ada penjelasan medis yang bisa menjelaskan”

Juga apakah peristiwa terjadi dalam sebab akibat yang temanya dendam pribadi, politik kelompok atau apapun, itu juga ranah penelitian, penyelidikan, analisis, tafsir kemudian hipotesis. Bisa ini bisa itu. Markesot tidak mengejar hal itu sama sekali, meskipun teman-temannya yang melakukan sampai seluruh faktanya ketemu.

***
Yang jelas Markesot sendiri sembuh mendadak: suatu malam ia menghilang, paginya datang segar bugar. Besoknya mulai pulih tubuhnya, bahkan akhirnya menjadi gemuk.

Sapron menjelaskan bahwa Markesot itu tidak penting untuk dijadikan bahan penelitian. Tidak ada perlunya mencari tahu apakah pengalamannya itu benar atau tidak, siapa yang menyantet seandainya itu santet, kenapa disantet, bagaimana latar belakang dan peta permasalahannya. Juga tidak perlu diteliti apa yang dilakukan oleh Markesot sehingga pagi itu ia menjadi segar kembali.

“Kalau kita memperlakukan kehidupan dan omongan Markesot dengan pendekatan Ilmu Tafsir, akan mubadzir, menghabiskan waktu dan bisa bikin kepala kita pecah”, kata Sapron.

“Umpamanya kita wawancara Markesot, bisa malah ruwet. Sebab jawabannya bisa polos, bisa taktis, bisa mbombong, bisa menghindari perdebatan sehingga membatasi pembicaraannya, dan banyak kemungkinan lain. Terlalu banyak sub-sub teori dan metodologi untuk mendata, menganalisis dan menyusun hipotesis.”

Jangan pula pernah menyangka kita akan sampai pada konklusi tentang kehidupan Markesot. Karena di samping multidimensional, Markesot juga sangat dinamis segala sesuatunya. Markesot bukan barang mati yang kita otak-atik kita jadikan obyek dengan pisau teori yang kita siapkan. Alhasil, Markesot sebenarnya bukanlah Markesot, sementara karena ia bukan Markesot maka sesungguhnya itulah Markesot.

***
Jadi, sekali lagi, Sapron menegaskan, bergaul dengan Markesot jangan menafsirkan, apalagi menafsir-nafsirkan. Sebab tafsir itu harus dilakukan dengan metodologi yang solid, pengetahuan yang lengkap, daya analisis secerdas mungkin, serta jujur objektif di semua alurnya.

Hal semacam itu tidak mungkin berlaku untuk kebanyakan orang. Sama dengan dalam menjalani agama, bagaimana mungkin seorang pekerja bangunan, penjaja makanan, tukang parkir dan masyarakat di level itu lainnya sempat dan mampu melakukan pekerjaan tafsir.

Tuhan menghamparkan pengetahuan, menanam ilmu di petanahan jiwa dan akal ummat manusia, menurunkan Kitab-Kitab Suci, tidak diperuntukkan hanya untuk orang pandai, kaum sekolahan, ahli analisis dan interpretasi.

Semua itu dianugerahkan oleh Tuhan kepada semua manusia hamba-hamba yang Ia kasihi. Kepada para profesor dan doktor di gedung-gedung Universitas, hingga pedagang-pedagang di pasar kumuh, penduduk tepian hutan, perbukitan dan gunung-gunung yang terasing dari kebudayaan buku dan gebyar teknologi.

Anugerah Tuhan itu tidak boleh dimonopoli oleh siapapun. Apalagi kalau memonopoli dengan merasa dirinya lebih tahu dari orang lain, lebih pintar dan terpelajar dari orang umum. Tuhan ‘dimiliki’ sendiri, mereka menjadi satu-satunya ‘agen’ yang berhak atas Tuhan, sorga dan neraka.
Barang siapa taat kepadanya, akan dapat pahala dan masuk sorga. Barangsiapa tidak sama pandangan hidup dan keagamaannya dengan dia, maka akan diadzab oleh Tuhan dan masuk neraka.

Orang-orang pandai yang bersikap seperti itu, sesungguhnya sedang mentuhankan dirinya, sehingga siapapun yang berpendapat harus sama dengan pendapatnya. Siapapun yang berlaku dan beribadah harus sama dengan cara dia berlaku dan beribadah.

Tidak boleh ada cendekiawan yang menganggap bahwa ilmu hanya milik mereka dan yang bukan mereka adalah makhluk-makhluk bodoh. Tidak boleh ada ulama yang menganggap bahwa jalan untuk bertemu dan menyembah Tuhan harus melalui buku administrasi kekuasaan mereka.

Tidak boleh ada siapapun, terserah apa pangkatnya, jabatannya, turunannya siapa, sekhusyuk apapun ibadahnya dan setinggi apapun ilmunya, yang mengumumkan bahwa Tuhan hanya bisa dicapai oleh ulama karena mereka mampu menafsirkan.

Sehingga barangsiapa di antara orang-orang kecil, orang-orang bawah, orang-orang yang mereka sebut bodoh, yang ingin bersilaturahmi dengan Tuhan, menyampaikan cinta dan kesetiaan ibadah – harus melalui mereka. Hanya mereka yang mampu dan boleh menafsirkan Kitab Suci dan kehidupan. Orang-orang kebanyakan harus menjadi pengikut mereka, bukan pengikut Nabi. Orang-orang kebanyakan harus menyembah mereka, bukan menyembah Tuhan.

https://www.caknun.com/2016/menguras-dan-menghimpun-tenaga-hidup/ 
Koleksi Buku Yaddie Jossmart

Daur I No.064 Wirid Makalah

 

Daur-I • 64

Wirid Makalah

Ketika ditanya oleh Sapron kenapa seperti tak henti-hentinya mengungkapkan hal tentang tadabbur, Markesot menjawab: “Wiridan”

“Kok wiridan?”, tanya Sapron, “Wiridan kan baca doa diulang-ulang, baca asma Allah atau entah apa lainnya dalam bahasa Arab”

“Itu juga wiridan, ini juga wiridan”

“Wiridan kan biasanya khusushan sesudah shalat atau bersila tengah malam, memutar biji-biji tasbih, umik-umik baca ini 1000 kali, baca itu 3333 kali dan yang semacam itu”

“Itu juga wiridan, ini juga wiridan”

“Wiridan kok seperti presentasi makalah, saat dan tempatnya juga tidak menentu, bahkan sambil methingkrang angkat kaki, bahkan diselai minum kopi”

“Ini juga wiridan, itu juga wiridan. Garis lurus dari jiwa kita ke Allah, syukur dikabulkan muncul garis lurus dari Allah ke jiwa kita. Seperti garis sinar laser, bukan cahaya yang menyebar. Muatan garis lurusnya wirid, posisinya dzikir, membangun tegangan ingat kebersamaan dengan Allah, arusnya bisa dimuati pengharapan, keluhan, permohonan, pernyataan cinta dan kepasrahan total”

“Wirid dan dzikir katanya spiritual, bukan intelektual”

“Bangunan dan mekanisme wirid ditata secara intelektual. Apalagi dzikir. Mengingat. Memadatkan ingatan. Itu peristiwa di kepala. Menyatu nuansanya dimensinya dengan dada hati qalbu fuad shudur. Kalau mantapnya mengingat sesuatu 4444 kali ke hadapan Allah, itu juga pekerjaan sel-sel otak, hati tak bisa menghitung, sementara kepala tak paham cinta”

“Wah, ndak cocok dengan yang dipahami umum, terutama para pengikut Thariqat”

“Kita perlu angkat topi kepada para pengikut Thariqat. Mereka hamba yang memperjuangkan kemuliaan dan cinta di hadapan Allah. Kelemahan mereka biasanya ada satu: menyangka hanya mereka yang berthariqat. Mengira wiridan hanya sebagaimana yang mereka tradisikan. Sehingga kurang waspada dan kurang mensyukuri sesungguhnya ada cara-cara tanpa batas untuk mencintai Allah. Tidak terbatas kata-kata yang diucapkan, tidak terbatas cara mengucapkan, tidak terbatas bahasa tubuh dan kulturalnya. Kebanyakan mereka hanya mengenal satu jenis aplikasi, dan mereka berpikir bahwa wirid dan dzikir sama dan sebangun dengan aplikasi yang mereka ketahui dan lakukan”

“Jadi Sampeyan sebenarnya juga ahli-wirid, Cak Sot?”

“Ahli wirid bukan pakar wirid. Ahli wirid maksudnya setiap jiwa manusia adalah rumah rohani, di mana masing-masing hamba yang dititipi jiwa oleh Allah itu menjadi tuan rumah. Kalau di dalam jiwanya berlangsung wirid dan dzikir, maka dia adalah tuan rumah wirid dan dzikir”

“Wah, jadi kata ‘ahli’ itu kacau ya pemaknaannya?”

“Rata-rata kata dikacau oleh pemaknaannya”

“Wirid Makalah itu mungkin-mungkin saja ya?”

“Lho apa yang tidak berdzikir: nafasmu, detak jantungmu, mengalirnya darahmu, berputarnya sel-sel terkecilmu. Tuhan memberitahukan bahwa semua yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, shalat kepada-Nya, berdzikir dan wiridan kepada-Nya. Tidak hanya manusia dan makhluk hidup lainnya. Tapi juga gunung, angin, daun, embun, asap, ikan-ikan dan burung-burung. Bahkan burung disebut langsung oleh Tuhan sebagai contoh makhluk yang bertasbih dan sholat”

“Lucu ya kambing berdzikir, anjing wiridan, angin semilir bertasbih, gunung menegakkan shalat…”

“Allah menginformasikan bahwa mereka semua itu mengetahui caranya masing-masing untuk bertasbih dan melakukan shalat. Jadi kasihan kalau para pelaku Thariqat dan manusia yang rajin beribadah menyangka hanya mereka yang shalat dan tasbih kepada Allah. Lebih kasihan lagi kalau karena itu mereka lantas merendahkan orang-orang yang tidak melakukan seperti yang mereka lakukan. Mereka jadi sombong karena merasa lebih dekat kepada Tuhan dibanding siapapun saja yang bukan anggota Thariqat mereka”

“Lebih lucu lagi kalau orang mendengar kata tasbih, yang muncul di benaknya adalah bulatan-bulatan benda kecil yang ditali, diikat, disatukan dalam suatu rangkaian bulatan”

“Tuhan memberi ujian kepada manusia, Tuhan mengisi jiwa mereka dengan kesukaan kepada benda. Untuk diuji apakah mereka berhenti pada benda itu, tasbih butir-butir itu, atau menemukan bahwa hal itu hanya alat untuk rohani tasbih yang sejati kepada-Nya”

“Jadi orang yang ndremimil mulutnya mengucapkan nama-nama Tuhan, sambil duduk di bawah pohon, dengan wajah melamun, ekspresinya tidak bersambung dengan lingkungannya – itu tidak pasti orang gila, atau orang frustrasi, orang ngengleng, tapi jangan-jangan dia sedang wiridan ya?”

“Lho jangankan yang ndremimil dan duduk. Kalau orang membiasakan mengisi jiwanya dengan ingatan kepada Tuhan, ketika tertidur pun aliran darahnya, detak jantung dan keluar masuk nafasnya wiridan”

“Kalau tercampur-campur dengan ingatan kepada yang selain Allah?”

“Pasti tercampur. Memori di kepala manusia yang menggerakkan saraf-sarafnya dan mengaliri darahnya, pasti bermuatan hal-hal yang ia serap dan rekam dari peristiwa-peristiwa di dunia. Dan itu mereka bawa masuk ke ruang wirid mereka, untuk dilebur menyatu ke dalam ingatan kepada Allah”

“O, jadi konsentrasi khusyuk kepada Allah tidak harus berarti membuang segala sesuatu yang selain Allah”

“Lho kok dibuang. Dibawa, dipanggul, dimuat oleh otak, hati dan jiwa, kemudian ditumpahkan ke ruang dzikrullah, menyatu dengan Allah dan musnah. Apa saja musnah pada Allah. Bukannya dunia mengandung Allah, tapi Allah mengandung dunia. Jangan pernah bilang di dunia atau dalam kehidupan ada Tuhan. Terbalik. Di dalam Tuhan ada dunia dan kehidupan”

“Memang sukar ya mengatur konstruksi kesadaran. Mentang-mentang kita percaya adanya Tuhan, lantas menganggap Tuhan adalah bagian dari kita. Kemudian Tuhan menjadi karyawan yang kita suruh siap memenuhi keperluan-keperluan kita. Tuhan kita angkat menjadi Kepala Dinas Pengabulan Doa”

“Tidak perlu marah pada kenyataan itu. Tuhan memang menciptakan manusia dengan berbagai kelengkapannya termasuk kelemahan, minimalnya ilmu, sedikitnya pengetahuan, lalainya kesadaran dan konyolnya hitungan”

“Tapi tetap saja menggelikan kalau melihat Sampeyan ndridhil omong seperti sedang mempresentasikan makalah ilmiah, tapi Sampeyan sebut itu wiridan”

“Lho ndak usah perduli bentuknya. Seaneh apapun munculannya, bentuknya, formulanya, bunyinya, ekspresi tubuhnya, asalkan yang berlangsung di dalam jiwa manusia adalah ketekunan untuk mencintai-Nya, kerajinan untuk menyapa-Nya, disiplin untuk setia kepada-Nya, itu wiridan namanya”

“Jadi wiridan tidak harus wudlu dulu, shalat, bersila, pegang tasbih, terus umik-umik bibirnya, bergerak-gerak tubuhnya ke kiri ke kanan ke depan ke belakang….”

“Itu juga baik. Karena manusia memerlukan caranya masing-masing untuk mendorong jiwa maju lebih mendekati Tuhan”

“Kalau ada yang caranya butuh bebauan atau wewangian untuk lebih mudah membangun suasana kejiwaanya, sehingga dia membakar kemenyan? Katanya itu syirik”

“Kemenyan itu salah satu jenis tanaman ciptaan Tuhan. Kemenyan tidak ada kaitan dzatiyah dengan syirik akau kufur. Kasus kafir dan musyrik terletak di dalam jiwa manusia. Sudah pasti kemenyan bisa menjadi sebab yang dilewati atau dipakai manusia untuk syirik kepada Tuhan”

“Memang banyak yang begitu tho?”

“Tidak hanya kemenyan, juga mobil, uang, jabatan, harta benda, mall, sukses, reputasi, eksistensi diri dan apa saja bisa menyebabkan manusia menomersatukannya dengan menomerduakan Tuhan.
Bahkan shalat, kesalehan, ketekunan ibadah, pun bisa membuat manusia menyembahnya, sehingga bukan lagi Tuhan yang dinomersatukannya. Tetapi letaknya syirik bukan di harta benda atau kemenyan, melainkan di dalam dismanajemen internal jiwa manusia”

“Kalau bakar kemenyan untuk merangsang datangnya Setan atau Jin?”

“Silakan Setan Jin Peri Perayangan Druhun Dimemonon Lengeng datang ke kita. Gunanya bisa untuk melaporkan kepada Tuhan bahwa mereka tidak mampu mengganggu kekhusyukan ibadah kita kepada-Nya. Mereka itu makhluk ciptaan Tuhan, kita bertoleransi dan mempersilakan mau apa saja, tapi jangan pernah menyangka bahwa mereka sanggup mempengaruhi iman kita kepada-Nya”

https://www.caknun.com/2016/wirid-makalah/
Koleksi Buku Yaddie Jossmart
 

Daur I No.063 Dunia Bukan Tempat Membangun

 

Daur-I • 63

Dunia Bukan Tempat Membangun

Tak henti-hentinya Markesot bicara tentang tadabbur. Terkantuk-kantuk Sapron mendengarkannya. Tapi karena kesetiaannya, Sapron sebisa-bisa selalu meresponsnya.

“Dunia bukan tempat membangun, melainkan tempat mencari menemukan bahan-bahan bangunan”, begitu filosofi Markesot.

“Lantas membangunnya di mana?”, Tanya Sapron.

“Tidak di dunia”

“Lha di mana?”

“Pokoknya tidak di dunia yang ini”

“Lha di dunia yang mana?”

“Yang lain, yang sesudahnya”

“Akhirat?”

“Akhirat itu bukan nama, tapi pertanda. Aran. Tetenger. Inisial untuk memahami bahwa ada sesuatu sesudah akhir dunia”

“Ada kehidupan yang lain sesudah kehidupan di dunia?”

“Yang benar-benar kehidupan ya bukan yang di dunia ini. Kan cuma sebentar sekali. Manusia berjuang untuk memiliki dan membangun sesuatu, belum tentu berhasil, besok tiba-tiba tua dan mati. Jadi untuk apa memfungsikan dunia yang sangat sejenak ini sebagai ruang dan waktu untuk membangun sesuatu?”

Sapron protes. “Wajar dong orang hidup di dunia, berkeluarga, mencari nafkah, memastikan sandang pangan papan. Punya rumah sendiri. Menyekolahkan anak-anak. Menggelar tikar persiapan untuk masa depan anak turunnya. Kalau bisa rumahnya yang nyaman dan bagus. Kendaraannya jangan butut-butut amat. Punya tabungan…”

Markesot menjawab. “Itu bukan hanya wajar. Itu juga rancangan dan perintah Tuhan: ‘jangan lupa nasibmu di dunia’ tatkala kita menempuh perjalanan menuju Tuhan, sangkan-nya manusia sekaligus paran-nya”

“Berarti kan membangun dunia dan tempatnya juga di dunia?”, Sapron mengejar.

“Sekadarnya saja. Karena toh setiap manusia sebentar saja akan pindah dari dunia ke dunia
berikutnya yang sama sekali tidak sama rumus dan konstruksinya dengan dunia yang ini”

“Berhias sedikit selama singgah di dunia kan tidak salah?”

“Lho dunia ini dirancang Tuhan memang untuk sekadar hiasan. Dunia ini dikonsep bukan sebagai substansi, melainkan ilustrasi. Ilustrasinya jangan melebihi dan mengalahkan substansinya. Itu bodoh dan pasti rugi sendiri. Apalagi karena terlalu mensubstansikan ilustrasi maka manusia melakukan korupsi, perebutan, penjajahan, perampokan, penindasan, penguasaan, sekadar untuk berhias beberapa saat. Dungu itu”

“Kan sepanjang sejarah isi dunia selalu kelakuan manusia yang seperti itu, menindas, merampok, menipu, memperdaya, merekayasa, dari jalanan, kampung-kampung hingga Istana Negara”

“Ya. Benar. Dungu memang”

“Lha Cak Sot maunya mengubah sejarah ummat manusia yang sudah mengakar kedunguannya?”

“Saya tidak punya kepentingan untuk mengubah apa-apa. Saya cuma mengungkapkan apa saja yang benar menurut saya. Dan yang benar menurut saya itu tidak mengikat siapapun. Benar untuk saya tidak harus benar bagi yang bukan saya”

“Tapi saya repot menjawab banyak orang yang menanyakan tentang omongan Sampeyan”

“Lebih baik repot menjawab daripada mencuri”

“Bagaimana logikanya itu?”

“Ya repot menjawab itu lebih baik daripada korupsi”

“Ooo ini semacam sholat lebih baik daripada tidur…”

Alhasil Sapron lupa bahwa seharusnya jangan menjawab atau merespons atau apalagi membantah Markesot.

Dulu ada tokoh ludruk namanya Markuwat. Semua pelakon lain menyepakati untuk jangan sekali-kali mengajak omong Markuwat. “Kita omong sak-kecap, Markuwat omong rong-kecap. Kita dua-kecap, Markesot sepuluh kecap. Kita tandingi sepuluh kecap, markuwat kecap-kecap tanpa koma tanpa titik dan tanpa henti…”

Jadi Sapron berpikir biarlah Markesot kecap-kecap semau-mau dia, akhirnya nanti toh akan berhenti sendiri.

“Dunia ini”, kata Markesot, “sangat segera akan musnah. Atau kita sendiri terlalu cepat akan meninggalkannya. Dunia bukan rumah permanen, ia hanya rumah singgah. Dunia hanya terminal sementara, di mana manusia melakukan perjalanan menuju rumah sejati. Dan satu-satunya jalan untuk mencapai rumah sejati adalah perjuangan nilai, bukan perjuangan dunia”

“Siapa yang percaya sama omongan Sampeyan, Cak Sot”, ternyata Sapron tidak tahan juga untuk tidak merespons.

“Omongan saya tidak ada kaitannya dengan kepercayaan orang. Kalau omongan Tuhan, itu baru bermasalah pada orang yang tidak mempercayainya”, jawab Markesot.

“Lha omongan Sampeyan hubungannya dengan apa?”

“Ini semacam latihan menghadapi Malaikat besok-besok”

“Mosok Malaikat bertanya sampai yang ruwet-ruwet begitu?”

“Malaikat itu makhluk yang aslinya lembut, sehingga selalu bersikap detail. Mereka mendata kelakuan kita tidak hanya pada ekspresi jasad dan pergaulan sosial, tapi juga perilaku sejak di alam pikiran”

“Kalau kepada orang bisa, metode komunikasi Malaikat bagaimana?”

“Justru lebih mudah. Tidak perlu wawancara seperti kepada kamu dan saya. Malaikat cukup melakukan pendataan langsung dengan memeriksa munculan-munculan gelombang saraf-saraf otak mereka”

“Malaikat juga bawa kalkulator untuk menghitung pembangunan angka-angka kita di dunia?”

“Malaikat semua adalah supra-kalkulator, dan itu bukan fungsi utama mereka, sebab angka itu soal mudah. Yang substansial bagi para Malaikat adalah nilai. Terdapat beda serius dan mendasar antara angka dibanding nilai. Angka akan ditinggalkan di dunia oleh manusia, karena ia bukan kekayaan”

“Lho kok angka bukan kekayaan. Kan kekayaan tidak berwujud kalau tidak dihitung dengan angka”

“Kalau orang biasa seperti kamu biasanya menggunakan angka tidak untuk menghitung kekayaan, tapi utang”

“Bukannya pejabat-pejabat tinggi dan pengusaha-pengusaha kaya juga tidak menggunakan angka untuk menghitung kekayaan mereka?”

“Maksudmu?”

“Kalau para petinggi Negara kan hanya tahu angka kurang, tidak mengenal angka lebih”

“Itu bedanya dengan kamu. Pada hidupmu angka sangat sering tampil dalam kasus utang. Tapi pada tema kekayaan, angka tidak berguna, karena tidak ada kekayaan yang perlu dihitung”

“Bukannya Sampeyan yang begitu itu, Cak Sot?

“Lho bukan sombong ya, bagi saya yang kekayaan adalah nilai. Angka itu ilmu yang baik, tetapi ia membunuh manusia yang menyangka angka adalah nilai. Maka setiap angka harus dinilaikan. Uang harus diabadikan. Dunia harus diakhiratkan”

Sapron memotong: “Nanti kalau terlalu banyak omong ruwet-ruwet tentang angka dan nilai Sampeyan bisa-bisa dituduh anti-angka lho, Cak Sot”

Markesot menjawab, “Lho kan sejak dulu saya dituduh anti-dunia, bahkan anti-kehidupan. Itu sebabnya saya tidak punya tempat dalam kehidupan”

“Mungkin tuduhannya dispesifikkan: Markesot frustrasi karena tidak punya tempat di masyarakat, tidak berada di titik koordinat manapun dalam kehidupan. Ia bukan penduduk legal di dunia, maka ia selalu rewel omongannya”

“Lebih besar mana dunia dibanding manusia? Yang makro dunia ataukah manusia? Yang paling diciptakan di puncak kemuliaan, manusia ataukah dunia?”

“Orang akan berargumentasi: manusia yang tidak punya peran dalam kehidupan dunia, ia adalah butiran debu di tanah. Dan karena Markesot hanya sebutir, maka ia boleh tidak ada. Tidak ada bedanya bagi dunia Markesot ada atau tidak ada”

“Saya tidak perlu bermanfaat bagi dunia, kalau dunia menuntut saya bermanfaat baginya. Dunia hanya perangkat untuk manfaat akhirat saya. Dunia tidak boleh memenjarakan saya. Dunia jangan pernah berpikir mampu menyandera saya”

“Orang akan melebar tuduhannya:  Markesot terdesak ke pojokan tasawuf. Bicaranya meniru-niru filosofi kaum Sufi. Tapi Markesot bersufi-sufi ria itu sebabnya hanya satu: karena dia tidak punya dunia, dia miskin dan bukan siapa-siapa”

 https://www.caknun.com/2016/dunia-bukan-tempat-membangun/
Koleksi Buku  Yaddie Jossmart

Daur I No.062 Revolusi Tlethong

 

Daur-I • 62

Revolusi Tlethong

Markesot bilang kepada Sapron:
“Aslinya yang saya bicarakan adalah Revolusi Tadabbur. Tapi rasanya terlalu muluk dan mengandung ancaman, terutama bagi orang yang tidak paham. Terlebih lagi bagi yang salah paham. Yang ancaman utama adalah bagi mereka yang menyembunyikan fenomena tadabbur, dalam rangka mempertahankan kekuasaannya atas para pemeluk agama. Jadi, kalau omong ke orang, bilang ini adalah Revolusi Tlethong”

“Maksudnya tlethong sapi, Cak Sot?”

“Terserah. Sapi, kerbau, apapun”

“Kok tlethong?”

“Tidak setiap orang harus mempelajari riwayat sapi, segala sisi ilmu dan pengetahuan tentang sapi. Bahkan kebanyakan para peternak sapi juga tak sejauh itu harus memahami. Yang perlu mereka ketahui hanya sejumlah hal pokok: bagaimana memelihara sapi, apa makan minum sapi, bagaimana sapi malam sapi siang, intinya cukup mengetahui bagaimana menjadikan sapi bermanfaat bagi kehidupan”

Sapron merespons, “Sudah sering saya bilang ke orang-orang bahwa mereka tidak harus memahami kalimat-kalimat Markesot secara keseluruhan, lebih tidak perlu lagi memahami kehidupan Markesot. Cukup ambil tlethong-nya Markesot, satu kata-katanya saja, satu kalimat atau beberapa kalimat Markesot, tanpa peduli pada kalimat-kalimat yang lain: kamu amat-amati, kamu pikir-pikirkan dan cari kegunaannya, misalnya untuk rabuk”

Sapron mengatakan kepada teman-temannya, “Awalnya saya menyebut Cak Markesot itu ahli dubur. Ternyata lebih khusus lagi: beliau itu Ahli Tlethong”

“Markesot tidak usah dipahami secara menyeluruh sebagai seekor sapi. Cukup ambil sedikit tlethong-nya. Itu pun tak harus benar-benar paham tlethong itu apa. Asalkan tlethong itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita menjadi lebih kuat dan dalam, kedekatan kita kepada Tuhan dan kekasih-Nya meningkat: itulah yang namanya tadabbur”

“Cak Sot bilang tadabbur bukan segala-galanya. Perlu juga tafakkur. Kalau Tuhan berkisah tentang alam, saran-Nya adalah tafakkur, merenungkan, memikirkan, mendalami”

“Kalau tadabbur, itu mencari dan menemukan manfaat, meskipun pengertiannya terbatas. Jadi kalau pakai terminologi dan metodologi dari Tuhan, kepada Kitab Suci itu tadabbur, kepada alam semesta itu tafakkur. Tafakkur itu untuk orang pandai, cendekiawan, sejumlah orang istimewa. Tadabbur itu untuk semua orang. Orang tidak harus pandai, tapi harus bermanfaat bagi sesamanya”

***
Revolusi Tlethong yang kandungannya adalah Revolusi Tadabbur adalah mengupayakan agar sebanyak mungkin orang melakukan tadabbur Qur`an dalam hidupnya. Harus disebarkan kesadaran tentang pembiasaan tadabbur. Supaya orang tidak berabad-abad merasa jauh dari Tuhan, merasa awam dalam beragama, merasa tidak mengerti Kitab Suci Tuhan.

Memang pernah suatu kali Sapron mengejar Markesot, “Kenapa kok Sampeyan sering mengulang-ulang dan menekan-nekankan pembicaraan soal Tadabbur?”

Markesot menjawab, “Karena ummatmu sangat membutuhkan Revolusi Tadabbur”

“Maksud jelasnya bagaimana?”

“Saya harus bilang revolusi, meskipun prakteknya nanti cuma evolusi, itu pun bisa saja sangat lamban”

“Kalau memang yang mungkin terjadi adalah evolusi, kenapa bilang revolusi?”

“Kalau saya pakai revolusi, hasilnya evolusi. Kalau saya pakai evolusi, mungkin tidak ada hasilnya.
Cari sembilan macam buah! Saya sebut Sembilan tapi siap yang didapatkan mungkin hanya satu dua buah. Kalau saya bilang temukan satu buah saja, mungkin tak kan pernah ketemu buah”

“Ah, Sampeyan terlalu under-estimating masyarakat kita”

“Nggak melihat rendah. Kita harus ambil standar sepahit mungkin dalam mengerjakan masa depan. Kesiapan utama adalah akan gagal. Kalau berhasil, tidak perlu persiapan setinggi atau sebesar persiapan untuk gagal”

“Kelihatannya Cak Sot sudah agak paranoid, selalu merasa dikejar atau dikepung oleh kegagalan”
“Ah, kamu berlagak pilon. Sejak dulu di Patangpuluhan kita kan tidak mengenal sukses, apalagi gagal. Bengkel motormu akhirnya kan tutup, tapi saya tidak pernah bilang itu gagal”
“Mbok jangan sebut-sebut itu lagi, Cak Sot”

“Lha malah kamu yang diam-diam merasa gagal. Kalau memang mau masuk tema sukses-gagal, saya katakan sebenarnya bengkel motormu itu sukses, maka bangkrut dan tutup”

“Kok sukses?”

“Lho kamu selama mbengkel kan sukses untuk jujur, tidak menipu konsumen, tidak morotin orang yang membengkelkan motornya. Kamu Sapron Bengkel, tapi tetap mengutamakan Sapron Wong. Kebanyakan orang kan mengutamakan Dadap Pedagang, menyisihkan Dadap Wong, Presiden Pedagang melupakan Presiden Wong. Juga posisi, fungsi-fungsi, jabatan dan kedudukan-kedudukan lain yang bermacam-macam. Kemanusiaan nomor sekian, bahkan boleh tidak berlaku”

***
“Kenapa revolusinya Tadabbur? Kok bukan revolusi sosial, revolusi ideologi, revolusi mental, revolusi politik, revolusi nilai?”, Sapron mengejar.

“Karena kata sosial sudah menjadi sangat relatif dan lama-lama tinggal teori. Komunalitas manusia makin terkikis, sosialitas antar manusia dipersambungkan terutama oleh kepentingan, bukan hakikat maiyah atau takdir kebersamaan hidup. Kepentingan masing-masing, atau kepentingan yang ketemu persambungannya satu sama lain, tapi substansinya tetap kepentingan”

“Revolusi ideologi? Ideologi sudah semakin meninggalkan jiwa manusia. Ideologi semakin menjadi perangkat di tangan kepentingan”

“Revolusi mental? Itu juga aksesori yang menawan dari kepentingan yang menyamar di sebaliknya.

Revolusi mental mustahil dilakukan oleh manusia yang tidak pernah mengurus skala prioritas mental, bahkan tidak mengerti persis letak atau dimensi mental dalam konstruksi kejiwaan manusia. Mental, moral, intelektual, spiritual, bermacam-macam, dideret-deret, ditumpuk-tumpuk di rak-rak toko politik kepentingan”

“Revolusi politik? Di mana politik? Apa politik? Kapan politik? Bagaimana politik? Semua itu bukan politik karena tanpa ‘kenapa politik’ dan ‘untuk apa politik’.”

Politik adalah mandat penataan keadilan dan kalau bisa disertai kesejahteraan bagi yang memandati untuk dikerjakan oleh yang dimandati, karena mereka digaji sangat besar. Tetapi yang disebut politik saat ini adalah peluang lima tahunan bagi mandataris politik untuk mencari laba pribadi dan golongan, dengan cara menipu-daya para pemberi mandat, meracuni mereka, menyihir mereka, meninabobokkan mereka”

“Revolusi nilai? Nilai apa? Sejak di Raport sekolah SD, ada daftar nilai-nilai, padahal yang dimaksud adalah deretan angka-angka. Angka bukan nilai. Angka itu rangka dasar materialisme. Seluruh pelajaran sekolah hingga undang-undang negara dan peraturan pembangunan, berisi angka-angka, bukan nilai-nilai”

“Yang disebut nilai sesungguhnya hanyalah materialisme. Kejasadan. Kebendaan. Keduniaan. Kalau orang memahami nilai, ia mengerti bahwa alamat nilai tidak di dunia, karena nilai memperlakukan dunia sebagai jalan untuk memperjuangkan dan menabung nilai. Nilai tidak berada di lembaran uang, melainkan terletak pada cara uang diperlakukan. Nilai tidak terletak di harta benda, kekuasaan dan kemakmuran, melainkan beralamat di substansi perilaku per manusia terhadap benda-benda itu”

https://www.caknun.com/2016/revolusi-tlethong/
Koleksi Buku Yaddie Jossmart
 

Daur I No.061 Tadabur, Dubur, Knalpot Akhlaq

 

Daur-I • 61

Tadabbur, Dubur, Knalpot Akhlaq

“Kalian punya hak untuk mengucapkan, melakukan dan menikmati ‘Bismillahirrohmanirrohim’, ‘Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir’, alfatihah seutuhnya, ayat-ayat apapun di surat apapun dan tentang apapun, tanpa kalian wajib tahu asbabun-nuzul-nya, asal-usul kalimat itu, ayatkah atau haditskah atau wisdom para Ulamakah. Yang menjadi ukuran adalah apa yang keluar dari dubur kehidupanmu”

“Kalian sebagai tukang becak dan kuli pasar tidak tahu bahasa Al-Qur`an, tidak menguasai epistemologinya, tidak mungkin melakukan pembelajaran tentang asal-usul ayat ini itu, tidak mengerti Makiyah atau Maddaniyah, tidak paham Kitab apapun yang berisi tafsir terhadap ayat-ayat itu, tidak pernah melihat atau mendengar apa yang ditulis dan dikatakan oleh para Ulama Ahli Tafsir.

Tetapi wahyu Tuhan itu untuk kalian semua, tidak hanya untuk Nabi dan Ulama-Ulama penerus Nabi. Untuk setiap orang dari kalian, dan pasti berlaku untuk setiap detail kehidupan dan penghidupan kalian di tempat kerja, di rumah, di jalanan, di gardu, di warung, di tempat pemancingan, di jalur ronda malam dan di manapun”

“Al-Qur`an dan kehidupan ini dihamparkan Tuhan tidak dikhususkan untuk Nabi dan Ulama, apalagi hanya untuk dikuasai dan dimonopoli oleh Ulama Tafsir. Kalian beli beras untuk makan anak istri saja belum tentu bisa, bagaimana mungkin pergi ke toko buku membeli Kitab Ulama”

“Al-Qur`an dan kehidupan bukan monopoli Nabi dan Ulama. Beliau-beliaulah yang menyangga kewajiban untuk mengantarkan Al-Qur`an kepada kalian semua dengan bahasa, cara dan tawaran pelaksanaan yang semudah-mudahnya. Kalian juga sangat berhak, bahkan dianjurkan oleh Tuhan untuk bergaul seakrab-akrabnya dengan Kitab-Nya meskipun tidak benar-benar memahami bahasa dan maknanya. Yang penting kalian mencintainya, mempercayainya, melaksanakan dan menikmatinya”

“Asalkan hasilnya adalah kalian menjadi lebih baik hidup kalian sebagai manusia, lebih dekat kepada Tuhan, lebih mencintai Nabi, Anbiya` dan Auliya` serta para Ulama yang sungguh-sungguh Ulama. Asalkan yang keluar dari knalpot kehidupan kalian adalah tetesan-tetesan air suci kesetiaan, pengabdian dan cinta kepada Tuhan. Itu saja ukurannya. Sangat sederhana. Tidak harus berilmu tinggi. Tidak wajib menguasai Al-Qur`an, karena Ulama yang paling Ulama pun mustahil menguasai Al-Qur`an. Mosok Al-Qur`an diturunkan untuk dikuasai. Yang harus dikuasai itu nafsu!”

Demikian ‘fatwa’ Ahli Dubur.

***
Dengan demikian mestinya sekarang sudah sangat jelas betapa pentingnya dubur. Ia memiliki kemuliaan khusus karena menjadi saluran pengetahuan untuk melihat seseorang sehat atau tidak.
Jangan pernah meremehkan dubur, sebab kalau sampai ia ngambeg lantas pergi meninggalkanmu, bagaimana hidupmu nanti. Jangan pernah membuang dubur, sebab dia bukan gundukan yang bisa kamu potong, kamu gergaji kemudian kamu buang.

Jangan pernah mengejek dubur. Cintailah dubur, meskipun bentuk cintamu tak perlu dengan menjilatinya. Hargailah kerendahhatian dan keikhlasan dubur, yang tidak merasa cemburu, iri, dengki atau dendam kepada mulut. Dubur tidak mempersoalkan nasib mulut yang selalu dipergaulkan dengan barang-barang yang enak dimakan dan diminum. Sementara nasib dubur sendiri justru sebaliknya.

Markesot sangat sering wanti-wanti agar ummat manusia selalu tumbuhkan penghormatan dan apresiasi terhadap dubur. Penghargaan terhadap dubur adalah kewajiban semua bangsa, semua suku, golongan, marga dan manusia siapapun.

Barangkali ada yang pernah tahu bahwa sesuatu yang keluar dari dubur Markesot pernah dibawa ke Laboratorium dan ditemukan kandungan Uranium. Dokter memvonis bahwa sisa usia Markesot tinggal 3,5 bulan lagi. Tubuh Markesot dimasukkan ke dalam “bendosa” dan hasil potretnya dari leher ke seluruh dada Markesot hitam legam pekat sehitam-hitamnya. Sudah tidak ada fungsi apapun padanya. Tinggal maut, kalau menurut batas ilmu manusia.

Syukur Alhamdulillah belum pernah ada dan memang tidak ada dokter yang Tuhan. Tuhan hanya tunggal, hanya satu-satunya, ya Tuhan itu sendiri. Dokter wajib mendiagnosis, tapi keputusan final ada di tangan Tuhan. Andaikan ketika itu yang mendokteri Markesot ternyata adalah Tuhan sendiri, maka 3,5 bulan itu absolut. Untungnya dalam kehidupan ini tidak ada dokter yang Tuhan.

Justru sesudah lewat 3,5 bulan badan Markesot menjadi sangat subur, sehat dan bahkan agak gendut, wajahnya nyempluk, sampai Markesot ngeri sendiri kalau berkaca. Akhirnya Markesot berpuasa sampai badannya normal lagi seperti semua.

Cuma ada satu hal yang belum pernah diceritakan oleh Markesot, yakni selain kehendak Tuhan, apa yang ia lakukan sesudah vonis usia tinggal 3,5 bulan itu, sehingga batas waktunya tidak berlaku.

***
Yang jelas, sesudah diperiksa di Lab, Markesot bersilaturahmi dengan barang keluaran yang lewat knalpotnya itu. Berkenalan baik-baik, saling menanyakan identitas dan latar belakang masing-masing, dilandasi dengan assalamu`alaikum dan wa’alaikumussalam, bersumpah saling menyelamatkan dan menjaga keamanan satu sama lain.

“Apakah kamu disuruh Tuhan untuk memasuki badan saya?”, Markesot bertanya kepada Uranium.
Uranium menjawab, “Benar-benar saya minta maaf karena terlena. Sore hari menjelang Maghrib hari itu saya kebetulan agak ngantuk, dan tiba-tiba saja saya dilemparkan masuk ke dalam leher dan dada Sampeyan. Ketika saya sadar, beberapa onderdil tubuh Sampeyan sudah terlanjur rusak dan hampir hancur sama sekali. Saya merasa berdosa. Saya tidak tega melihat badan Sampeyan sampai sangat kurus, turun 26 kg. Wajah Sampeyan menjadi persis Jrangkong. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kan cuma benda”

“Oo gitu”, kata Markesot, “Siapa yang melemparkan Sampeyan memasuki tubuh saya?”

“Lha Sampeyan kan sudah tahu”, jawab Uranium, “kan Pasukan Sampeyan sudah menyelidiki sampai tuntas. Sampeyan sudah mencatat siapa inisiatornya, siapa korlapnya, berapa orang eksekutornya, kapan saya dilempar”

“Memang sudah jelas. Tapi kan saya lebih lega kalau Sampeyan sendiri yang menginformasikan”

“Nanti dulu. Saya perlu tahu Sampeyan marah atau tidak kepada saya? Sampeyan memaafkan saya atau tidak?”

“Lho Sampeyan kan tidak salah. Yang salah yang melemparkan Sampeyan”

“Tapi bagaimanapun saya adalah alat yang dipakai untuk membunuh Sampeyan”

“Ah, ndak masalah. Sampeyan dengan saya sama-sama korban”

“Sampeyan memaafkan mereka yang berusaha membunuh Sampeyan atau tidak?”

“Ah, ya pasti memaafkan. Jauh sebelum mereka membunuh saya, saya sudah menghalalkan di depan Tuhan. Sudah memaafkan sepenuh-penuhnya di dalam diri saya. Malah saya tidak tega kepada mereka. Mereka juga korban dari kerendahan akhlaqnya, kelemahan mentalnya, kekalahannya melawan nafsu, dan terutama ketidakpahaman pengetahuan mereka terhadap saya. Andaikan saya kaya, pasti mereka masing-masing akan saya kasih rumah dan mobil”

“Sebentar, sebentar”, Uranium menyela, “Saya heran kok badan Sampeyan bisa saya masuki? Kabar-kabarnya Sampeyan ini agak sedikit sakti dan punya pertahanan ilmu yang sukar ditembus”

“Ah, fitnah itu”, jawab Markesot, “Yang bilang saya sakti itu pasti orang yang sayang kepada saya. Maka dia menakut-nakuti orang supaya saya aman. Dan lagi saya tidak punya pertahanan apa-apa. Sehingga juga pernah mempertahankan diri, dari serangan apapun, fitnah, salah paham, ancaman, pembunuhan maupun apa saja”

https://www.caknun.com/2016/tadabbur-dubur-knalpot-akhlaq/ 
Koleksi  Yaddie Jossmart

Daur I No.060 Markesot Ahli Dubur

 

Daur-I • 60

Markesot Ahli Dubur

Yang dimaksud Markesot Ahli Dubur awalnya hanyalah pengetahuan tentang motor atau mobil.
Markesot bilang untuk mengetahui ‘kebenaran’ mesin, kita tidak perlu membuka kapnya, memeriksa seluruh peralatannya, apalagi membuka-buka detailnya, menganalisisnya, mengukur-ukurnya, dengan metode dan kriteria yang tepat atau belum tentu tepat dengan fakta mendasar kebenaran mesin itu.

Kebenaran mesin maksudnya adalah kualitas per onderdilnya, ketepatan penempatannya, presisi konstruksinya, kelancaran putarannya dan maksimalitas hasil kerjanya.

Kalau mendengar kata ‘kebenaran’ kata Markesot jangan lantas hanya berasosiasi ke Kitab Suci, ucapan Nabi, buku filsafat atau pelajaran-pelajaran Sekolah dan Pesantren. Sebutir kacang juga hadir dengan dan karena kebenarannya sebagai butir kacang. Seekor cacing bertempat tinggal di dalam kebenarannya sebagai cacing. Sezarrah debu tak bisa beterbangan atau hinggap di tembok kalau tak disertai oleh kebenaran hakiki dan syar’i jasadiyahnya sebagai debu.

Kebenaran bukan hanya berada di genggaman kaum Ilmuwan dan Ulama. Kebenaran adalah juga hakikat utama setiap makhluk hidup maupun benda-benda. Kebenaran tidak hanya melandasi bagaimana seorang kuli memanggul barang, tapi juga wajib adanya pada barang yang dipanggul, pada cara si kuli memanggul, pada cara kakinya berkuda-kuda dan melangkah, termasuk pada keputusan si kuli tentang di lokal lantai atau tanah sebelah mana ia memijakkan telapak kakinya dari langkah ke langkah.

***
Kebenaran dalam ilmu bukan monopoli ilmuwan. Kebenaran kandungan Agama bukan kuasa Ulama.
Kebenaran dalam negara tidak boleh didominasi oleh Pemerintah. Kebenaran dalam demokrasi bukan hanya milik para pakar demokrasi. Kebenaran yang dianugerahkan Allah untuk mengakari penciptaan semua makhluk adalah berada pada semua makhluk itu.

Bahwa hampir setiap penguasa punya kebiasaan untuk merebut kebenaran umum dipersempit menjadi kebenaran lokal-subyektif mereka, itu adalah sumber konflik antara para penguasa dengan Tuhan.

Dan Tuhan selalu membuka tangan lebar-lebar, mempersilakan makhluk-makhluknya siapa saja, di mana saja, kapan saja, untuk menyelenggarakan pertengkaran melawan Tuhan. “Barangsiapa mau setia kepada-Ku, setialah. Barangsiapa mau berkhianat kepada-Ku, berkhianatlah”.

Jadi bagaimana kebenaran mesin motor atau mobil? Menurut Markesot “lihat duburnya”. Maksudnya tentu knalpotnya. Lihat apa yang keluar dari dubur motor itu. Asap hitam, asap putih, disertai jenis suara atau geraman tertentu.

Kalau yang keluar dari dubur motor adalah tetesan-tetesan air, meskipun mungkin dibarengi sedikit asap, juga suara knalpot yang sopan dan rendah hati, maka itulah kebenaran mesin motor.

Sejak Markesot memandu Sapron menata kebenaran mesin motor dan mobil, dan menegas-negaskan keluaran di duburnya, orang-orang di sekelilingnya menjuluki Markesot sebagai Ahli Dubur.
***
Kalau Anda punya motor, menaikinya tiap hari untuk pulang pergi bekerja, mengantarkan anak ke sekolah, mengawal istri berbelanja, atau mungkin sebagian dari Anda memakai motor itu sesekali untuk pergi ke tempat yang Anda jaga jangan sampai diketahui oleh istri dan keluarga Anda, Markesot punya saran, meskipun tanpa menyetujui hal yang terakhir yang istri Anda tidak boleh tahu itu.

Saran Markesot adalah, “naiki dan nikmatilah motormu, kuasai bagaimana mengendalikannya, pahami sedikit pengetahuan standard tentang mati hidupnya mesin, membesarkan mengecilkan saluran bensin, nyetel stasioner, bongkar pasang roda dan beberapa kebisaan elementer. Tetapi Anda tidak perlu mencari tahu terlalu jauh”

“Tidak usah mencari pengetahuan tentang siapa saja nama orang-orang yang dulu bertugas memasang alat-alat sehingga menjadi motor Anda. Siapa penemu awal teknologi motor itu. Siapa pemegang hak patentnya. Namanya siapa, punya anak berapa, kelahirannya kapan, alamatnya di mana, di desa atau kota, RT RW RK berapa, hobinya mancing atau medsosan”

“Apalagi mempelajari sampai detail tentang bahan logam apa saja yang dipakai untuk mengkonstruksi motormu. Sasisnya logam apa, bempernya, roda dan jerujinya, kaca spionnya dibikin sendiri oleh pabrik motor atau pesanan dari pabrik kaca. Kalau ternyata pesanan, siapa pemilik pabrik kaca itu. Modal perusahannya dari warisan keluarga atau pinjam uang dari Bank. Si pemilik perusahaan itu punya penyakit apa, sudah berobat ke dokter mana, pengobatannya medis modern atau tradisional”

“Anda juga tidak perlu meneliti peta pasar motor internasional. Yang paling laku di Negara mana. Bagaimana sistem pembelian atau pengkreditan yang diselenggarakan. Ketika perusahaan motor itu mengeksport produk motor mereka ke sini, pakai nyogok pejabatnya atau tidak. Kalau nyogok, berapa. Nyogok sekali atau setiap kali memasok motor-motor. Yang disogok satu pejabat atau banyak, satu kantor atau banyak, satu pintu atau semua pintu. Bagaimana uang sogokan itu dituliskan di buku manajemen perusahaan, diletakkan di lajur CSR, zakat, infaq, shadaqah atau uang iseng atau apa klausul lainnya”

“Adapun pejabat yang disogok, diteliti bagaimana penerapan uang sogokan itu dalam keuangan keluarganya. Apakah istri dan anak-anaknya tahu. Apakah uang haram itu dipakai untuk beli beras dan lauk untuk dimakan sekeluarga, serta dibelikan susu untuk diminum bayinya. Apakah sebagian uang sogokan itu dipakai untuk menyumbang pembangunan Masjid atau Gereja atau Kuil. Atau mungkin menyumbang khitanan massal. Dipakai untuk biaya umroh, membelikan semen dan genteng untuk pembangunan gedung Pesantren. Atau untuk membeli sekian ratus mushaf Al-Qur`an dan dibagi-bagikan ke Madrasah Penghapalan Qur`an. Dan banyak kemungkinan lagi, yang memerlukan seribu halaman lagi untuk dituliskan”

***
Kata Markesot, penelitian dan pengetahuan yang berderet-deret dan bertumpuk-tumpuk di atas itu adalah wilayah kewajiban kaum ilmuwan dan para ahli Tafsir.

“Kalian dan kebanyakan orang tidak menanggung kewajiban semacam itu, dan tetap berhak memakai motor, menaikinya, mendayagunakan dan menikmatinya”

“Sebagian dari manusia dianugerahi oleh Tuhan kemampuan menggali ilmu sehingga mereka bekerja sebagai Ahli Analisis dan Interpretasi, alias Mufassir atau Ahli Tafsir. Kebanyakan manusia termasuk kita-kita ini mungkin memang tidak disuruh oleh Tuhan untuk menjadi Mufassir. Kita semua sekedar Mutadabbir. Orang yang ber-tadabbur. Orang yang men-tadabbur-I Al-Qur`an”

“Apakah mereka tidak men-tadabbur-i Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?’ Tuhan memfirmankan itu di surah Muhammad kekasih-Nya. Firman itu berupa pertanyaan, padahal kan tidak mungkin Tuhan bertanya. Bentuk pertanyaan itu mestinya semacam retorika atau strategi komunikasi untuk lebih menonjok ke hati dan pikiran pihak yang difirmani”

Kata Markesot, kalau tafsir, syaratnya adalah pencapaian kebenaran ilmu dan pengetahuan. Kalau tadabbur, kriterianya adalah bertambahnya kebaikan dan iman pada diri manusia.

“Kalau tadabbur, ayatnya jelas di Surah Muhammad”, kata Markesot, “Kalau tafsir, saya belum tahu mana ayatnya, saya cari belum ketemu…”

https://www.caknun.com/2016/markesot-ahli-dubur/
Koleksi Buku Yaddie Jossmart

Daur I No.059 Dilarang Memahami Markesot

 

 

Daur-I • 59

Dilarang Memahami Markesot

Sapron mengatakan kepada temannya bahwa pernyataan terbaik yang pernah diungkapkan oleh Markesot selama puluhan tahun ia bergaul dengannya adalah “Dilarang memahami Markesot”.

“Kok dilarang?”, temannya bertanya.

“Mungkin aslinya Cak Sot menganjurkan agar siapa saja tidak harus atau tidak perlu mencoba memaham-mahami omongan dia”

“Lha ya kok redaksinya berbunyi ‘dilarang’?”

“Supaya lebih mencolok perhatian. Kan orang zaman sekarang tidak bisa tersentuh oleh anjuran. Larangan saja banyak dilanggar kok”

“Apa haknya melarang-larang orang?”

“Kita ambil saja sisi positifnya: Cak Sot ingin melindungi semua orang agar jangan terjebak keruwetan pikiran gara-gara mencoba memahami penjelasan-penjelasannya”

“Kalau orang dilarang memahami, kenapa dia omong?”, temannya terus bertanya.
Sapron meladeni semampu-mampunya.

“Cak Sot pernah ngobrol sama saya. Kata dia omongan itu seperti tanaman. Masuknya kata, kalimat atau susunan makna dari mulut orang ke telinga dan otak atau roso kita itu bersifat seperti bermacam-macamnya biji tanaman”

“Ah, sok filosofis memang ya dia itu”, sela temannya.

“Kata Cak Sot orang hidup tidak bisa mengelak dari filsafat, meskipun tidak setiap orang perlu menjadi ahli filsafat. Narik becak saja harus ada landasan filsafatnya, yang tercermin pada pemahamannya kenapa dia narik becak, niatnya apa, manfaatnya apa. Filsafat itu kan akar ilmu. Kalau kita narik becak tanpa fisolofi hidup yang jelas, misalnya niat mensyukuri anugerah badan sehat atau mencari nikmatnya membanting tulang untuk menghidupi anak istri, kita jadi mudah lelah”

“Memang Cak Sot pernah mengalami narik becak?”

“Bukan di situ letak masalahnya. Tapi pada keputusan filosofis setiap orang ketika melakukan sesuatu. Terserah apa narik becak, menanam jagung, membengkeli motor, menjahit topi, membangun gedung, mendirikan pabrik, atau apapun, pangkal filosofinya itu yang akan ikut menentukan segala sesuatu yang akan terjadi pada dia, di luar takdir Tuhan”

“Lha maksudnya omongan itu sama dengan benih tanaman itu apa?”

“Kalau ada kata-kata atau kalimat-kalimat yang masuk ke otak kita, sifatnya berbeda-beda. Ada yang langsung bisa dinikmati. Ada yang seperti rumput, nunggu dua tiga hari baru tumbuh maknanya. Ada yang tiga empat bulan baru berbuah seperti jagung. Ada yang bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, seperti pohon jati, baru orang yang dimasuki kata-kata itu menemukan maknanya”

“Ya, paham kalau cuma itu. Tapi siapa yang mengurusi tumbuh tidaknya, bersemai tidaknya, atau berbuah tidaknya kalimat-kalimat itu menjadi makna hidup?”

“Saya juga pernah menanyakan itu kepada Cak Sot. Kata dia yang menentukan ya akal pikiran orang itu sendiri. Kalau dia membiasakan otaknya bekerja, ya mungkin akan dapat makna. Tapi kalau dia malas memutar otaknya, apalagi sampai akal pikirannya membeku, ya kata dan kalimat yang masuk itu akan hanya menjadi sampah”

“Kan tidak mungkin otak membeku”

“Ya mungkin tidak sampai beku, tapi nganggur. Kata anak sekarang, tidak loading. Mesin berpikirnya karatan”

“Tapi buktinya banyak orang pikirannya biasa-biasa saja bisa sukses hidupnya. Banyak orang tidak pinter bisa kaya. Banyak orang tidak intelektual tapi berperilaku baik, sementara yang pandai-pandai malah sibuk dengan kesombongannya sebagai orang pandai”

“Itu bab berikutnya”

“Apakah makna itu penting? Apakah pemahaman terhadap kehidupan itu perlu? Buktinya pemimpin-pemimpin kita makin lama makin tidak dipersyarati oleh matangnya pemahaman terhadap kehidupan.
Orang bikin Sekolahan dan Universitas, tapi di puncaknya mereka memilih pemimpin tertinggi dengan tidak mempedulikan hasil Sekolahan dan Universitas. Pemimpin tertinggi kita makin lama makin kurang berpendidikan, baik pendidikan sekolahan maupun pendidikan kehidupan yang di luar itu dan lebih luas dari ilmu persekolahan”

“Ternyata diam-diam kamu terpengaruh oleh omongan-omongan Markesot juga rupanya”

“Ndak dong. Tidak perlu seorang Markesot untuk menemukan kenyataan seperti itu. Kuli-kuli pasar saja tahu bahwa makin lama pemimpin-pemimpin itu makin tidak bermutu, makin tidak jelas ukuran untuk layak menjadi pemimpin”

“Cak Sot sangat banyak bicara tentang kepemimpinan. Tapi yang kita bicarakan sekarang kan justru dilarang memahami Markesot, terlebih-lebih lagi bab kepemimpinan”

“Kalau dilarang memahami ya mending tidak usah mendengarkan”

“Lho dengarkan saja, itu lebih menguntungkan”

“Ndak nalar kamu ini”

“Kita memang tidak perlu mendengarkan, apalagi memahami. Cukup mesin memori otak dan perasaan jiwamu saja yang mendengarkan, kita bisa tetap main gaple”

“Gimana itu…”

“Cak Sot pernah menasihati saya, ‘Kamu tidak perlu berpikir. Wakilkan kepada otakmu untuk berpikir, dan ucapkan di batinmu terima kasih kepada Tuhan yang telah selalu memperbantukan gelombang akal-Nya membantu otak kita untuk mengolah nilai-nilai”

“Aduh filsafat lagi”

“Maka puluhan tahun saya dengarkan terus apa saja yang nyerocos dari mulut Cak Sot. Dia pernah membisiki mungkin kalimat-kalimatnya bukan almari besi yang berisi emas berlian intan dan tumpukan uang. Mungkin ada di antara seribu kalimatnya, terdapat satu kata atau kalimat yang ternyata adalah kunci untuk membuka almari besi itu”

“Ya kalau ya. Kalau tidak?”

“Ya siapa tahu ya”

“Sangat spekulatif dong”

“Semua hal dalam hidup ini ya spekulasi, kecuali yang sudah terjadi. Padahal begitu terjadi, ia langsung menjadi masa silam. Yang kita hadapi setiap detik adalah sesuatu yang kita belum tahu, sehingga posisi kita selalu adalah spekulasi. Lha supaya spekulasi itu tidak membosankan dan membuat kita putus asa, kita wujudkan menjadi usaha terus-menerus, kerja keras dan doa kepada Tuhan”

“Doa ya kepada Tuhan, mosok kepada tukang patri”

“Lho jangan lupa ada lho sejumlah orang yang memperlakukan Cak Sot seperti Tuhan. Butuh warungnya laku datang ke Cak Sot, bukan berdoa kepada Tuhan”

“Ah, itu kan cuma minta urun doa, minta bantuan agar Cak Sot juga ikut mendoakan”

“Tapi nanti kalau warungnya tetap tidak laku Cak Sot yang disalahkan, karena mustahil dia berani menyalahkan Tuhan”

“Memang sih banyak orang datang ke Kiai atau Ulama, tapi muatan di dalam hatinya adalah ‘medukun’. Diam-diam memperlakukan Kiai itu sebagai dukun. Jadi konstruksi hubungannya berbeda dengan hubungan Kiai-Santri yang seharusnya. Kalau Kiai-Santri itu urusan pembelajaran hidup menuju dan dalam lingkup ridlo Tuhan. Kalau ‘medukun’ itu membawa hajat yang semestinya dibawa langsung ke Tuhan, tapi dibawa ke Kiai, karena menyimpulkan bahwa si Kiai itu orang dekatnya Tuhan”

“Jelas sekarang bahwa meskipun kamu tampaknya banyak membantah Cak Sot, tapi kamu diam-diam menjadi murid tekun-nya Markesot”

“Itu jelas fitnah. Saya tidak pernah paham kepada Markesot”

“Makanya tadi saya bilang ke kamu pernyataan ‘Dilarang Memahami Markesot’, supaya kamu merasa lebih aman. Untuk apa memahami Cak Sot. Dia cuma Ahli Dubur”.

https://www.caknun.com/2016/dilarang-memahami-markesot/

Koleksi Buku Yaddie Jossmart
 

Daur I No.058 Markesot Patah Hati

 

Daur-I • 58

Markesot Patah Hati

Rasa tidak tegaan yang terlalu cengeng dan bekal hidup berupa rasa bersalah di dalam jiwanya kepada Tuhan yang terlalu dimendalam-mendalamkan, membuat Markesot mengambil kuda-kuda rohani dan takaran sosial seolah-olah ia seorang Nabi, atau sekurang-kurangnya seorang Wali.

Tetapi sama sekali tidak dengan bekal ilmu, kekuatan mental, kualitas rohani dan kecerdasan sejarah sebagaimana layaknya Tuhan menganugerahkan kepada utusan-utusan-Nya. Markesot bahkan bukan orang istimewa yang memiliki keunggulan atas sesama orang awam pun. Markesot tidak punya keunggulan ilmu, pengetahuan, kepandaian atau kehebatan-kehebatan apapun.

Aslinya terus terang bahkan Markesot tidak cukup berpendidikan. Di Pesantren hanya satu-dua tahun, sekadar diajari alif ba  ta ditambah beberapa mahfudlat dan satu dua ayat dan hadits. Jangan sekali-sekali mempersoalkan apakah dia belajar Kitab Kuning, mengetahui khazanah ilmu-ilmu agama dari abad ke abad, atau apakah dia mengerti nahwu sharaf. Sebab jawabannya sangat terang benderang: sama sekali tidak.

Sesekali ada yang mempersoalkan kenapa dengan penguasaan yang sangat minimal atas hal-hal yang menyangkut Agama kok dia sering bicara tentang Kitab Suci, sirah Nabi, hadits Rasul dan yang sekitar-sekitar itu. Markesot menggerundal:

“Lha wong Nabi Muhammad saja diumum-umumkan sebagai Nabi annabi al-ummiyyi atau disebut buta huruf. Apalagi saya. Untungnya ke-ummiyyi-an Nabi itu melindungi beliau dari informasi yang artifisial, membentengi beliau dari pengaruh dan potensi peniruan atas ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya, serta memerdekakan beliau dari intervensi dan kontaminasi bahan-bahan yang mengepung beliau dari lalu lintas komunikasi dan informasi sejarah. Kebutahurufan beliau itu membuat semua yang terungkap dari diri beliau selalu otentik, orisinal, asli, sejati, baik yang berasal dari pengajaran dan wahyu Tuhan maupun yang diperkenankan Tuhan lahir dari ketajaman berpikir dan kecerdasan akal beliau”

***
Akan tetapi Markesot lupa bahwa tak akan ada seorang pun yang berpandangan bahwa yang ia ceritakan tentang Nabi Muhammad itu juga merupakan fenomena yang terjadi pada dia. Markesot bukanlah apa-apa, apalagi siapa-siapa.

Untung Markesot tidak berkata atau berlaku berlebihan, juga sama sekali tidak mengikat siapapun yang mendengarkannya, sehingga ia tidak sampai dituduh sebagai Nabi palsu. Ia tidak peduli dipercaya atau tak dipercaya. Ia mengungkapkan sesuatu tapi tidak berkeberatan orang yang mendengarkan menolaknya. Ia tidak mempengaruhi siapa-siapa. Tidak menghimpun orang untuk jadi anak buahnya. Ia hanya berteman dan sangat kuat mengikatkan tali persahabatan dan persaudaraan.

Dan yang paling menyelamatkan nasib sosial Markesot adalah karena seseram apapun ia bicara, di ujungnya hampir selalu ia meremehkan dan mentertawakan sendiri semua yang diungkapkannya. Markesot termasuk pakar dalam hal mengejek diri sendiri. Sangat pandai berkalakar, melucu dan merendahkan dirinya. Sepandai ia menjunjung setiap orang di sekitarnya, meskipun terkadang junjungan yang ia lakukan diam-diam mengandung ejekan dan kritisisme yang sangat menohok namun tak dirasakan oleh yang bersangkutan.

Markesot tidak menjadi masalah bagi siapapun, karena toh kebanyakan orang tidak pernah benar-benar mempercayainya. Terkadang Markesot tampak seperti seorang yang terdidik secara modern, tapi barangsiapa berpengalaman dalam pendidikan modern, tidak mungkin mempercayainya. Di saat lain Markesot kelihatan seperti seseorang yang berasal dari perguruan tradisional yang misterius dan penuh dimensi, tapi siapapun yang di dalam dirinya terdapat pengalaman dan pengetahuan tradisional, takkan tergiur oleh Markesot.

Sehingga ketika Markesot diketahui sedang bersiap-siap sangat serius untuk pergi mencari Kiai Sudrun, kebanyakan orang di sekitarnya juga tidak terpesona. Itu hanya semacam angin lalu dan isu enteng-entengan saja.

***
Padahal Markesot sendiri sebegitu dramatis dengan tekadnya mencari Kiai Sudrun, yang katanya demi keselamatan masa depan Bangsa Negeri Khatulistiwa.

“Aneh-aneh”, kata seorang sahabatnya Sapron yang kebetulan datang ke Patangpuluhan, “Apa itu Negeri Khatulistiwa. Khatulistiwa kan sabuk bumi. Tidak hanya melintasi kepulauan Nusantara, tapi mengelilingi seluruh bulatan bumi. Negeri Khatulistiwa mestinya ya meliputi seluruh jalur tengah bumi”

“Biar saja, biasa, Cak Sot selalu melebih-lebihkan atau menganeh-anehkan sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja”, sahut Sapron.

“Kenapa sih dia seperti enggan menyebut kata Indonesia?”

“Nggak ah. Kadang-kadang Cak Sot menyebut Indonesia juga kok”

“Apa karena nama Indonesia itu bukan bikinan bangsa yang bernama, atau dinamai, atau menamakan diri Indonesia?”

“Ah, Cak Sot tidak pernah bicara begitu-begitu. Mungkin karena sangat sedih karena dia patah hati kepada Indonesia. Tapi Cak Sot memang suka bikin istilah-istilah sendiri. Dia sering mengecam saya, ‘Pron, kamu ini saya kasih tahu kok tidak mengaku…”

“Lho…”

“Ndak tahu asal-usulnya. Kata mengaku itu maksudnya percaya”

“Ah, ndak lucu”

“Saat lain Cak Sot bilang ‘Saya ini cemburu pada stang piston mobil ini’. Yang dimaksud cemburu itu curiga”

“Ah, ndak mutu. Itu main-main tapi tidak lucu”

“Sampai sekarang saya belum mampu menafsirkan kenapa kata ‘percaya’ diganti ‘ngaku’ dan kata ‘curiga’ diganti ‘cemburu’… Mungkin ada hubungannya dengan ulang-alik kemunafikan yang parah antara denotasi dengan konotasi dalam pemahaman bahasa kita”

***
Kapan-kapan siapa saja yang kebetulan berjumpa dengan Sapron, tolong tanyakan apa maksudnya “ulang-alik kemunafikan yang parah antara denotasi dengan konotasi dalam pemahaman bahasa kita”, dijamin Sapron tidak paham. Paling-paling itu copy-paste dari mulut Markesot. Dan jangan lupa, Markesot sendiri kemungkinan besar juga tidak paham. Mulutnya bisa jadi asal mecothot saja.
Namun demikian Markesot sangat bersungguh-sungguh dengan niatnya mencari Kiai Sudrun. Ia menjadi sangat dramatis di dalam dirinya sendiri, meskipun sang Negeri Khatulistiwa tidak tergerak sehelai rumputnya pun oleh dramatika jiwa Markesot.

Markesot merasa hatinya kosong. Ia menemukan dirinya adalah jiwa yang ruangnya hampa. Tak berisi apa-apa kecuali dua hal. Yakni seonggok kesedihan rasa bersalah kepadaTuhan, pikiran yang penuh sesak oleh rumusan permasalahan Negeri Khatulistiwa. Serta pendaran-pendaran gelombang kerinduan yang perih dan penantian yang amat sunyi atas hadirnya kasih sayang dan pertolongan Tuhan terhadap Bangsa Negeri Khatulistiwa.

Padahal Bangsa yang menghuni Negeri Khatulistiwa tidak merasa ada apa-apa dan tiap siang dan malam tertawa-tawa saja.

Tapi Markesot bagaikan penyair remaja. Bajunya angin, celananya bumi, topinya langit, jaketnya alam semesta. Tak sehelai rambut pun di kepalanya yang ia potong, seakan-akan merupakan pertanda waktu hingga entah kapan nanti ia akan memergoki Kiai Sudrun di suatu titik silang antara ruang dan waktu.

Seolah-olah Kiai Sudrun itu siapa. Padahal Bangsa Negeri Khatulistiwa pun kebanyakan tak mengenalnya dan tak pernah mendengar namanya.

“Kiai Sudrun silakan seandainya Sampeyan bisa memadamkan listrik seluruh kota dengan satu tepukan tangan, saya akan tetap kejar. Tidak akan membuat saya mengurungkan tuntutan terhadap tanggung jawab Sampeyan, meskipun kabarnya Sampeyan bisa menggulingkan kereta api dengan meletakkan sepuntung rokok di relnya, atau mampu merontokkan bebuahan seluruh kebun dengan hentakan kakinya, serta bahkan pun sanggup membakar gedung-gedung besar dengan sorot mata, itu tak akan membatalkan gugatan bumi langit saya kepada Sampeyan…”

Ampun. Ampun. Siapa paham bicaranya Markesot itu.

https://www.caknun.com/2016/markesot-patah-hati/ 

Koleksi Buku Yaddie Jossmart

Daur I No.057 Tidak Tega Kepada Nabi Isa

 

 

Daur-I • 57

Tidak Tega Kepada Nabi Isa

Bagaimana mungkin Markesot bisa tahan untuk tidak mencari Kiai Sudrun. Hatinya sangat lemah. Ia tidak tega kepada Indonesia khususnya, dan kepada seluruh Bangsa Negeri Khatulistiwa umumnya.
Anak bungsu yang bernama Indonesia ini sedang sangat yatim seyatim-yatimnya. Hampir sama sekali tidak ada yang memperhatikannya, tidak ada yang sungguh-sungguh mengurusi sandang pangan papannya, tidak ada yang mengayomi hatinya, mendidik pikirannya dan melindungi jiwanya.

Untung saja Indonesia ini anak yang tangguh, berkat bakat liarnya yang luar biasa. Kekurangan-kekurangan dalam penghidupan tidak bisa membuat mereka merasa benar-benar kekurangan.

Ketidakcukupan bisa mereka cukup-cukupkan. Kalau ada uang seterbatas apapun di tangan mereka, mereka selalu bilang cukup. Kalau uangnya kurang dari itu mereka tetap saja bilang cukup. Dan kalau secara nalar uang di tangan mereka sebenarnya sama sekali tidak cukup, mereka bilang “bismillah dicukup-cukupkan”.

Andaikan terjadi kiamat kecil, tanah di bumi kering kerontang, angin merobohkan semua pepohonan, gempa meluluhlantakkan tempat-tempat tinggal mereka, air sembunyi ke dalam perut bumi, panas matahari membakar ubun-ubun dan seluruh jiwa mereka, percayalah mereka adalah kumpulan manusia yang tertangguh di seluruh permukaan Bumi. Dan bekal ketangguhan serta daya hidup mereka adalah “bismillah”.

Penderitaan sudah puluhan tahun geleng-geleng kepala karena tidak sanggup membuat mereka menderita. Kesengsaraan merasa miris untuk bergaul dengan mereka karena ujung-ujungnya si kesengsaraan ini ditertawakan oleh mereka. Mereka juara tersenyum dan tertawa dalam kontes peradaban di dunia.

Mereka diyatimkan seyatim-yatimnya oleh Lembaga Negara, oleh konstitusi dan sistem yang diberlakukan oleh segelintir orang, oleh managemen nasional yang menamakan dirinya pembangunan, perkembangan, kemajuan, move on. Bahkan dieksploitasi. Nama mereka dijadikan ayat legalisasi proyek-proyek kepentingan pribadi dan golongan. Mereka diperdaya oleh pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan. Dikibuli oleh informasi. Dijebak dalam komunikasi. Dibodohi pengetahuannya dan dikempongi akalnya.

Mereka memilih dan menggaji sejumlah orang diangkat jadi Pemerintah untuk menangani keadilan dan kemakmuran mereka, tetapi pada kenyataannya Pemerintah yang selalu mereka tolong. Mereka menambal setiap kebocoran yang ditimbulkan oleh Pemerintahnya. Mereka dan anak cucu mereka yang membayar utang-utang rakus ngawur yang diselenggarakan oleh Pemerintahnya.

Mereka memilih dan membayari Pemerintah yang tidak bekerja untuk membentang peluang seluas-luasnya bagi pekerjaan dan penyejahteraan mereka. Mereka harus kreatif mencari, menemukan dan membangun pekerjaan mereka sendiri, kemudian Pemerintah datang terus menerus untuk mengawasi mereka, menghisap pajak demi pajak di setiap langkah mereka.

Kalau mereka melakukan kesalahan, Pemerintahnya bertindak setegas Malaikat yang tidak pernah bersalah. Kalau Pemerintah yang salah, mereka harus memaklumi, memaafkan, meskipun tanpa Pemerintah mereka minta maaf.

Di segala bidang Pemerintah yang mereka pilih menjalankan ketidakpercayaan kepada rakyatnya, mengawasi usaha mereka, mengincar kemungkinan pemerasan dan penghisapan, mencurigai kreativitas mereka, mengontrol identitas dan perilaku mereka.

Pemerintah pilihan mereka sangat rajin menunjukkan tindakan-tindakan yang dasarnya adalah ketidakpercayaan kepada mereka, seolah-olah si Pemerintah itu pihak punya kualitas dan akhlak yang bisa dipercaya.

***
Akan tetapi ketangguhan mental dan kedahsyatan daya hidup mereka ternyata tidak mengurangi rasa tidak tega Markesot.

“Saya bukan pejuang kemakmuran hidup di dunia”, kata Markesot, “konsentrasi saya adalah berlangsung tidaknya keadilan. Keadilan adalah gelombang yang sanggup melampaui waktu, arus nilai ruh yang memancar dari dalam jiwa manusia. Manusia memasuki keabadian dengan tiket keadilan, sebagian dari kesejahteraan, tapi tidak dengan kemakmuran”

Maksudnya?

“Keadilan itu rohaniah utuh. Kesejahteraan ini separo jasad separo roh. Kalau kemakmuran itu materialisme, dan materialisme itu lebih pendek usianya dibanding umur manusia yang menikahinya…”

Banyak orang biasanya tidak mau terus mendengarkan penjelasan Markesot kalau sudah mulai ruwet. Markesot itu, kata sebagian orang, tampil seolah-olah seorang Sufi, tapi jangan dipercaya, sebab itu semata-mata karena ia miskin. Supaya tidak terlalu rendah diri oleh kemiskinannya, maka ia berlagak sufistik.

Kalau boleh berterus terang, Markesot menjelaskan tentang adil makmur, menatap kasunyatan hidup termasuk memotret fungsi peradaban para Rasul dan Nabi dari sisi dan jarak pandang yang berbeda, fungsi pertamanya adalah menghibur dirinya sendiri.

Ya dirinya sendiri yang miskin itu.

Tetapi kalau dia kita tabrak dengan pernyataan itu, Markesot akan lincah menjawab bahwa hiburan yang terbatas dan berhenti untuk diri sendiri adalah hiburan yang curang. Hiburan yang tidak fair, tidak rasional, tidak ilmiah. Alih-alih hiburan sejati.

“Kecuali”, Markesot memperkuat alasannya, “apabila manusia sanggup menciptakan dirinya sendiri, membangun fasilitas alam semesta sendiri, membeber bumi dengan kesuburan dan kekayaannya sendiri, kemudian menjalani hidup pun ia sendiri. Tapi kan tidak? Mana mungkin itu terjadi”.

***
Maka sebaiknya perluas kesabaran menghadapi jenis makhluk seperti Markesot ini. Anggaplah ia tlethong lembu yang menjijikkan, tapi siapa tahu ia bisa berguna untuk dijadikan rabuk bagi tanaman di kebun atau sawah kita.

Dengarkan saja. Siapa tahu ia termasuk yang Tuhan maksudkan di dalam rekomendasinya kepada ummat manusia, bahwa tanda orang yang mendapatkan hidayah adalah yang mendengarkan perkataan-perkataan, kemudian memilih yang terbaik untuk diwujudkan menjadi lelaku.

Hal-hal tentang Adil Makmur itu menghibur Markesot semata-mata karena membukakan harapan atas masa depan Negeri dan Bangsa Khatulistiwa. Kalau Tuhan tidak menggariskannya untuk turut membangkitkan dan mengalami kenikmatan realitas Adil Makmur Negeri Nusantara, sekurang-kurangnya yang Markesot mimpikan tentang itu sendiri sudah sangat indah.

Dan sesudah Markesot mempersembahkan jiwa dan kehidupannya untuk niat mulia bagi Negeri dan Bangsa Khatulistiwa, tercapai atau tidak, maka nikmatnya berniat mulia itu sah untuk menjadi hak pribadinya.

Markesot pernah berkata, “Saya tidak punya kekuatan dan ilmu untuk mengatasi masalah-masalah bangsa kalian, sebagaimana kalian juga tidak memiliki bekal-bekal jasmani rohani yang mencukupi untuk mengatasi masalah-masalah kalian”.

“Bahkan sekedar merumuskan komplikasi dan multi-lipatan masalah saja kalian semakin kelabakan. Lebih dari itu semakin lama kalian semakin tidak merasakan dan mengetahui bahwa sebenarnya kalian sedang dikungkung oleh masalah-masalah”

“Kalian tertawa-tawa dan hidup sangat tenang, bermain-main, bertamasya, berpesta, bersorak-sorak, seolah-olah kalian tidak sedang menghadapi sesuatu yang tingkat penghancurannya sangat tinggi dan serius.”

Sungguh tidak normal. Markesot yang hidupnya penuh kesedihan dengan pergi ke mana-mana dengan wajah yang penuh kesunyian, merasa tidak tega kepada Bangsa yang hidupnya penuh senyum dan tawa, yang tenang, optimis, dan tidak mencerminkan kecemasan apa-apa untuk hari ini maupun masa depannya.

Pernah ada yang mengajukan kepada Markesot pertanyaan yang agak mendalam, terutama apa maksudnya tidak tega kepada Bangsa Negeri Khatulistiwa. Markesot menjawab,
“Jangankan kepada Bangsamu, kepada Nabi Isa saja pun saya tidak tega. Tuhan sudah pasti tidak marah kepada beliau, tetapi jangan dipikir beliau sendiri tidak mendalam kesedihannya merasakan posisinya”.

“Lho aneh. Kan beliau itu Nabi, pasti Tuhan menganugerahinya kekuatan, keistimewaan dan perlindungan.”

“Ya tapi kan beliau manusia seperti kita semua. Tuhan menciptakan manusia untuk saling menyayangi dan tidak tega satu sama lain.”

https://www.caknun.com/2016/tidak-tega-kepada-nabi-isa/ 

Koleksi buku Yaddie Jossmart

Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?

Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?   Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?, Buku Cak Nun, Buku Emha, Judul : Daur VI – Siap...