Tampilkan postingan dengan label Daur Pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daur Pertama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Januari 2020

Daur I No.080 Semoga Yang Kaya Makin Kaya

 

Daur-I • 80

Semoga Yang Kaya Makin Kaya

Sebelum masuk gerbong dan berjumpa dengan rekan-rekannya komunitas filosof, Markesot tak sengaja sudah menyiapkan semacam doa.

“Ya Allah, jadikanlah orang-orang yang kaya menjadi semakin kaya, agar supaya kami semakin terjamin untuk mengais sisa-sisa makanan mereka”

“Ya Allah, lapangkanlah jalan bagi para koruptor untuk melaksanakan hajat korupsinya, agar meningkat kesembronoan mereka terhadap harta bendanya, sehingga semakin terbuka pula peluang bagi kami untuk mencopet, menjambret, menggangsir atau syukur merampok rumah mereka”

“Ya Allah, mudahkanlah jalan kami untuk mengurangi dosa-dosa para koruptor dan para perakus harta, dengan cara mengurangi kekayaan mereka meskipun hanya sedikit”

“Terimalah pengorbanan kami, catatlah pencurian kami sebagai dosa. Tapi juga terimalah dosa-dosa ini sebagai wujud  pengorbanan kami untuk memperjuangkan proses penyeimbangan distribusi rahmat-Mu, keseimbangan sosial ekonomi masyarakat, serta cicilan rahmatan lil’alamin”

***
Di tengah komunitas komunitas filosof di gerbong-gerbong, bawah jembatan, ‘Wesel 16’ atau manapun tempat yang memungkinkan mereka berteduh sementara atau bersarang permanen, ada yang memanggil Markesot Kiai, saat lain dipanggil Tumenggung atau Kopral.

Disebut Kiai karena Markesot paling sok mengait-ngaitkan apa-apa dengan Tuhan. Dipanggil Tumenggung karena Markesot yang paling bisa berhubungan dengan lingkungan sosial di luar komunitas mereka. Adapun Kopral, karena Markesot yang punya sambungan dengan titik-titik penting peta tokoh-tokoh lokal-regional-nasional yang masyarakat menyebutnya Preman,  Gali, Korak, dari level Gentho, Dauri, Buto Kempung, Buto Mati, Tikyan dan seterusnya.

Sebentar. Tadi disebut Wesel-16? Apa itu? Kereta api berjalan berdasar atau di atas atau mengikuti rel. Kapan rel digeser, kereta api ngikut.

“Yang berkuasa selalu yang bawah”, kata Markesot, “kereta api yang di atas, bisa anjlog bisa terguling atau berjalan lancar, tergantung relnya. Problemnya, rel yang sangat dahsyat kekuasaannya ini, diatur dan taat kepada pegawai Stasiun….”

Untuk memindahkan rel, digunakan Wesel yang digerakkan secara manual ataupun dengan menggunakan motor listrik, atau sekarang bisa pakai komputer digital. Jadi wesel itu bukan hanya kertas hijau-kelabu tanda pengiriman uang di jaman Mataram pasca-Majapahit. Wesel-16 artinya alat ke-16 di sebuah Stasiun untuk pengaturan rel.

***
Tapi apa hubungannya dengan komunitas kaum filosof? Yang berkaitan dengan komunitas filosof bukan kereta apinya, juga bukan relnya, apalagi dengan weselnya. Hanya gerbong rusaknya.

Para filosof tidak ada urusan atau kepentingan terhadap Perusahaan Kereta Api. Pertama karena perusahaan tidak butuh orang, yang dibutuhkan adalah uang sebanyak-banyaknya. Kedua, kereta api tidak mengaitkan diri dengan orang, yang ia butuhkan adalah penumpang. Itu pun tidak harus benar-benar penumpang, yang penting siapapun dan apapun saja yang membeli tiketnya.

Bahkan kalau ada Jin membayar untuk memborong satu gerbong, di-support Setan membeli 200 tiket, tapi Jin dan Setan tidak naik kereta itu dan membiarkannya kosong: perusahaan kereta api tidak berkeberatan apa-apa. Malahan itu lebih baik dan aman bagi petugas kereta api maupun bagi para penumpang, daripada mereka duduk segerbong dengan anggota-anggota Jin dan Setan.

Jadi Wesel-16 itu sekadar dipakai saja sebagai sebutan untuk memudahkan siapapun menemukan lokasi Las Vegas di dekat Wesel-16 itu.

Lho kok Las Vegas? Di area sebelah Wesel-16 itu ada tempat perjudian, pelacuran, minuman keras, mungkin juga narkoba, bertaburan lelaki perempuan banci berkomunitas pada jam-jam tertentu, melaksanakan hajat-hajat mereka, pada tingkat ekonomi terendah.

Ada gerumbul dedaunan yang sangat rimbun di beberapa sudut. Lelaki perempuan banci melaksanakan transaksinya di balik gerumbul daun itu. Kalau ada siapapun yang disuruh orang untuk menjadi Presiden, Gubernur atau Walikota strip Bupati, pertama-tama yang harus ia datangi adalah Wesel-16. Itulah usus terdalam kehidupan rakyatnya.

***
Tetapi bukan Wesel-16 area yang didatangi Markesot malam itu. Setelah menyusuri rel sekian puluh kilometer, ia bermaksud menginap di Rumah Singgah kaum filosof, yakni gerbong rongsokan, yang mungkin di dalamnya bisa ia jumpai sejumlah kawan lamanya, atau mungkin banyak juga pendatang-pendatang baru yang Markesot belum mengenalnya.

Sejak lama sejumlah filosof meminta kepada Markesot untuk diajari nyluring. Sebagaimana dimafhumi bersama, menjadi Maling Cluring adalah cita-cita paling ideal bagi kalangan tertentu di komunitas filosof.

Keterampilan mencopet, umpamanya, sudah merupakan tingkat kecanggihan yang umum jangan meremehkan. Pada seorang pencopet, keprigelan jari-jari dan tangan, peletakan badan di tengah keramaian dan keluwesan seluruh batang tangan, kejelian terhadap posisi dan momentum, pendayagunaan kecepatan dan kehalusan, berani tanding melawan para pesulap level tertentu.

Tetapi jurus copet masih tergolong rendah dalam konstelasi ilmu lelaku para filosof. Kalau jambret adalah gabungan antara kekurang-terampilan mencopet dicampur keberanian, mental nekad dan sedikit kebodohan.

Meskipun demikian jangan abaikan ada pencopet kaliber internasional. Tidak sekedar korban beli tiket naik kereta api kemudian menggerayangi koper-koper dan tas-tas tatkala para penumpang tidur lelap. Atau sewa pakaian necis masuk Mal dan gedung-gedung fasilitas umum melaksanakan sejumlah ilmu sulap memindahkan uang atau perhiasan atau barang dari suatu koordinat ruang ke koordinat lainnya.

***

Pencopet internasional punya modal besar. Ke kantor Imigrasi bikin passport. Membawa map berkas-berkas identitas ke Kedutaan Negara yang dimaksud untuk mendapatkan visa. Beli tiket pesawat ulang-alik. Selama sekian belas jam di pesawat menerapkan “innalladzina amanu wa hajaru wa jahadu”: sesungguhnya mereka yang beriman, berhijrah dan berjuang….

Percaya bahwa sangu dan barang para pelancong lintas negara pasti lebih banyak dibanding penumpang kereta, bis atau kapal antar pulau. Berhijrah, bergerak pindah-pindah wilayah, tidak hanya dari Pasar Senen ke Pasar Beringhardjo, dari Stasiun Tugu ke Stasiun Gubeng, tapi dari Jakarta ke Sydney atau Abu Dhabi atau Seoul atau minimal Hongkong ulang-alik.

Tetapi pencopet internasional semacam itu bukan minat umum komunitas filosof. Mereka eksklusif. Segmen sosiologisnya tertentu. Berasal dari sebuah wilayah Kecamatan di sebuah pulau. Tradisi budaya dan pendidikan sejak kanak-kanaknya mempersiapkan itu semua. Dan itu turun temurun.
Maling Cluring, yang dimintakan aji-ajinya kepada Markesot, lebih sederhana dan pragmatis.

Sasarannya adalah rumah, kantor atau bangunan-bangunan. Maling kelas rendah meng-gangsir, melubangi bagian bawah dari tembok rumah, berperang melawan cor-coran batu semen. Kelas di atasnya mendobrak pintu atau menjebol jendela. Kelas lebih canggih menggunakan keterampilan olah batang-batang besi kecil untuk membuka gembok dan rumah kunci.

Maling Cluring cukup menggunakan cahaya untuk memasuki rumah atau ruangan berdinding. Asal ada cahaya melintas menyambung bagian dalam dan bagian luar, bisa di-cluring-i. Ada yang kemampuannya terbatas, cahaya harus berasal dari dalam keluar, baru ia bisa masuk. Semester di atasnya bisa cahaya dari luar. Atau asalkan ada cahaya.

Markesot belum memenuhi permintaan Ilmu Cluring. Ia masih selalu menjawab: “Harus lulus dulu satu ilmu, baru mungkin mempelajari cluring”

“Ilmu apa itu?”, mereka bertanya.

“Ilmu tidak mencuri”, jawab Markesot.

https://www.caknun.com/2016/semoga-yang-kaya-makin-kaya/ 
Koleksi Buku Yaddie Jossmart
 


Daur I No.079 Para Filosof di Rongsokan Gerbong

 

Daur-I • 79

Para Filosof di Rongsokan Gerbong

Menjelang tengah malam Markesot berhenti di sebuah stasiun dan kelihatannya akan bermalam di situ.

Di sejumlah stasiun kereta api ada gerbong-gerbong lama yang terbengkalai. Dipakai sudah tidak layak, dibuang tidak ada tong sampah yang cukup untuk memuat gerbong kereta. Gerbong rongsok itu oleh sejumlah orang yang mengerti ilmu hidup biasanya dijadikan bermanfaat. Misalnya untuk tempat tinggal, untuk sementara waktu atau seterusnya kalau mungkin.

Di dalam gerbong sampah itu mereka berteduh dari panas dan hujan. Untuk tidur jika malam. Atau untuk ngrumpi sesekali dengan sesama handai taulannya untuk saling mengungkapkan filosofi-filosofi kehidupan, kebijaksanaan, kesabaran dan ketabahan.

Di antara para filosof itu ada yang bujangan, ada yang bersama keluarganya. Tujuan mereka berkomunitas di dalam gerbong rongsok itu antara lain untuk menjaga jangan sampai ada barang atau sesuatu yang tidak bermanfaat. Secara khusus mereka juga melaksanakan suatu wisdom, misalnya, melatih dengan lelaku total untuk ikhlas tidur di tempat yang semua manusia tidak mau tidur padanya.

Mereka juga memakan makanan yang bisa dikatakan semua orang tak ada yang mau memakannya, dan itulah sebabnya mereka membuangnya karena dipahami sebagai sisa-sisa makanan. Mereka pun memakai pakaian yang hampir bisa dipastikan semua orang tak mau memakainya. Demikian pula dalam hal-hal lainnya.

***
Komunitas filosof itu merasa kasihan kepada kebanyakan orang yang hidupnya sangat ringkih dan penuh ketergantungan. Hampir semua orang harus makan makanan sehat agar tidak sakit, sementara para filosof itu hampir tidak pernah sakit meskipun memakan makanan yang dibuang orang ke tong-tong sampah, yang sudah tidak segar, sudah basi dan sama sekali tidak enak rasanya.

Para filosof heran kenapa orang baru bisa makan kalau makanannya enak dan segar. Kenapa penduduk bumi baru memakai pakaian kalau pakaiannya bagus, bersih, halus dan necis. Kenapa makhluk di dunia ini baru bisa tenang hatinya kalau sudah punya rumah sendiri, ruangan tertutup sendiri, ranjang tidur sendiri, kamar mandi sendiri. Kalau mereka masih menyewa, mereka merasa belum sukses hidupnya, bahkan merasa belum ‘jadi orang’.

Komunitas filosof itu tidak bisa memahami kenapa untuk menjadi orang, makhluk-makhluk Tuhan mempersyaratkan bahan-bahannya adalah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, bahkan kekayaan dan kemegahan. Padahal semua itu tidak terlalu ada kaitannya dengan orang.

Bahkan kabarnya dalam rangka memperjuangkan diri menjadi orang, para penghuni bumi ini merasa penting untuk menyakiti orang, membohongi orang, menganiaya orang, menindas orang, mencuri milik orang, menyingkirkan orang, sampai-sampai juga rela menyelenggarakan peperangan di antara sesama orang, membunuh berjuta-juta orang, dan semua itu tujuannya adalah agar menjadi orang.

***
Demikianlah di dalam gerbong-gerbong buangan orang itu para filosof biasanya melepas lelah di bawah atap gerbong itu sesudah mencari sisa-sisa makanan sekitar restoran, mal, supermarket, atau rumah orang-orang kaya.

Terus terang, kehidupan di gerbong-gerbong semacam itu adalah bagian sangat penting dari kehidupan Markesot berpuluh-puluh tahun. Tapi tidak perlu lantas berpikir atau apalagi menuduh sesungguhnya Markesot adalah seorang gelandangan. Apalagi hanyalah seorang gelandang.

Orang hidup mungkin cuma sekali, dan sangat pendek waktunya, sehingga tidak perlu diluangkan untuk mendengar jawaban Markesot terhadap tuduhan bahwa ia gelandangan:

“Memang cita-cita saya adalah menjadi gelandangan. Kalian keberatan? Dan karena keberatan itu maka kalian selalu mengganggu-ganggu saya, menanyakan ini-itu tak ada habisnya, minta tolong sana-sini tak ada ujungnya, tak ada batas jenis urusannya, tak ada kemenentuan ragam urusannya? Sehingga saya selalu harus mengalah, tidak pernah benar-benar punya waktu untuk menikmati cita-cita saya”

Pastilah pandangan masyarakat umum sukar meletakkan pola pikir hidup Markesot itu dalam peta nilai yang mereka pakai secara umum sehari-hari. Dalam konsep sosial, filsafat kebudayaan atau tata nilai peradaban apapun sejak Nabi Adam hingga sekarang, tidak pernah ada fenomena bahwa seorang manusia hidup di bumi bercita-cita menjadi gelandangan.

Cita-cita itu ya menjadi Kepala Gudang, sopir bis, teknisi mesin kapal, kasir Bank, semacam-semacam itu. Atau agak meningkat sedikit: jadi Camat, insinyur, dokter, ustadz, dukun, tabib, yang begitu-begitu. Atau minimal bercita-cita ingin menjadi Presiden, Menteri, Ketua Parlemen, Raja atau Ratu, orang terkaya se-Negara, syukur sedunia.

***
Bercita-cita itu yang agak pantaslah. Cita-cita kok jadi gelandangan. Mestinya gantungkan cita-citamu setinggi langit, ini Markesot kok malah bercita-cita menjadi gelandangan, tidur di gerbong-gerbong rongsokan.

Tapi bagi siapa saja yang sedikit mengenal latar belakang riwayat Markesot, hal itu agak sedikit bisa dipahami. Kira-kira yang dijadikan model oleh Markesot bab gelandangan itu kalau tidak Mbah Dul ya Gus Rur. Mereka berdua ini memang gelandangan kaliber besar.

Mbah Dul ini orang cukup kaya, putra-putrinya beres sekolah dan gambaran masa depannya. Ketika anak-anaknya sudah berkeluarga semua dan mapan hidupnya, Mbah Dul menjual rumahnya, kemudian dibelikan tanah dan ia dirikan Masjid. Setelah Masjid berdiri, beres kepengurusannya, Mbah Dul menghilang jadi gelandangan.

Benar-benar gelandangan. Benar-benar tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kumuh. Kotor. Tidak pernah mandi. Jalan kaki terus siang malam entah ke mana saja. Kalau malam cari tempat di pojok luar pasar atau sudut bangunan untuk menggeletak.

Makan minum cari di tempat sampah atau buangan makanan lainnya. Tidak pernah minta-minta atau mengemis, kecuali sesekali kepada orang yang ia pilih dengan pertimbangan yang ia sendiri yang tahu. Awal-awalnya kepalanya dikerudungi, mungkin khawatir dikenal orang. Tapi lama-lama kerudung ia lepas, karena toh wajahnya sudah menghitam, rambutnya gimbal dan seluruh penampilannya sudah bukan orang lagi.

Kalau melihat hidupnya, sukar membayangkan Mbah Dul pernah melakukan shalat. Sayang seribu kali sayang di masa hidup Mbah Dul belum ada gerakan Takfiry, arus golongan orang beragama yang tugasnya khusus menjadi Dewan Juri iman orang lain, memberi semacam sertifikat bahwa orang itu kafir, musyrik, sesat, diadzab Tuhan dan masuk neraka.

Andaikan ketika itu sudah ada arus global Takfiry, insyaallah ramainya kebencian dan pertengkaran di antara Kaum Muslimin bisa dimulai sejak dulu, tidak perlu menunggu lama sampai era saat ini.
Memang semua itu indah dan menggiurkan. Tidak heran kalau Markesot terpesona untuk mengikuti jejak Mbah Dul.

Tapi mengikuti jejak yang mana? Berkeluarga dan mencukupi putra-putrinya sampai mapan berkeluarga? Tidak. Membangun Masjid? Tidak. Yang ditiru Markesot hanya gelandangannya.

***
Gus Rur? Beliau ini punya Pesantren. Menata segala sesuatunya, menyiapkan bangunan-bangunan untuk mengaji dan tempat tinggal para santri. Ustadz-ustadznya pun disiapkan infrastruktur penghidupannya.

Pembagian tugas dan manajemen pembelajaran sudah diatur sedemikian rupa, sehingga Gus Rur merasa aman, kemudian menghilang, pergi jalan kaki tanpa membawa tas atau bekal apapun. Hanya pakaian yang dipakainya. Selebihnya, berideologi seperti ayam kampung, kucing liar atau burung-burung yang merdeka.

Lha Markesot nggelandang tapi Pesantrennya mana?

Koleksi Buku Yaddies Jossmart

Daur I No.078 Belajar Hidup Sesudah Mati

 

Daur-I • 78

Belajar Hidup Sesudah Mati

Kemungkinan besar makhluk macam Markesot ini tergolong yang dimaksud Tuhan di dalam pernyataan dan informasi-Nya: “Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri, dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya”

Kemudian, ”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupannya di dunia, bahkan lebih loba lagi dibanding orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”

Markesot melangkahkan kaki di tengah rel. Kalau dilihatnya di depan ada orang, ia segera menundukkan kepalanya. Pura-pura sibuk mikir dengan ekspresi wajah yang seolah sedang merenung. Ia berharap orang tidak menyapanya karena itu.

Kalau ada kereta akan lewat, baik yang tampak jauh di depan, atau yang terasa getarannya dari arah belakang, Markesot menepi. Kalau ada sungai atau semacam lembah kecil, syukur ada rerimbunan pohon, ia bersembunyi. Ia khawatir di antara penumpang kereta api ada alumnus Patangpuluhan yang tak sengaja melihatnya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa Markesot sudah semakin sempurna sakit gilanya.
***

Markesot agak bingung memahami pemberitahuan dan teguran Tuhan: “dan sesungguhnya engkau telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah engkau tidak mengambil pelajaran untuk penciptaan yang kedua?”

Ini maksud Tuhan berlakunya kapan? Kalau nasihat pembelajaran itu untuk dilaksanakan dalam kehidupan di dunia yang sekarang, “penciptaan yang pertama” itu maksudnya kapan? Dalam kehidupan yang sebelumnya?

Kalau maksudnya adalah pada kehidupan yang sekarang, kenapa pakai kata-kata “penciptaan yang pertama”? Kenapa bukan, misalnya, “penciptaan di dunia”?

Kalau ada penciptaan yang pertama, apakah itu berarti ada penciptaan yang kedua, ketiga, keseribu-lima-ratus dan yang berikut-berikutnya? Kalau Tuhan berkehendak ada penciptaan yang pertama, Ia berhak mutlak pula untuk menyelenggarakan penciptaan hingga ke berapa pun.

Sebagaimana informasi dari Rasulullah Saw bahwa tadi malam Beliau diajak Malaikat Jibril untuk berisra`mi’raj. Sekarang kita tak sengaja menyimpulkan Rasulullah Saw berisra`mi`raj satu kali. Padahal tidak ada bagian dari informasi itu bahwa beliau berisra`mi`raj hanya satu kali. Andaikan ternyata beliau naik hingga langit tujuh seminggu dua kali, apa kita marah dan membantah?

Ataukah “penciptaan yang pertama” itu maksudnya di dunia, dan yang kedua kehidupan di akhirat?

Tetapi kalau manusia sudah menjalani akhirat di sorga ataupun neraka, apa perlunya pembelajaran dari dunia “penciptaan yang pertama”? Di sorga kita tidak berjuang dan belajar lagi, tinggal menikmati. Di neraka apalagi. Mustahil di neraka ada klub pembelajaran bersama.

Jadi, belajar hidup sesudah mati yang ditegurkan oleh Tuhan itu maksudnya kapan? Kalau di akhirat kan tidak mungkin.
***

Tuhan langsung yang menginformasikan: “Mereka tidak akan merasakan mati di dalam sorga kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka”

Di sorga tidak ada kematian, jelas. Kholidina fiha abada. Kekal abadi. Meskipun kekal abadinya makhluk tetaplah relatif dan tergantung keputusan Tuhan yang mutlak kekal abadi-Nya.

“Kecuali mati di dunia”? Apakah “di dunia” itu berarti hanya di bumi sini dan hanya sekali, yang sedang kita alami? Pelajarilah betapa besar dan agungnya alam semesta, kemudian tertawakanlah betapa tak seperseribu-debu-pun bumi kita. Perhatikanlah tak terjangkaunya ruang dan waktu oleh pengetahuan manusia, kemudian pikirkanlah bahwa Tuhan hanya mendayagunakan seperseribu debu yang bernama bumi, dan mengambil durasi kehidupan makhluk yang seper-tak-terhitung dari bagai tak berujungnya waktu.

Kita manusia di bumi adalah makhluk besar kepala, merasa paling hebat dan paling pandai. Dan siapakah di antara manusia yang menjawab pertanyaan awal tadi: “dan sesungguhnya engkau telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah engkau tidak mengambil pelajaran untuk penciptaan yang kedua?” — kapan dan di mana berlakunya?

Markesot nekat bermanja kepada Tuhan, ia bergumam : “Matikanlah hamba sekian kali….”

Dan itu agak menjebak, karena di sebaliknya ada kalimat yang tidak Markesot ucapkan:

“Hidupkanlah hamba sekian kali”.

Karena bagaimana mungkin ada kematian bisa dilaksanakan jika tak didahului oleh kehidupan.

“Terserah ketentuan-Mu ya Tuhan, berapa kali Engkau matikan aku sesudah sekian kali Engkau hidupkan. Terserah Engkau kau hidupkan aku sebagai siapa atau apa, di mana atau tak di manapun, tetap di bumi ini atau di salah satu satu triliunan bumi yang lain. Terserah Engkau pula kapan hal itu Engkau laksanakan. Langsung boleh, agak ditunda aku akan bersabar, belakangan pun aku bersedia”

***
Belum diteliti apakah sejak Nabi Adam dulu sudah pernah ada manusia yang mengemukakan hal semacam itu kepada Tuhan.

Sebenarnya perlu dicari maksud baiknya Markesot. Mungkin karena selama ia menjalani hidup di dunia yang sekarang ini ia merasa kurang berguna bagi sesamanya, sehingga ia melamar kepada Tuhan “give me the second chance”, beri hamba kesempatan kedua.

Kalau agak muluk-muluk, mungkin Markesot menyimpulkan bahwa kompleksitas kerusakan yang dibangun oleh ummat manusia sudah sampai pada tahap di mana Markesot tidak mungkin mampu turut mengatasinya. Juga ia sudah semakin berumur. Tak ada waktu lagi untuk perjuangan dengan multisolusi peradaban yang kelihatannya memerlukan hidup tiga atau empat kali.

Jadi tidak mudah juga untuk memastikan bahwa gagasan Markesot itu salah seratus persen. Kalau itu gila dan terlalu liar, lebih mendekati kebenaran. Lha Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas, “Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal tadinya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, dan akhirnya kepada-Nya kamu dikembalikan?”

Kalau mati adalah ujungnya hidup, kalimat “padahal tadinya kamu mati” itu maksudnya bagaimana.

Kalau “tadinya kamu tidak ada”, agak mudah dipahami.

Lantas “…lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan, dan dihidupkan-Nya kembali…” — itu hitungan angka padat — hidup, mati, hidup, mati — ataukah ia bisa berarti tanpa batas hitungan: hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati…baru mencapai final dan kita dilantik menjadi juara di sorga, atau menjadi makhluk kalah melawan dirinya sendiri di neraka.

Dan sepertinya Markesot belum begitu cocok untuk disebut sebagai  seorang musyrik yang berkata, sebagaimana ditegaskan Allah di dalam QurĂ n: “Tidak ada kematian selain kematian di dunia, dan kami sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”

Dia bahkan agak rakus kebangkitan.

https://www.caknun.com/2016/belajar-hidup-sesudah-mati/ 
Koleksi Buku Yaddie Jossmart
 

Daur I No.077 Hidup Mati Berulang Kali

 

 Daur-I • 77

Hidup Mati Berulang Kali

“Aku berlindung kepada-Mu ya Allah, dari segala ingatan tentang rumah negaraku, beserta para pembantu rumahtangga yang kami bayar sangat mahal untuk merusak rumah kami, menaruh beban sangat berat ke hati kami, merancang pembangunan pecahnya kepala kami, menjual murah kekayaan kami dan menggadaikan martabat kebangsaan kami….”

Markesot bergumam kepada dirinya sendiri, yang ia harapkan diterima oleh Tuhan sebagai doa.
Ternyata Markesot sedang berjalan kaki menyusuri rel kereta api. Lurus, jauh, seakan berujung di cakrawala.Terutama sepanjang malam hari. Pada siang hari, ia terus berjalan hanya jika kiri kanannya sepi.

Sangat jelas: jalan kaki menyusuri rel, dengan bunyi gerundalan dan doa seperti itu, apa lagi kalau bukan keputusan orang bingung, frustrasi.

Atau putus asa. Atau gila.

Kemungkinan besar Markesot sudah angkat tangan terhadap beban-beban permasalahan bangsa yang semakin kompleks, ruwet, silang sengkarut. Jangankan menyusun pikiran untuk menyelesaikannya.
Sekadar menatapnya saja sudah pusing kepala. Apalagi merumuskannya, bisa retak kepalanya.
Bahkan hanya coba menggambarnya saja, tidak ketemu garisnya, jarak ruangnya, lekuk-liku lipatan-lipatannya, ketidakteraturan kumpulan titik-titiknya.

***
Tapi sudahlah. Keputusan yang paling masuk akal adalah melarikan diri entah berapa lama. Pergi, jalan kaki, menghindar dari wajah manusia dan setiap indikator negara, politik, kebudayaan, terutama pemerintah. Ngakunya mencari Kiai Sudrun untuk menumpahkan curahan hati.

“Wahai Tuhan yang Maha Dermawan, kira-kira berapa lama lagi jatah waktu hamba untuk mengalami dan memprihatini komplikasi masalah-masalah ini. Sampai kapan hamba akan menanti perintah-Mu untuk turut mengatasi semua itu sebagaimana beberapa kali di waktu-waktu yang lalu. Sedangkan hamba bukanlah siapa-siapa yang layak mendapatkan perintah-Mu. Bahkan pun hamba bukan siapa-siapa di tengah manusia”

“Kalau sampai habis jatah waktu hamba, dan belum apapun yang hamba lakukan untuk menolong keadaan ini, masih mungkinkah Engkau buka dan izinkan rentang waktu berikutnya dan berikutnya lagi? Sebab di dalam hitungan hamba, kegelapan yang sedang mengepung bangsa ini memerlukan dua atau tiga kali hidupku”

***
“Tidak terlalu menjadi masalah bagi hamba kenyataan bahwa ummat manusia dan bangsa tidak memiliki pemimpin. Sudah hamba kuatkan hati menyaksikan tanaman-tanaman tak bisa tumbuh karena tanahnya makin dirasuki narkotika dan airnya beracun. Melihat pohon-pohon kerdil karena dikuasai oleh benalu. Menatap kebun-kebun nangka yang kini ditanami cempedak. Memandang kambing dibedaki, dikostumi dengan celana, baju, jas, dasi dan sepatu, kemudian dijunjung dinaikkan panggung, dan diperkenalkan sebagai Satrio Piningit”

“Hamba tangguh-tangguhkan hati untuk berada di tengah lalu lalang manusia hidup yang kehilangan proporsi, ketepatan, empan papan, pepantes, logika, ekspertasi, kematangan, kedewasaan. Hamba kuat-kuatkan bergaul dengan manusia-manusia yang tinggal jasadnya, tulang dagingnya, aksesori hedonisnya, ditambah sedikit perasaan yang kekeringan nurani dan akal yang hampir lenyap nalarnya”

“Yang hamba sedang berjuang untuk kuat memanggulnya adalah kenyataan bahwa kebanyakan manusia sudah hampir total kehilangan pemahaman tentang Pemimpin, Kepemimpinan, Kasepuhan, Imam, Begawan, Punakawan, Panembahan, Ahlul-ahwal, Pawang, dan apa saja yang maqamat-nya menjaga keselamatan ummat manusia”

“Karena kebodohan hasil keterperdayaan massal, mereka memilih, mengangkat, menjunjung dan mati-matian membela pendusta, penindas, perampok dan penipu, yang mereka sangka pemimpin. Hamba tidak tega melihat wajah-wajah mereka, hancur hati hamba membayangkan putra-putri mereka, anak cucu mereka, generasi demi generasi berikutnya, akan mengalami hidup yang bagaimana sesudahnya. Apakah jurang akan makin dalam, kubangan hidup makin busuk, kegelapan makin kelam, sampai akhirnya warna tinggal hitam”

***
Begitulah. Kalau orang menyepi, ancaman pertama yang muncul adalah kecengengan. Kalau orang menyelinap ke jalanan-jalanan yang sunyi, dan yang ia panggul adalah kesedihan, jodoh yang mendatanginya adalah kecengengan. Mungkin yang terasa seperti kekhusyukan dan kedalaman, tapi sebenarnya ya kecengengan.

Tapi ke mana pula tujuan Markesot pergi?

Kalau Markesot sudah tahu ke mana, ia tak perlu melangkahkan kakinya. Ia berjalan justru untuk mencari tahu akan ke mana.

Kan mencari Kiai Sudrun? Itu jelas. Tapi siapa bisa menunjukkan Sudrun ada di mana? Ia tidak bisa dicari di timur, barat, selatan ataupun utara. Juga tak bisa dikejar ke perut bumi atau di tembusan-tembusan angkasa. Bukan itu ukurannya.

Andaikan saat ini jelas di mana Kiai Sudrun berada, jangan dipikir satu menit sesudahnya ia tetap berada di sana. Apalagi Kiai Sudrun itu jika berada di suatu tempat, ia bisa ada di tempat lain pula pada saat yang sama. Jangan marah, lebih baik meneruskan belajar fisika, ilmu gulungan ruang dan lipatan waktu, serta ketidakterbatasan semesta di mata benda dan otak manusia.

Markesot pun tak cemas meski belum jelas tujuannya.

Ah, tapi sebenarnya sangat terang benderang yang sedang dilakukannya: yakni melangkahkan kakinya. Terus melangkahkan kakinya, sampai pada suatu titik silang ruang dan waktu di mana ia akan menghentikan langkahnya.

Manusia selalu sok tahu tentang tujuan hidupnya. Padahal alamat tujuan itu sudah tertera sangat gamblang di kandungan hati dan peta kesadaran pikirannya. Yang perlu dilakukan hanyalah terus melangkahkan kakinya.
***

Yang tidak lazim adalah doa Markesot. “…masih mungkinkah Engkau buka dan izinkan rentang waktu berikutnya dan berikutnya lagi…?”

Apa maksudnya ini? Nanti setelah mati mau hidup lagi? Mau kolusi dengan Tuhan supaya diberi kesempatan hidup tidak hanya satu kali? Kalau umpama iya, hidup yang kedua sebagai siapa? Tetap sebagai Markesot? Atau dititipkan kepada seorang bayi yang lahir sesudah kematiannya?
Atau bukan jadi siapa, melainkan menjadi apa? Misalnya ular, kambing, burung elang, jin?

Bagaimana kalau Tuhan kasih jatah kedua hidupnya Markesot tapi ditugasi menjadi prajurit Setan bawahan Panglima Iblis? Atau minimal Markesot lahir kembali sebagai hantu. Tapi kalau sekadar menjadi hantu, namanya tidak move on. Sekarang pun Markesot semacam hantu juga.

Terus, coba dengar kembali, betapa sembrononya kalimat ini: “…sebab di dalam hitungan hamba, kegelapan yang sedang mengepung bangsa ini memerlukan dua atau tiga kali hidupku….”

Who do you think you’re, Cak Sot? Memangnya Sampeyan ini siapa? Nabi Isa? Ditarik sejenak oleh Tuhan dari medan perang, menunggu beberapa saat untuk dikembalikan menjadi Panglima melawan segala komplikasi dampak global Dajjal dan Ya’juj Ma’juj?


Sedangkan Muhammad Saw kekasih Allah Swt, sedangkan seluruh Nabi dan Rasul, semua hamba-hamba suci dari Siti Maryam hingga Raden Syahid, hanya diberi jatah satu kali terlibat dalam kehidupan yang ini. Masih mending Nabi Nuh As dikasih durasi 900 tahun, padahal masterpiece ciptaan-Nya sendiri hanya 63 tahun.

Jadi apa-apaan ini Markesot. Mau seperti Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”? Mau hidup mati hidup mati berulangkali? Memang ada skenario penciptaan seperti itu oleh Tuhan?

https://www.caknun.com/2016/hidup-mati-berulang-kali/ 
Koleksi  buku  Yaddie

Daur I No.075 ngiler.com

 

Daur-I • 75

ngiler.com

Masih belum yakin untuk membatalkan keinginan ketemu Kiai Sudrun? Atau malah semangat untuk menangkap fenomenanya? Mau menafsirkan jenis kemakhlukannya? Mau meneliti dan menginterpretasi fenomena kasyaf-nya? Kiai Sudrun hanyalah lelaki tua yang dari tepian bibirnya selalu mengalir air liur tanpa henti-hentinya.

Kiai Sudrun adalah ngiler.com.

Ia berjalan, di dalam pagar tepi jalan ada kebun. Di kebun ada pohon mangga sedang berbuah. Ia yang badannya kecil kurus pendek meloncat-loncat, tangannya coba meraih salah satu buah mangga yang menggelantung ke luar pagar.

Akhirnya Kiai Sudrun berhasil meraih mangga itu. Tapi segera tuan rumah pemilik kebun meneriakinya. Melarang ambil mangga dan menghardiknya. Kiai Sudrun gagal memakannya. Ia lemparkan ke dalam kebun, mengena ke pohon mangga yang ia ambil buahnya.

“Ya sudah”, kata Sudrun sambil ngeloyor pergi, “kalau memang Pengeran (sebutan lokal untuk Tuhan) yang punya tanah dan pohon ini melarang saya menikmatinya, saya cari buah yang lain. Kebun milik Pengeran tidak ada batas keluasannya”

Besok paginya pohon mangga itu rontok daun-daunnya, kering pohonnya, beberapa hari berikutnya mati.

Sudahlah.
***
Mau mendaftarkan diri agar Sudrun masuk, mengetuk pintu dan mengobrol dalam tidur kita? Mau melihat Sudrun main-main di beranda Masjid, buka sarung dan kencing ngathar diobat-abitkan di lantai tanpa ada bekas kencingnya?

Mau disiksa oleh Sudrun mematikan semua lampu listrik di rumahmu dengan satu tepukan tangan? Gatal ingin menonton Sudrun meletakkan puntung rokoknya di atas rel sehingga keretanya terguling?
Atau mau mendampingi dia tidur di pojokan guthekan Masjid, sarungnya tersingkap sehingga barangnya tampak?

Makin malas dan bosan melihat dunia, manusia, masyarakat dan negara, sehingga mending mendengarkan ratusan kisah-kisah Kiai Sudrun? Dengan tujuan khusus agar orang-orang di sekitar kasih stempel sesat, musyrik, kafir, teman Setan dan calon penghuni neraka?

Sementara lainnya mengklaim bahwa itu kisah-kisah khayal, tidak ilmiah, tidak realistis? Karena yang nyata adalah yang tampak oleh mata, terdengar oleh telinga dan tersentuh oleh perabaan?
Apakah ada yang menyangka bahwa Kiai Sudrun punya keinginan, apalagi keperluan, untuk membuktikan dirinya? Untuk membela kebenarannya? Untuk mempertahankan martabat hidupnya?

Coba jelaskan kepada Kiai Sudrun apa itu diri, apa kebenaran dan martabat hidup?

Siapa pakar-pakar ilmu di muka bumi, ahli batin, jagoan kebijaksanaan, penguasa, sakti, mumpuni, orang besar, dukdeng, yang mewakili dunia untuk menguraikan hal itu? Berdoalah agar tidak membuka sarungnya, memancarkan kencingnya, atau mengambil dan menggenggam pisau panjangnya entah dari mana, kemudian ditusukkan ke dadamu, tanpa engkau terluka dan merasakan apa-apa.

***

75 tahun sebelum terjadi luapan lumpur hingga menjadi lautan kecil di suatu wilayah, Kiai Sudrun bertempat tinggal di situ. Pada suatu sore ia berkata, “Nanti kalau lumpur muncrat dari perut bumi dan menenggelamkan daerah ini, saya tidak butuh ikut meminta ganti rugi”

Di jengkal dan garis tanah tempat Kiai Sudrun berdiri itulah luapan lumpur berhenti. Kampungnya Kiai Sudrun tidak tenggelam oleh lumpur, namun daerah itu disebut Peta Terdampak. Karena penghidupan mereka terkena multi-efek dari perubahan geososial, geoekonomi, dan geokultural yang ditimbulkan oleh lumpur.

Kiai Sudrun tidak termasuk di antara 13.200-an keluarga yang punya rumah baru berkat lumpur yang menenggelamkan rumah-rumah mereka, dengan harga lima kali lipat dibanding harga semula tanah dan rumahnya. Kiai Sudrun tidak terlibat dalam rezeki melimpah rumah baru, juga tidak terlibat dalam sikap kurang bersyukur dari ribuan orang yang dilimpahi rezeki itu.

Alkisah terdapatlah satu makhluk Allah yang berasal dari suatu Planet luar bumi, diperintah oleh Ibunya untuk membangun rumah bagi 13.200-an keluarga itu, atau sekurang-kurangnya memberikan biaya agar mereka bisa mendirikan rumah-rumah yang lebih bagus dari sebelumnya.

Makhluk itu ditimpa fitnah besar-besaran, ditindih kutukan besar-besaran dan dipenjara oleh kebencian besar-besaran. Hukum negara menyatakan ia tidak bersalah atas luapan lumpur itu, dan atas kepatuhan kepada Ibunya ia mengeluarkan uang triliunan untuk membangun rumah-rumah sebanyak itu. Dan yang diperoleh dari sedekah agungnya itu bukan rasa syukur dan ucapan terima kasih, melainkan kutukan, fitnah dan kebencian.

***
Untunglah jika dilihat dari langit, ada Kiai Sudrun di wilayah itu. Meskipun tetap saja secara khusus para pengkufur nikmat yang kadar pengkhianatannya tinggi, sudah didaftar untuk memperoleh wabal dari hukum Tuhan.

Ada yang pecah berantakan keluarganya, ada yang pabriknya diluluh-lantakkan oleh api, ada yang masuk penjara karena terbuka kedok kedhalimannya, ada pengusaha yang berubah menjadi karyawan pom bensin, ada yang sakit parah, dan bermacam-macam lagi.

Khusus di wilayah itu dengan urusan lumpurnya, seorang makhluk Planet lainnya sejak awal menancapkan tonggak hukum Tuhan, bukan hukum negara, kepada semua yang terlibat: “Kalau kalian bersyukur, Kutambahi limpahan rahmat dari-Ku. Kalau kalian khianat, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah dahsyat”

Pancangan hukum Tuhan itu juga lambat atau cepat akan menimpa pelaku-pelaku negara, yang dalam persoalan lumpur bersikap tidak adil, lalim, mengambil keuntungan, dan tidak memperhatikan akhlaq kehidupan ciptaan Tuhan. Si makhluk kedua dari Planet itu juga menyatakan bahwa lulus tidaknya para penduduk lumpur di hadapan Tuhan di dalam meng-akhlaq-i masalah lumpur, akan menentukan bangkit atau hancurnya negara dengan sebagian rakyatnya.

Ketika itu Kiai Sudrun yang mendorong dan memastikan pertemuan antara Presiden dengan perwakilan masyarakat yang kampung dan rumah-rumahnya ditenggelamkan oleh lumpur.
Di waktu sekitar maghrib, di sebuah gardu pojok kampung tepian lumpur, Kiai Sudrun mendatangi salah satu anggota rombongan yang akan berangkat berunding dengan Presiden.

“Jangan tidak berangkat. Sudah benar jalannya. Presiden menunggu tanpa terkait dengan protokol kepresidenan. Nanti Presiden hanya ikut runding, tapi bukan dia yang memimpin”

***

Ada yang bertanya, kalau memang ada orang yang seaneh dan sesakti Kiai Sudrun, kenapa dia tidak bereskan kekacauan keadaan negara dan bangsa ini? Kenapa dibiarkan runyam berkepanjangan seperti ini.

Kiai Sudrun aneh? Apanya yang aneh. Kiai Sudrun ya begitu itu. Kalau tidak begitu, malah aneh.
Kiai Sudrun sakti? Mana ada yang sakti selain Tuhan? Apapun kekuatan, kehebatan dan kesaktian yang tampak ada pada manusia, Tuhanlah yang memilikinya.

Kenapa tidak membereskan keadaan?

Kiai Sudrun tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Tidak pernah mentakdirkan, merancang, dan menugasi dirinya sendiri. Untuk membereskan kekacauan ataukah untuk membangun keindahan, bukanlah Kiai Sudrun direktur utamanya. Bahkan Sudrun menjadi Sudrun bukan pula ia yang mengarsiteki dan mengaransirnya.

Kalau ada yang menabrak Kiai Sudrun dengan tuntutan seperti itu, yang pasti ia dapatkan adalah ngiler.com.

https://www.caknun.com/2016/ngiler-com/ 

 


Daur I No.074 Wali Klingsi

 

Daur-I • 74

Wali Klingsi

Salah satu hal yang diincar untuk dikonfirmasikan kepada Kiai Sudrun oleh Markesot ya bab adzab ini.

Tapi sekali lagi biarlah urusan Markesot dengan Kiai Sudrun nanti belakangan saja. Biarkan Markesot sudah menghilang. Mungkin juga sudah menemukan Kiai Sudrun. Biarkan saja. Sekadar Markesot saja pun sudah terasa seperti adzab yang memecah kepala, jangan pula ditambah dengan level adzab yang lebih tinggi.

Lebih baik jangan pernah ketemu dengan Kiai Sudrun sepanjang hidup. Sebab dia tahu persis jumlah detail uangmu yang di dompet, di saku celana, di almari rumah, di bank, bahkan di balik kendit istrimu. Dan begitu ketemu, dia langsung minta duit. Dia pula yang menentukan jumlahnya. Kalau misalnya sejak sebelumnya sudah kita siapkan uang khusus untuk Kiai Sudrun, dia pasti menolak. Dia akan tunjuk uang yang jumlahnya lebih besar yang kita simpan.

Dulu Neneknya Markesot diantar Markesot bertamu ke rumah Kiai Sudrun untuk menanyakan apa benar suaminya, yakni Kakek sambung Markesot, selingkuh dengan Jin. Nenek Markesot memang luar biasa pencemburu. Kalau pergi malam-malam dengan suaminya, lantas di dekat kuburan ada Kuntilanak atau Sundel Bolong, si Nenek ribut bukan karena takut ketemu hantu, tapi sibuk mengawasi jangan-jangan suaminya ada main dengan hantu itu.

***
Pada kunjungan sebelumnya si Nenek pernah menyiapkan sejumlah uang untuk Kiai Sudrun, tapi ditolak dan Kiai Sudrun menyebut sejumlah uang sambil menuding arah dada Nenek. Ternyata memang Nenek bawa uang lumayan banyak diletakkan di dalam BH-nya, disisihkan sekadarnya untuk Sudrun. Akhirnya semua uang Nenek dikasihkan ke Kiai Sudrun.

Kalau tidak karena curiga suaminya gendhakan dengan Jin perempuan, si Nenek tidak cenderung untuk menemui Kiai Sudrun lagi. Tapi apa boleh buat. Namun demikian karena pengalaman uang dalam BH dulu, si nenek kali ini agak salah tingkah begitu memasuki halaman rumah Kiai Sudrun. Spontan Nenek belok ke Musholla di depan sebelah kiri rumah Kiai Sudrun. Ia berwudlu, kemudian melakukan shalat.

Tiba-tiba ketika si Nenek ruku` membungkukkan badan, tubuhnya disorong ke depan oleh Kiai Sudrun sambil berteriak — “Gak njaluk gaaaak!”. Saya tidak minta duitmu. Tidak. Begitu terjemahannya. Si Nenek terjerembab ke depan. Untung beliau petani tangguh yang badannya kuat dan sehat. Si nenek bangun terbata-bata sambil mendengar Kiai Sudrun tertawa terkekeh-kekeh dan berlari masuk rumahnya.
***
Sebaiknya disebar suatu travel warning ke teman-teman dan siapa saja yang mungkin bisa dikasih tahu. Sekarang ini sedang susah-susahnya cari duit, jangan pula ketanggor Kiai Sudrun untuk ia rampas uang kita.

Kalau umpamanya ada yang terpaksa seperti Nenek Markesot tadi butuh ketemu Kiai Sudrun, datang saja sendiri. Jangan ajak teman, apalagi saudara atau famili. Nanti Kiai Sudrun bisa-bisa nyangoni bahan dan sumber konflik untuk pertengkaran sepulang kita dari rumahnya.

Bayangkan kita diantar seorang kawan bertamu ke rumah Kiai Sudrun. Belum dipersilakan duduk, Kiai Sudrun sudah menuding-nuding kawan kita:

“Harga lembunya sepuluh juta kok kamu bilang ke Bapakmu laku hanya tujuh juta?”

Pernah ada Sekretaris Desa diajak temannya, Kiai Sudrun mendampratnya:

“Uang bantuan desa kok malah kamu belikan semen dan kayu untuk ndandani rumahmu”

Temannya Sapron dulu juga dimarah-marahi seolah-olah Kiai Sudrun itu Pakdenya:

“Saya tidak suka sama kamu. Kamu ini pemarah. Temanmu di SMP sekarang jadi Bupati, sementara kamu tukang becak. Kenapa marah? Seharusnya Bupati itu yang frustrasi dan uring-uringan. Karena dia dicampakkan oleh Tuhan di kubangan yang banyak najisnya. Sedangkan kamu disayang Tuhan. Dilindungi dari malapetaka dunia. Kaki dan tanganmu disuruh menjalani ibadah tingkat tinggi tiap hari. Kok malah jadi pemarah”

***
Sapron mengantarkan kakaknya sakit parah, perutnya mlembung besar, tersiksa luar biasa, sangat susah buang air besar. Badannya menyusut cepat. Beberapa kali ke dokter tidak ada yang bisa memastikan dia sakit apa. Mungkin karena ketika itu dokter belum punya alat teropong untuk melihat apa isi perutnya. Akhirnya menghadap ke Kiai Sudrun.

Begitu melihat si pasien yang kurus pucat dengan wajah penuh derita, Kiai Sudrun malah tertawa terbahak-bahak. Keras dan lama sekali tidak berhenti tertawanya. Sapron disuruh membeli obat urus-urus. Kakaknya disuruh makan dulu sekuatnya kemudian minum serbuk itu.

Dalam waktu tak ada satu jam kakak Sapron berlari mau ke belakang. Tidak bisa menahan ingin buang air besar. Sapron memapahnya dan mengantarkannya ke pakiwan. Sebentar kemudian Sapron ganti yang menderita. Ia mau mengucapkan kalimah-kalimah thayibah tapi pekewuh lha wong di dalam pakiwan. Mau tertawa juga ia tahan karena mungkin akan menyakiti hati kakaknya.

Dari perut kakak Sapron pletok-pletok satu persatu keluar butiran-butiran klingsi, biji asam. Sapron dengan sabar dan telaten menemani perjuangan kakaknya, sambil diam-diam menghitung. 63 biji semua jumlahnya yang kost selama ini di dalam usus kakaknya.

Lega hati mereka berdua. Kakak Sapron mulai tulus senyumnya. Bergegas Sapron menuntun kakaknya untuk bersegera melaporkan keadaannya kepada Kiai Sudrun serta menghaturkan beribu terima kasih. Tetapi sebelum masuk ke rumah, Kiai Sudrun sudah berdiri metenteng di depan pintu.

 Bertolak pinggang sambil masih tertawa-tawa kecil. Rupanya sudah memanggil dua becak pula.

“Ayo!”, perintah Kiai Sudrun, “pergi ke toko kita. Tolong belikan saya mobil”

***
Mau pingsan Sapron rasanya. Apa maksudnya membelikan mobil?

“Mobil satu saja cukup”, teriak Sudrun dari atas becak. Sapron dan kakaknya di becak lainnya.
Sapron tidak bisa menjawab. Gimana ini maksudnya.

“Cukup satu mobil saja”, Kiai Sudrun mengulang, “tidak perlu 63 mobil. Klingsi kan murah harganya”

Sapron berkeringat dingin, badannya gemetar. “Urusan klingsi saja kok imbalannya mobil”, Sapron menggerundal sendiri, “Dasar Wali Klingsi”

Beli mobil pakai duit berapa Mbah, bukan sekadar pakai uang Mbah-nya siapa. Sapron frustrasi berat, sementara Kiai Sudrun nyanyi-nyanyi tertawa-tawa seperti anak belum masuk Sekolah Dasar.
Alhasil becak meluncur beberapa kilometer, diarahkan oleh Kiai Sudrun. Berhenti di depan sebuah toko. Kiai Sudrun turun dan menyuruh mereka berdua pun turun.

Sapron matanya kabur, pikirannya rusak, hatinya hilang. Setelah masuk toko mengikuti Kiai Sudrun baru pelan-pelan ia sadar bahwa ini adalah toko mainan anak-anak.

Kiai Sudrun berjalan mantap seolah-olah ia pemilik saham mayoritas toko itu. Ia tidak melihat-lihat keliling, melainkan menuju ke suatu pojok yang sepertinya ia sudah tahu persis, bahkan seolah-olah ini semua adalah miliknya. Kiai Sudrun mengambil sebuah truk kecil terbuat dari kayu.

Sapron terpana. Gusti Pengeran. Mobil-mobilan, truk-trukan. Belum sempat mengatur nafas Kiai Sudrun nerocos terus, “Terima kasih atas hadiah ulang tahun saya ke 67. Seharusnya hari ini saya masuk Gua, tapi demi klingsi, saya nunggu kedatangan kalian”

Kemudian Kiai Sudrun menemui pelayan toko, minta tali, diikatkan ke bagian depan truknya. Lantas ia berlari keluar toko menyusur trotoar, menghambur menyeret truknya sambil berteriak-teriak riang gembira.

***
Kelak, beberapa puluh tahun kemudian, ketika Sapron menceritakan pengalamannya itu kepada Markesot, seluruhnya sampai detail, Markesot terhenyak kaget.

“Gua?”, kata Markesot, “Al-Kahfi. Ayat 67? ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku’….”

 https://www.caknun.com/2016/wali-klingsi/
Koleksi buku Yaddie Jossmart


Daur I No.072 Agamaterialisme


Memang bagi kebanyakan orang kemiskinan adalah bencana, dan kebanyakan orang menyimpulkan secara kolektif bahwa bencana itu mirip-mirip dengan adzab. Yah kira-kira hampir sama dan sebangun.

Sementara itu orang tidak kebanyakan juga kelihatannya kurang berminat untuk mengurusi apakah antara adzab dengan bencana itu sama ataukah berbeda. Kalau sama, kok bisa sama, bagaimana konteks sebab dan akibatnya. Kalau tidak sama, seberapa jaraknya.

Bencana, adzab, mushibah, celaka, sial, kemudian banjir, gempa, gunung meletus, badai, halilintar, petir, bercampur-aduk di dalam satu tabung makna. Ditambah lagi fakir, miskin, tak punya apa-apa, sengsara, berat, susah, sedih, derita, aib, malu.

Kalau racun berwarna kuning, kebanyakan orang berasosiasi bahwa yang membunuh bukan hanya racun, tapi juga kuning. Kalau kemiskinan itu berat dan menderita, maka segala penderitaan dan semua yang berat disimpulkan sebagai bencana, akhirnya bencana dikonklusikan sebagai adzab.

Manusia mengalami kelelahan untuk mengurai pengetahuan dan memilah gigir-gigir ilmu.
Rentang jarak yang bisa sangat panjang antara keadaan miskin dengan adzab, ditekuk, dilipat-lipat, digumpalkan menjadi satu titik. Peradaban panjang materialisme membawa ummat manusia menyisakan satu pengertian makna: bahwa kemiskinan adalah adzab.

Semua jenis kegiatan yang menghasilkan kekayaan harta benda, dianggap berkah. Segala perjuangan yang ujungnya adalah kebangkrutan keduniaan, dipahami sebagai adzab.

Sehingga mereka bersedia dijajah asal tidak miskin. Bahkan harta milik sebuah Bangsa dirampok tidak masalah, asalkan penduduk Negara Bangsa itu disisakan sedikit untuk penghidupan keluarganya. Kemiskinan itu hina, sehingga lebih baik ikut Iblis asalkan kaya, daripada setia kepada Tuhan tapi disuruh bersabar dalam kemiskinan.

***
Sampai-sampai membangun tempat ibadah pun tidak soal meskipun Setan yang membiayainya. Sehingga tidak perlu memverifikasi halal haramnya bantuan yang diberikan untuk pembangunan rumah ibadah itu.

Kemiskinan di dunia dimaknai sebagai bencana yang membuat manusia merasa hina dan rendah. Tidak hanya rendah di hadapan sesama manusia, tapi juga di depan dirinya sendiri. Adapun di depan Tuhan, mereka merasa tidak ada bahan untuk mengukurnya. Tidak ada mata kuliahnya. Tidak ada universitas dan fakultasnya.

Kehilangan martabat kemanusiaan tak masalah, asal tetap punya pekerjaan, bisa menghidupi keluarga dan memastikan kemakmuran. Tidak punya harga diri pribadi, harga diri kemasyarakatan dan kebangsaan, itu bukan persoalan, karena yang utama adalah tegaknya materialisme dalam kehidupan di dunia.

Manusia dan bangsa jenis itu, benderanya adalah “Anti Kemiskinan”, bukan “Anti Pemiskinan”, karena mereka melihat kekayaan dunia sebagai benda, bukan sebagai bahan-bahan di dalam tugas akhlak. Jargon mereka “Anti Kebodohan”, bukan “Anti Pembodohan”, karena faktanya kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dalam rangka anti-kebodohan ternyata adalah penumpukan kebodohan.

Seolah-olah Nabi pamungkas junjungan mereka adalah orang yang kaya raya seperti kakeknya, Sang Raja Sulaiman. Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar bahwa junjungan mereka itu sangat sering mengganjal perutnya dengan batu agar tak terlalu merasa sedang lapar. Seakan-akan tak ada yang pernah menginformasikan kepada mereka bahwa luas rumah junjungan mereka itu panjangnya 4,80 X lebarnya 4,62 X tingginya 2,5 meter. Lebih sempit dari rata-rata kamar mandi mereka.

Seolah-olah para pemuka masyarakat mereka menyembunyikan fakta bahwa kekayaan beliau dibagi-bagi ke kelompok-kelompok ekonomi kecil di seantero Madinah. Sehingga beliau sendiri menempuh pola hidup yang jauh lebih miskin dari kebanyakan manusia zaman sekarang.

Kemudian miliaran pengikut beliau berabad-abad mengibarkan bendera “Anti Kemiskinan”. Dan kemiskinan yang dimaksudkan adalah pada konsep materialisme dan ideologi keduniaan.
Mayoritas penduduk bumi adalah pemeluk Agamaterialisme.

Tanpa penggambaran bahwa dunia adalah babak penyisihan, kemudian manusia maju ke babak-babak berikutnya, perdelapan final, perempat final, semifinal sampai final menjelang ketentuan final di depan gerbang Stadion Sorga dan Neraka.

***
Seakan-akan Tuhan tidak pernah memberi pernyataan bahwa “Tidaklah Kuberikan ilmu kepada kalian kecuali sangat sedikit”. Sehingga mereka pasang standar bahwa manusia itu harus pandai, maka harus “Anti Kebodohan”.

Ummat manusia di muka umumnya lalai dari penglihatan bahwa ‘audiens’ utama hidup mereka adalah Tuhan sendiri. “Innallaha Khobirun bima ta`malun”. Sesungguhnya Allah mengabarkan apa yang kalian lakukan. Allah penonton pentas dunia kita, Allah wartawan pengumpul data dan pemotret kelakuan kita, Allah redaktur penayang make up wajah kita. Kemudian Allah jaksa penuntut dan hakim kita.

Kealpaan manusia atas fakta panggung dan audiens itu membuat mereka mampu gagah perkasa mementaskan kepandaian, dengan jargon “Anti Kebodohan”. Mereka tidak menyusun kurikulum pada konteks dan urusan apa kepandaian diperkenankan Tuhan untuk diperlukan dan digunakan. Itu pun dengan batas takaran kepandaian yang dilapisi baja kewaspadaan.

Mereka juga tidak meneliti pada proporsi yang mana kebodohan sangat dibutuhkan oleh manusia demi keselamatannya. Manusia menyangka semakin ia tahu semakin baik dan selamat hidupnya. Manusia tidak mensimulasi kemungkinan-kemungkinan di mana kepandaian perlu dibatasi, sebagaimana kebodohan juga ditentukan kadarnya. Semua demi ketepatan letak keselamatan dalam konstruksi kehidupan yang disusun oleh Tuhan.

Telinga manusia dibatasi jangkauan pendengarannya, agar ia tidak perlu menjadi kalap dan gila karena kesanggupannya mendengar omong-omong orang di jarak yang jauh.

Mata manusia juga dibatasi hanya bisa melihat pada garis lurus, sebab kalau penglihatan bisa berbelok dan melingkar, maka pakaian orang lain tidak ada fungsinya. Dan kalau pakaian tidak berfungsi berarti semua orang telanjang. Dan kalau semua orang telanjang, peradaban dan kehidupan hanya berumur beberapa minggu.

Demi keselamatan hidup manusia, Tuhan menentukan batas penglihatannya, pendengarannya, jasad maupun batinnya, pengetahuan dan ilmunya, kekuatan dan kesanggupannya. Allah Maha Penakar. Allah Maha Pakar Batas.

Tetapi dasar manusia. Pada konteks di mana mereka butuh membatasi, mereka kejar ketidak-terbatasan. Pada konteks lain di mana mereka merdeka dari batas, mereka malah membatas-batasi.
Hasilnya kebudayaannya, ketika mereka tidak punya jalan selamat yang lain kecuali memilih patuh, misalnya kepada sunnah dan qadar Tuhan, mereka malah memilih kebebasan dan demokrasi.

Sebaliknya ketika Tuhan membuka kedaulatan bagi mereka, misalnya di wilayah pemikiran, kreativitas atau teknologi, mereka malah menjadi pembebek-pembebek kepada sesamanya.

Mereka balik dunia dijadikan akhirat, akhirat diduniakan. Rohani dijasmanikan, sambil bingung bagaimana merohanikan jasmani. Materialisme dituhankan, Tuhan dimaterikan.

Itulah yang oleh Markesot ditembangkan “bebendhu tan kasat mata, pepeteng kang malih rupa”. Agamaterialisme. Tampak seperti Agama, padahal materialisme. Tidak terasa materialisme, karena wajahnya Agama.

https://www.caknun.com/2016/agamaterialisme/
Koleksi Buku Yaddie Jossmart


Daur I No.071 Si Adzab Gentayangan

Daur-I • 71

Si Adzab Gentayangan

Semua yang berada di lingkup atmosfer Patangpuluhan, entah yang masih tinggal di situ atau yang sudah bertebaran di berbagai pulau dan pelosok-pelosok, diam-diam mencatat bahwa tahun-tahun terakhir ini ada semacam gejolak perasaan atau gelombang batin yang tak menentu pada Markesot, yang menyangkut lingkungannya, manusia-manusianya, masyarakatnya, bangsa dan negerinya.

Betapapun Markesot sangat menahan diri dan menyamarkan gejolak itu, tapi akumulasi nuansa jiwanya tampak mencerminkan hal itu semakin jelas. Misalnya, cukup lama ia seperti menghindar untuk menyebut kata ‘Indonesia’. Menggantinya dengan, misalnya ‘Nusantara’ atau ‘Negeri Khatulistiwa’.

Saat-saat awal ia hanya mengambil jarak. Tahap berikutnya ia bungkam untuk berbicara tentang yang namanya ia ganti itu. Tidak mau menyebut nama presiden dan menteri-menteri. Bahkan kalau ada dua foto besar terpampang di tembok ruang dalam sebuah gedung atau kantor, Markesot langsung keluar.

Ketika beberapa kali ada yang memberanikan diri bertanya, jawaban Markesot bermacam-macam.

“Saya ini lemah. Hati saya cengeng. Perasaan terlalu mudah terjerumus ke dalam kesedihan. Tidak jelas kenapa tadi begitu saya masuk ruangan itu lantas batin saya menangis. Menangis sangat mendalam. Sehingga saya tidak tahan dan keluar”

“Rasanya di dalam ruangan tadi ada semacam getaran atau aura atau mungkin wibawa yang luar biasa kuatnya, sampai rasanya saya mau pingsan. Jadi saya tidak kuat”

“Saya ini penakut. Saya tidak berani makan nasi kalau saya tidak benar-benar yakin bahwa itu nasi. Saya tidak berani mengakui sesuatu kalau secara batin maupun akal saya tidak memperoleh keyakinan atas sesuatu itu. Yang kecil-kecil dan remeh saja saya takut untuk mengakui. Apalagi Tuhan, kiai, presiden, menteri atau yang besar-besar lainnya”

“Kalian tahu saya ini boleh dikatakan tidak punya tempat yang jelas di peta kehidupan dunia. Saya tidak mampu meletakkan pantat saya di kursi, kalau menurut pemikiran saya itu bukan kursi. Saya seorang warga negara resmi, tapi sebagai warga saya kebingungan karena banyak sekali faktor yang membuat saya ragu-ragu apa benar ini negara”

***
Mungkin ada yang masih ingat, ketika Sapron bertanya kenapa Markesot sekarang lebih banyak berurusan dengan manusia dan bukan konstruksi sosialnya, juga dengan rakyat tapi tidak negaranya, sebagaimana dulu-dulu: Markesot menjawab, “Saya menjauh dari wilayah adzab”

Terus terang saja ketika mendengar jawaban itu diam-diam Sapron tertawa geli namun ditahannya.
“Cak Sot itu kalau omong seakan-akan ia adalah warga Planet Berkah yang ulang-alik dari dan ke sorga, sehingga ia melihat yang di sini ini sebagai wilayah adzab. Padahal sebagian orang berpendapat bahwa hadirnya Markesot di bumi ini aslinya merupakan wujud adzab”

Kalau masyarakat umum melihat kehidupan Markesot, apa kesimpulan mereka kalau bukan perwujudan adzab. Markesot adalah “adzab mlaku”, suatu istilah sebagaimana kalau orang kutu buku disebut “perpustakaan berjalan”. Atau contoh lain yang indah: Muhammad Saw adalah “Qur`an hidup”, atau Quran adalah “Muhammad literer”

Apanya yang bukan adzab pada Markesot? Coba perhatikan: miskin, tidak punya harta benda apa-apa kecuali pakaian dan beberapa perangkat remeh lainnya. Tidak pernah maju, begitu-begitu melulu hidupnya. Tidak punya karier. Jangan tanya apakah Markesot punya masa depan, sedangkan cita-cita dan keinginanpun ia tidak punya.

Markesot itu sebatang kara pun tidak. Ia sebatang lilin: menyala tapi tak bisa menerangi ruangan secara maksimal. Itu pun untuk menyala ia harus membakar dirinya sendiri. Dan lagi nyalanya sangat sebentar. Sungguh adzab. Markesot adalah “adzab gentayangan”.

Cukup satu Markesot saja di bumi. Tidak. Di seluruh alam semesta cukup dia saja. Jangan sampai ada Markesot lain. Siapa tega melihatnya. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah berkenan membatasi jumlah makhluk semacam Markesot itu cukup satu saja.

Si adzab gentayangan itu sudah makin udzur usianya. Tubuhnya makin lemah, padahal tak punya istri. Kulitnya makin keriput, padahal tidak punya tabungan. Rambutnya makin memutih, padahal tak punya anak. Jaraknya dengan maut makin mendekat, padahal tidak jelas asal-usulnya, masa silamnya, apalagi masa depannya.

Ya ampun apakah Tuhan akan membiarkan dia mati nelangsa nanti. Menjalani kehidupan tanpa karier, tidak pernah mencapai sukses, tidak punya motor apalagi mobil, rumah kontrakan abadi, karyawan ya bukan, berkarya ya tidak. Walhasil apa namanya yang seperti itu kalau bukan adzab.
Lelaki tua yang wajahnya penuh kerut-merut derita bernama Markesot ini ahli servis motor dan mobil, tanpa satu kali pun pernah punya motor, apalagi mobil. Terkadang kalau dia omong, bagaikan seorang filosof, tetapi filsafat makin tidak marketable dan para pakar filsafat tak satu pun mencatat nama Markesot.

Markesot selalu menyebarkan kesan seolah-olah dia pengikut Nabi Muhammad Saw di bidang konsumsi: Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. Padahal kasusnya bukan soal ilmu kesehatan atau ketinggian akhlaq terhadap ketersediaan pangan di bumi. Masalahnya adalah Markesot memang miskin, tidak lancar memperoleh makanan.

***
Di zaman mudanya, tatkala Markesot masih lebih gelandangan dibanding sekarang, Markesot mengatur makannya dengan menyusun daftar sekian teman-temannya, kemudian menggambar map yang berisi titik-titik tempat tinggal mereka.

Pagi bertamu ke sini, siangnya dolan ke sana, malamnya nongkrong di tempat teman berikutnya. Tentu tidak untuk terang-terangan minta makan, melainkan berspekulasi siapa tahu di tempat-tempat itu ia diajak makan, di rumah teman-temannya itu atau ditraktir ke warung.

Besoknya, lusa dan seterusnya, sudah terdaftar nama teman-teman yang berbeda. Meskipun demikian memang sering tidak mudah mengatur hati dalam situasi miskin. Selalu ada unsur salah tingkahnya, rasa malu, atau seperti Markesot sedang membanting harga dirinya sendiri setiap kali mengharap dikasih makan oleh temannya.

Suatu siang Markesot bertandang ke rumah salah seorang temannya. Membohongi dirinya sendiri pura-pura tidak ada urusan makan. Tapi diam-diam di pojok hati kecilnya memang ia ke situ untuk berspekulasi siapa tahu akan dikasih makan. Tuhan Maha Agung, ketika Markesot mengetuk pintu ternyata temannya sekeluarga memang sedang makan siang.

Temannya sangat gembira didatangi Markesot dan langsung berdiri menyongsong kemudian mengajaknya bergabung makan siang dengan keluarganya. Markesot spontan menjawab: “Wah baru saja saya makan. Terima kasih. Saya minum saja…”

Padahal dia sesungguh-sungguhnya sedang kelaparan.

Di hari lain Markesot mendatangi temannya sedang latihan teater di sebuah gedung kesenian. Setelah pura-pura menikmati sejumlah adegan, Markesot mengajak temannya ke warung untuk makan. Dengan harapan temannya itu akan mentraktir, karena mustahil Markesot yang tak punya uang harus mentraktir.

Temannya menjawab, “Saya sudah makan, nggak apa-apa saya ditinggal saja, kebetulan juga masih ada adegan yang harus saya latih”

Akhirnya Markesot melangkah keluar gedung. Berjalan menyusuri jalanan, muter alun-alun, selama waktu yang kira-kira sama dengan keperluan makan di warung. Setelah itu ia balik ke gedung, acting seolah-olah ia kekenyangan habis dari warung.

Maka kalau Markesot berkata “saya menjauh dari wilayah adzab”, si adzab berkata “biar aku yang mendekat kepadamu”.

https://www.caknun.com/2016/si-adzab-gentayangan/ 
Koleksi buku Yaddie Jossmart

Daur I No.070 Mursyid Peradaban Dari Barat dan Utara

 

Daur-I • 70

Mursyid Peradaban
Dari Barat dan Utara

Yang paling tidak pernah dilupakan oleh masyarakat Patangpuluhan adalah wanti-wanti Markesot kepada mereka: “Masing-masing kalian harus menaklukkan saya di dalam diri kalian. Haram hukumnya Markesot berkuasa atas pikiran kalian, mental kalian, hati dan sikap hidup kalian. Masing-masing dari kalian wajib berdaulat atas diri kalian sendiri”

Beberapa teman pernah mendengar secara khusus:

“Kalau oleh saya saja kalian bisa dijajah, bagaimana mungkin kalian berpotensi untuk menjadi patriot bangsa kalian. Kalau kalian terlalu gampang terpesona, kagum, takjub, sedikit-sedikit anyenyubyo, akan terkisis harga diri kalian, kemudian mental kalian akan menjadi sangat empuk untuk dimakan oleh orang lain”

“Kalau oleh orang yang bukan siapa-siapa seperti saya ini kalian gampang terseret, maka gelombang besar global dari arah barat, kemudian dari utara, arus badai penguasaan atas seluruh dunia, sejak hampir delapan abad yang lalu – terlalu muluk dan berlebihan. Karena kalian sebenarnya cukup ditaklukkan dengan sejumlah peluru dan beberapa lembaran uang”

“Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian. Jangan sampai saya mendominasi kedalaman jiwa kalian”

***
Sejumlah teman lain mencoba secara bertahap memahami bahwa yang dimaksud adalah, misalnya, “ambil tlethong Markesot saja dulu, kemudian dicoba di-daulat-i, diolah, diproduksi menjadi kegunaan, diasah menjadi manfaat”

Markesot justru mungkin harus dilihat dulu sebagai lambang dari sesuatu yang biasa saja. Seseorang yang sama sekali tidak luar biasa. Mungkin bahkan simbol kerendahan. Karena toh kerendahan bisa berguna untuk pijakan mendaki ketinggian.

Markesot adalah contoh keremeh-temehan, yang bisa bermanfaat untuk menggali bobot nilai kehidupan. Markesot adalah pertanda kebodohan. Dan temukanlah betapa kebodohan sangat menolong setiap manusia untuk merindukan, mencari dan menemukan sejatinya ilmu dan pengetahuan.

Tapi bagaimana maksudnya berdaulat kepada Markesot?

Mereka makin lama makin menyepakati untuk jangan sekali-sekali mempelajari Markesot. Cukup belajar dari tlethong-nya saja. Ambil sedikit tlethong itu, pandangi dengan kedaulatan ilmumu, gunakan dengan hak pribadimu untuk merabuki tanamanmu.

Lupakan apa siapa bagaimana kenapa di mana Lembu Markesot.

Barangsiapa mempelajari Markesot, ia akan terjajah olehnya. Barang siapa belajar dari atau kepada Markesot, sebagaimana kepada tlethong, ia akan memperoleh manfaat sesuai dengan kadar kedaulatan yang diterapkannya.

***
Setiap murid memerlukan Guru. Masalahnya bagaimana murid yang justru baru akan belajar menapaki ilmu, bisa memiliki ukuran untuk menentukan apakah seseorang di hadapannya itu Guru atau bukan, layak di-meguru-i atau tidak. Sebagaimana setiap Salik yang hendak menempuh thariqat memerlukan seorang Mursyid.

Mungkin orang-orang di sekitarnya memberi informasi bahwa itu ada orang alim saleh mendalam ilmu rohaninya sehingga disimpulkan ia adalah Mursyid. Atau orang-orang tertentu hadir ke banyak orang berlaku sebagai Mursyid. Tetapi bagaimana orang yang baru akan melangkah mencari bisa menentukan bahwa ada orang lain yang sudah menemukan?

Tanda seseorang sudah menemukan adalah bukti adanya sesuatu yang ditemukan. Bagaimana mungkin orang yang belum pernah menemukan punya kemampuan untuk memastikan bahwa sesuatu itulah yang sudah ditemukan. Bukankah ia justru sedang akan mulai mengenali parameter tentang sesuatu yang ditemukan?

Syukur kepada Tuhan andaikan yang mengaku Mursyid di hadapanmu itu memang sungguh-sungguh seorang dengan kualitas pengalaman yang panjang dan mendalam hingga selayaknya disebut Mursyid.

“Sedangkan”, kata Markesot suatu malam, “yang berlangsung sekarang adalah tamu-tamu asing dari Barat dan Utara datang sebagai Mursyid Peradaban, dan kalian mempercayai mereka. Kalian merasa lebih rendah dari mereka. Kalian membungkuk-bungkuk kepada mereka. Bahkan iman kalian kepada mereka menggeser posisi iman kalian kepada yang sesungguhnya kalian butuhkan untuk diimani”

***
Bangsa-bangsa dari Barat dan Utara datang ke sini untuk mempelajari bangsa kalian, tetapi kalian memperlakukan mereka sebagai Mursyid Peradaban, Guru Besar Kemajuan, Sang Pencerah Akal dan Kebudayaan, Profesor Ilmu dan Teknologi.

Mereka datang membawa kegelapan berjangka, tetapi mengajarkan kepada kalian bahwa yang mereka bawa adalah Abad Pencerahan. Mereka datang menelanjangi jati diri kalian, mencopoti pakaian kebudayaan kalian, mengikis martabat kebangsaan dan kemanusiaan kalian. Tetapi kalian menyikapi mereka dengan puja-puji dan junjungan melebihi Nabi-Nabi kalian sendiri.

Sekarang bahkan mereka tidak perlu datang ke sini untuk mempelajari. Cukup menggunakan frekuensi, penyerapan digital hingga balon-balon di angkasa. Yang mereka kirim untuk datang menyerbu dan tinggal bersama kalian adalah jutaan sampah-sampah buangan dari kampung halaman mereka. Yang tata budayanya jauh di abad belakang kalian.

Hasilnya adalah penjajahan kepada bangsamu. Berabad-abad mereka mempelajarimu, menyerap segala hal tentang dirimu, fakta-fakta, data-data, karakter, kekayaan, kekuatan dan kelemahan. Kamu menjadi janda cantik bahenol yang ditelanjangi, kemudian ditiduri semau-mau mereka.

Bangsamu dibikin bangga dilibatkan dalam kemewahan Peradaban Teknologi Informasi. Bangsamu merasa sedang melaju di jalan raya kemajuan dan kehebatan.

Bangsamu meyakini sedang menguasai informasi dan menguasai dunia. Padahal bangsamu sedang dijadikan narapidana, sandera, konsumen total, disetir, dikendalikan, dianiaya dengan halusinasi, dibutakan melalui lampu-lampu yang menyilaukan kesadaran. Untuk akhirnya menjadi bodoh, tidak mengerti dirinya sendiri, kemudian dijajah, dirampok hartanya, disirnakan kepercayaan dirinya.

Tapi bangsamu bangga dianiaya. Bangga diperbodoh. Merasa sukses padahal diperbudak. Yakin sedang menjalani puncak peradaban, padahal mereka adalah pelengkap penderita.

Bangsamu kehilangan ukuran tentang hampir segala sesuatu. Bangsamu bangga ketika seharusnya malu, dan malu ketika semestinya bangga. Bangsamu melawan hal-hal yang sejatinya perlu ditaati, dan taat kepada sesuatu yang sewajibnya dilawan.

Bangsamu adalah bangsa Muqallidin, pembebek yang menjijikkan. Bangsamu disembelih, tapi tidak sebagai Ismail.

 https://www.caknun.com/2016/mursyid-peradaban-dari-barat-dan-utara/

Daur I No.069 TKI-1

 

Daur-I • 69

TKI-1

Semakin kita mengafir-ngafirkan Markesot, semakin ia menertawakan kita. Kalau kita cari-cari contoh untuk memuji kemusliman dia, semakin ia demonstrasikan tindakan-tindakan yang membatalkan pemusliman kita atasnya.

Semakin kita menafsir-nafsirkan Markesot, semakin parah ia berlaku dan berkata sesuatu yang semakin susah ditafsirkan. Semakin kita mempelajari Markesot, semakin pelik ia untuk dipelajari.
Semakin kita menyimpul-nyimpulkan Markesot, semakin ia balik kecenderungannya sehingga menjauhkan kita dari kebenaran. Kalau kita menyimpulkan Markesot sangat sehat, ia berlaku sakit.

Kalau kita simpulkan ia sakit, ia overacting menunjukkan tingkat kesehatan melebihi orang lain.
Kalau kita simpulkan ia pandai, ia menyirami kita dengan kebodohan. Kalau kita simpulkan ia bodoh, ia lemparkan kita ke kegelapan untuk membuktikan bahwa kita tidak mampu memancarkan cahaya untuk menerangi kegelapan itu.

Kalau tetap ngeyel dan bermaksud mengikuti jejak perjalanan Markesot mencari Kiai Sudrun, mudah-mudahan di tengah jalan dicegat oleh Pangeran Sabranglangit dan diperingatkan:
“Kalau berjalan untuk mempelajari, balik sekarang. Kalau sekadar belajar dari, silakan terus”

Coba dulu belajar dari lirik lagu yang sering direngeng-rengengkan oleh Markesot dengan sangat buruk secara estetik-musikal. Daripada menambah tumpukan masalah di kepala, mending ditadabburi saja. Itu pun tanpa berharap jauh-jauh bahwa hasilnya adalah tambahan iman dan kedekatan kepada Tuhan.

Cukuplah sesudah mendengar syair itu muncul kegembiraan. Kalau tidak kegembiraan ya paling tidak terbit ketenangan. Kalau ketenangan masih terlalu mewah, minimal hadir situasi jiwa yang tidak terlalu galau, atau agak sedikit lebih menjauh dari keputusasaan.

Kalau harus menafsirkan syair lagu Markesot itu, assalamu’alaikum sajalah, pamit dan salam mesra untuk Markesot. Tiga huruf Qur`an Alim dan Lam dan Mim saja tidak ada ahli yang paling tinggi ilmunya sanggup menafsirkannya. Semua angkat tangan dan menyatakan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”.

Iya lah. Wong Allah sendiri yang bikin susunan tiga huruf itu. Mosok Iblis punya kemungkinan untuk mencuri maknanya, sebagimana Iblis suka nyuri-nyuri nengok-nengok lembaran-lembaran Lauhul Mahfudh.

Iblis masih lumayan bisa mbalap waktu, melampaui rentangannya, juga mampu memadatkan ruang dan meringkas keluasannya, sehingga bagaikan Maling Cluring ngindhik buku besar Lauhul Mahfudh.

Lha manusia zaman sekarang memanjat pohon kelapa saja kakinya kram-krom-kram-krom krom-kram-krom-kram. Gitu kok sok memusuhi Iblis dan Setan. Mulutnya memekik-mekik anti Iblis dan Setan, padahal Iblis bertahta di dalam jiwanya dan Setan mengalir di darahnya.

***
Beberapa kalimat lirik lagu Markesot saja akan bisa menyebabkan perkelahian antara beberapa orang yang mendengarkannya. Itu kalau mereka berpretensi untuk menafsirkannya, memahami peta batin dan rangkaian muatan nilainya.

Silakan kalau mau bertengkar. Dengarkan lagunya yang menggelikan, baca kembali di memori otak kalimat-kalimatnya. Perlombakan kemampuan untuk menggambar rangkumannya. Pertandingkan kecerdasan untuk menemukan alurnya, kronologi muatannya, puzzling muatan-muatannya, konsistensi tematik dan disiplin kontekstualisasinya.

Kalau pertengkaran menjadi perkelahian kemudian ada rencana untuk memuncakinya dengan bunuh-bunuhan, maka datanglah ke Markesot dengan cara pandang akademis yang diperoleh dari Sekolahan. Satu kata dari mulut Markesot bisa menjadi landasan untuk bertengkar. Itu baru satu kata. Belum satu kalimat. Belum lagi seluruh alam pikiran dan semesta batinnya. Belum lagi jagat kehidupan Markesot.

Jangankan lagi Qur`an. Supaya hidup selamat, bertadabburlah. Di dalam tadabbur, mungkin diperlukan sedikit tafsir. Tapi kalau sudah coba menafsirkan, hendaklah dibatasi yang diperoleh itu adalah kebenaran penafsiran, belum tentu sama dengan kebenaran yang ditafsirkan.

Kalau ingin menyebarkan kerusakan di muka bumi, berkelilinglah memaksakan hasil penafsiranmu sebagai kebenaran mutlak di depan siapa saja. Terapkan hasil penafsiranmu sama dan sejajar dengan kebenaran Qur`an. Jangan biarkan ada orang yang berbeda dari kamu. Karena kamu merasa bahwa kalau berbeda dari kamu berarti menentang Qur`an. Kalau menentang Qur`an berarti mendurhakai Tuhan. Dan kalau mendurhakai Tuhan berarti masuk neraka.

Kalau ingin merusak silaturahmi sosial di bebrayan masyarakat, kalau ingin ummatmu terpecah belah, kalau ingin bangsamu saling menghancurkan satu sama lain, datanglah kepada mereka untuk memaksakan hasil-hasil penafsiranmu. Paksa setiap orang untuk meyakini bahwa setiap produk tafsirmu adalah kebenaran sejati sebagaimana firman Tuhan.

Tapi kalau takut bertengkar, tidak berani berkelahi dan ngeri untuk bunuh-membunuh, maka berdaulatlah kepada Markesot.

***
Lho kok berdaulat kepada Markesot.

Ya. Kan sudah disentuh soal itu berulang-ulang. Tapi mungkin tetap saja tidak benar-benar diperhatikan. Berdaulat kepada Markesot sebagai bagian dari pembelajaran kedaulatan. Setelah itu satu persatu dan semua yang lain, kecuali kepada yang justru berdaulat atasmu. Tuhan namanya.

Berdaulat kepada Markesot itu ekstremnya “bunuh Markesot di dalam dirimu”.

Silakan mendengarkan omongannya, tapi jangan melakukan apapun karena mengikutinya.

Silakan menghayati hidupnya dan menggali segala sesuatu darinya, tetapi jangan melangkah ke manapun dan untuk apapun kalau dasarnya adalah mematuhinya. Bodoh, memalukan dan menggelikan kalau ada orang kok taatnya kepada Markesot. Si Sarpon itu, umpamanya, bukan taat, tapi setia.

Berdasarkan susastra dan retorika ayat di Kitab Suci, yang mutlak harus ditaati, pantas, tepat dan mumpuni untuk dipatuhi, hanya Tuhan dan Utusan-Nya. Yang lain, Wali, Maulana, Syeikh, Mursyid, Ulama, Kiai, Panembahan, Begawan, Brahma, Santo Santa dan sebagainya, relatif posisinya untuk ditaati atau tidak.

Kalaupun di antara beliau-beliau itu ada yang ditaati, sebenarnya itu jalur ketaatan saja. Pangkal subjek yang sejatinya ditaati ya Tuhan dan Utusan-Nya itu. Bahkanpun kedua orang tua, perintah Tuhan kepada anak-anak adalah “berbuat baik” saja. Apalagi ustadz, tak ada kaitan apapun dengan ketaatan.

Lebih-lebih presiden atau menteri-menteri dan para pejabat, mereka justru wajib taat kepada undang-undang negara. Mereka digaji untuk itu. undang-undang adalah tulang punggung kedaulatan rakyat. Hakikinya presiden dengan seluruh jajaran kepemerintahannya berposisi wajib taat kepada rakyat. Sebab rakyat yang pegang sertifikat hakiki kepemilikan Tanah Air yang di atasnya didirikan bangunan negara.

Presiden adalah buruhnya negara, bukan kepala negara. Kalau presiden adalah kepala pemerintahan: masih masuk akal dan proporsional. Kalau pakai istilah sekarang, presiden adalah TKI-1, tenaga kerja Indonesia nomor urut satu. Bukankah Markesot sudah sejak lama menguraikan konteks ini, misalnya pemerintah bukan negara, pegawai negara bukan pegawai negeri, tidak ada bawahan patuh kepada atasan, karena yang atas maupun yang bawah berposisi sama untuk patuh kepada undang-undang?

***
Nah, berdaulat kepada Markesot adalah jangan ditelan mentah-mentah uraiannya tentang negara dan pemerintah ini. Jangan membabi-buta percaya dan ngikut dia. Ambil jarak intelektual dulu, siapkan kejujuran akal dan kebersihan hati. Ajak teman-teman pelan-pelan berdiskusi tentang itu.

Kalau menurut kalian itu salah, tak usah berjuang mengubahnya. Kalau itu benar, jangan tidak berjuang.

https://www.caknun.com/2016/tki-1/ 

Koleksi Buku Yaddie Jossmart

Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?

Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?   Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?, Buku Cak Nun, Buku Emha, Judul : Daur VI – Siap...