Kamis, 30 Januari 2020

Daur I No.057 Tidak Tega Kepada Nabi Isa

 

 

Daur-I • 57

Tidak Tega Kepada Nabi Isa

Bagaimana mungkin Markesot bisa tahan untuk tidak mencari Kiai Sudrun. Hatinya sangat lemah. Ia tidak tega kepada Indonesia khususnya, dan kepada seluruh Bangsa Negeri Khatulistiwa umumnya.
Anak bungsu yang bernama Indonesia ini sedang sangat yatim seyatim-yatimnya. Hampir sama sekali tidak ada yang memperhatikannya, tidak ada yang sungguh-sungguh mengurusi sandang pangan papannya, tidak ada yang mengayomi hatinya, mendidik pikirannya dan melindungi jiwanya.

Untung saja Indonesia ini anak yang tangguh, berkat bakat liarnya yang luar biasa. Kekurangan-kekurangan dalam penghidupan tidak bisa membuat mereka merasa benar-benar kekurangan.

Ketidakcukupan bisa mereka cukup-cukupkan. Kalau ada uang seterbatas apapun di tangan mereka, mereka selalu bilang cukup. Kalau uangnya kurang dari itu mereka tetap saja bilang cukup. Dan kalau secara nalar uang di tangan mereka sebenarnya sama sekali tidak cukup, mereka bilang “bismillah dicukup-cukupkan”.

Andaikan terjadi kiamat kecil, tanah di bumi kering kerontang, angin merobohkan semua pepohonan, gempa meluluhlantakkan tempat-tempat tinggal mereka, air sembunyi ke dalam perut bumi, panas matahari membakar ubun-ubun dan seluruh jiwa mereka, percayalah mereka adalah kumpulan manusia yang tertangguh di seluruh permukaan Bumi. Dan bekal ketangguhan serta daya hidup mereka adalah “bismillah”.

Penderitaan sudah puluhan tahun geleng-geleng kepala karena tidak sanggup membuat mereka menderita. Kesengsaraan merasa miris untuk bergaul dengan mereka karena ujung-ujungnya si kesengsaraan ini ditertawakan oleh mereka. Mereka juara tersenyum dan tertawa dalam kontes peradaban di dunia.

Mereka diyatimkan seyatim-yatimnya oleh Lembaga Negara, oleh konstitusi dan sistem yang diberlakukan oleh segelintir orang, oleh managemen nasional yang menamakan dirinya pembangunan, perkembangan, kemajuan, move on. Bahkan dieksploitasi. Nama mereka dijadikan ayat legalisasi proyek-proyek kepentingan pribadi dan golongan. Mereka diperdaya oleh pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan. Dikibuli oleh informasi. Dijebak dalam komunikasi. Dibodohi pengetahuannya dan dikempongi akalnya.

Mereka memilih dan menggaji sejumlah orang diangkat jadi Pemerintah untuk menangani keadilan dan kemakmuran mereka, tetapi pada kenyataannya Pemerintah yang selalu mereka tolong. Mereka menambal setiap kebocoran yang ditimbulkan oleh Pemerintahnya. Mereka dan anak cucu mereka yang membayar utang-utang rakus ngawur yang diselenggarakan oleh Pemerintahnya.

Mereka memilih dan membayari Pemerintah yang tidak bekerja untuk membentang peluang seluas-luasnya bagi pekerjaan dan penyejahteraan mereka. Mereka harus kreatif mencari, menemukan dan membangun pekerjaan mereka sendiri, kemudian Pemerintah datang terus menerus untuk mengawasi mereka, menghisap pajak demi pajak di setiap langkah mereka.

Kalau mereka melakukan kesalahan, Pemerintahnya bertindak setegas Malaikat yang tidak pernah bersalah. Kalau Pemerintah yang salah, mereka harus memaklumi, memaafkan, meskipun tanpa Pemerintah mereka minta maaf.

Di segala bidang Pemerintah yang mereka pilih menjalankan ketidakpercayaan kepada rakyatnya, mengawasi usaha mereka, mengincar kemungkinan pemerasan dan penghisapan, mencurigai kreativitas mereka, mengontrol identitas dan perilaku mereka.

Pemerintah pilihan mereka sangat rajin menunjukkan tindakan-tindakan yang dasarnya adalah ketidakpercayaan kepada mereka, seolah-olah si Pemerintah itu pihak punya kualitas dan akhlak yang bisa dipercaya.

***
Akan tetapi ketangguhan mental dan kedahsyatan daya hidup mereka ternyata tidak mengurangi rasa tidak tega Markesot.

“Saya bukan pejuang kemakmuran hidup di dunia”, kata Markesot, “konsentrasi saya adalah berlangsung tidaknya keadilan. Keadilan adalah gelombang yang sanggup melampaui waktu, arus nilai ruh yang memancar dari dalam jiwa manusia. Manusia memasuki keabadian dengan tiket keadilan, sebagian dari kesejahteraan, tapi tidak dengan kemakmuran”

Maksudnya?

“Keadilan itu rohaniah utuh. Kesejahteraan ini separo jasad separo roh. Kalau kemakmuran itu materialisme, dan materialisme itu lebih pendek usianya dibanding umur manusia yang menikahinya…”

Banyak orang biasanya tidak mau terus mendengarkan penjelasan Markesot kalau sudah mulai ruwet. Markesot itu, kata sebagian orang, tampil seolah-olah seorang Sufi, tapi jangan dipercaya, sebab itu semata-mata karena ia miskin. Supaya tidak terlalu rendah diri oleh kemiskinannya, maka ia berlagak sufistik.

Kalau boleh berterus terang, Markesot menjelaskan tentang adil makmur, menatap kasunyatan hidup termasuk memotret fungsi peradaban para Rasul dan Nabi dari sisi dan jarak pandang yang berbeda, fungsi pertamanya adalah menghibur dirinya sendiri.

Ya dirinya sendiri yang miskin itu.

Tetapi kalau dia kita tabrak dengan pernyataan itu, Markesot akan lincah menjawab bahwa hiburan yang terbatas dan berhenti untuk diri sendiri adalah hiburan yang curang. Hiburan yang tidak fair, tidak rasional, tidak ilmiah. Alih-alih hiburan sejati.

“Kecuali”, Markesot memperkuat alasannya, “apabila manusia sanggup menciptakan dirinya sendiri, membangun fasilitas alam semesta sendiri, membeber bumi dengan kesuburan dan kekayaannya sendiri, kemudian menjalani hidup pun ia sendiri. Tapi kan tidak? Mana mungkin itu terjadi”.

***
Maka sebaiknya perluas kesabaran menghadapi jenis makhluk seperti Markesot ini. Anggaplah ia tlethong lembu yang menjijikkan, tapi siapa tahu ia bisa berguna untuk dijadikan rabuk bagi tanaman di kebun atau sawah kita.

Dengarkan saja. Siapa tahu ia termasuk yang Tuhan maksudkan di dalam rekomendasinya kepada ummat manusia, bahwa tanda orang yang mendapatkan hidayah adalah yang mendengarkan perkataan-perkataan, kemudian memilih yang terbaik untuk diwujudkan menjadi lelaku.

Hal-hal tentang Adil Makmur itu menghibur Markesot semata-mata karena membukakan harapan atas masa depan Negeri dan Bangsa Khatulistiwa. Kalau Tuhan tidak menggariskannya untuk turut membangkitkan dan mengalami kenikmatan realitas Adil Makmur Negeri Nusantara, sekurang-kurangnya yang Markesot mimpikan tentang itu sendiri sudah sangat indah.

Dan sesudah Markesot mempersembahkan jiwa dan kehidupannya untuk niat mulia bagi Negeri dan Bangsa Khatulistiwa, tercapai atau tidak, maka nikmatnya berniat mulia itu sah untuk menjadi hak pribadinya.

Markesot pernah berkata, “Saya tidak punya kekuatan dan ilmu untuk mengatasi masalah-masalah bangsa kalian, sebagaimana kalian juga tidak memiliki bekal-bekal jasmani rohani yang mencukupi untuk mengatasi masalah-masalah kalian”.

“Bahkan sekedar merumuskan komplikasi dan multi-lipatan masalah saja kalian semakin kelabakan. Lebih dari itu semakin lama kalian semakin tidak merasakan dan mengetahui bahwa sebenarnya kalian sedang dikungkung oleh masalah-masalah”

“Kalian tertawa-tawa dan hidup sangat tenang, bermain-main, bertamasya, berpesta, bersorak-sorak, seolah-olah kalian tidak sedang menghadapi sesuatu yang tingkat penghancurannya sangat tinggi dan serius.”

Sungguh tidak normal. Markesot yang hidupnya penuh kesedihan dengan pergi ke mana-mana dengan wajah yang penuh kesunyian, merasa tidak tega kepada Bangsa yang hidupnya penuh senyum dan tawa, yang tenang, optimis, dan tidak mencerminkan kecemasan apa-apa untuk hari ini maupun masa depannya.

Pernah ada yang mengajukan kepada Markesot pertanyaan yang agak mendalam, terutama apa maksudnya tidak tega kepada Bangsa Negeri Khatulistiwa. Markesot menjawab,
“Jangankan kepada Bangsamu, kepada Nabi Isa saja pun saya tidak tega. Tuhan sudah pasti tidak marah kepada beliau, tetapi jangan dipikir beliau sendiri tidak mendalam kesedihannya merasakan posisinya”.

“Lho aneh. Kan beliau itu Nabi, pasti Tuhan menganugerahinya kekuatan, keistimewaan dan perlindungan.”

“Ya tapi kan beliau manusia seperti kita semua. Tuhan menciptakan manusia untuk saling menyayangi dan tidak tega satu sama lain.”

https://www.caknun.com/2016/tidak-tega-kepada-nabi-isa/ 

Koleksi buku Yaddie Jossmart

Daur I No.056 Tak Ada Cita-cita Yang Tercapai

 

Daur-I • 56

Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai

Markesot mencoba membangkitkan hatinya, dengan memunculkan kembali keyakinannya sejak lama bahwa dalam kehidupan di dunia yang sangat sejenak ini, belum pernah ada cita-cita yang tercapai.
Belum pernah ada, bahkan tak kan pernah ada. Tidak juga pada para Rasul dan Nabi. Bahkan tidak terjadi pada makhluk yang paling dicintai oleh Tuhan semesta alam.

Nanti dulu.

Kalau sekedar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya dan yang semacam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja. Di zaman di mana ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa, yang menguasai modal dan perangkat-perangkat sejarah.

Tetapi yang begitu-begitu itu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi. Kita punya seratus piring nasi hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi — itu bukanlah pencapaian cita-cita.

Itu sukses karier pribadi. Dan karier pribadi itu memalukan di tengah sesama makhluk di jagat raya, apalagi di hadapan Maha Pencipta dan Pemilik Sejati segala sesuatu.

***
Bahkan seandainya pun sukses yang dicapai tidak hanya berlaku pribadi, melainkan berlaku se-Negara atau se-Dunia, tetapi terbatas pada kemakmuran, sandang pangan beres, transportasi lancar, papannya gedung-gedung pencakar langit, sampai pun bisa berkomunikasi dengan teman di kutub utara memakai jari-jari sambil buang air besar, ditambah merebaknya balon-balon maya di atas kepulauan Nusantara — itu bukan pencapaian cita-cita. Itu teknologi dan peradaban yang tidak berlaku lagi begitu jantung manusia berhenti berdetak.

Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.

Dan peradaban ummat manusia, meskipun mereka berbekal Kitab-kitab Suci maupun khazanah-khazanah post-post-post-modernisme, yang batas pengetahuannya menyimpulkan bahwa yang disebut kehidupan adalah yang di dunia, dan yang di luarnya atau sesudahnya disebut kematian – maka merekalah makhluk yang paling gagal, atau minimal yang terendah pencapaian ilmu dan lelakunya.

Kemakmuran sungguh-sungguh tidak bisa menjadi parameter primer dari sukses kehidupan. Indonesia anak bungsu yang sedang online hari-hari ini, dibekali oleh Bangsa yang melahirkannya dengan pedoman sangat sederhana namun sanggup mengantarkan mereka menuju sukses sejati dan abadi. Yakni: Adil Makmur.

Bukan Makmur Adil. Kalau kemakmuran ditempuh sebagai tujuan utama, semua peradaban menjalaninya melalui jalan ketidakadilan. Sebaliknya jika keadilan yang ditempuh, maka kemakmuran akan menemukan karakternya yang lebih luas dan multidimensional bagi manusia dan kemanusiaan.

Keadilan adalah kemakmuran yang sejati. Kemakmuran yang berdiri sendiri, akan selalu melanggar keadilan, dan sibuk mengembangkan ilmu dan metode untuk mengkamuflase ketidakadilan supaya tampak sebagai keadilan.

Lelaku adil melampaui mati, kemakmuran sia-sia karena setiap orang hanya punya satu kepastian: menunggu giliran mati. Dan manusia benar-benar akan mati kalau ilmunya menyangka bahkan meyakini bahwa yang disebut mati itu sungguh-sungguh mati.

Maka Indonesia yang merasa sedang membangun kehidupan dengan mentuhankan kemakmuran, aslinya sedang menempuh kematian yang sejati, sebelum tiba si “ajal”, yakni yang mereka sangka kematian.
***

Markesot selalu tampak sangat santai, penuh kelakar dan senda gurau, sepanjang ia berada di tengah orang banyak. Tapi perhatikan begitu ia sendiri, Markesot tampak sebagai manusia yang hidupnya menangis.

“Kenapa Nabi Muhammad Saw yang amat sangat dicintai Allah, dijamin sorganya, menjadi orang agung yang sangat utama dalam sejarah ummat manusia, tiap malam berjam-jam menangis dalam sujudnya?”, Markesot pernah terpaksa menjawab pertanyaan seolah-olah ia seorang Kiai.

“Karena cita-cita pribadi itu sangat mudah tercapai, apalagi bagi beliau yang segala sesuatunya dijamin oleh Tuhan. Tetapi Kanjeng Nabi tidak pernah mengakui kepentingan pribadi itu sebagai atau menjadi cita-cita. Yang rasional untuk disebut cita-cita adalah akhlak mulia ummat manusia yang menghasilkan keadilan di bidang apapun di antara mereka. Dan beliau menangis tiap malam karena tahu persis bahwa cita-cita itu tidak akan pernah tercapai selama kehidupan di dunia”.

“Terjadi peperangan besar yang pangkalnya adalah istri dan menantu beliau, yang gelombang rasa sakitnya njarem sampai di zaman sekarang ini. Apa sejatinya rahasia dibalik ketentuan Tuhan bahwa makhluk masterpiece bernama Muhammad bin Abdullah ini justru dituliskan oleh-Nya untuk punya dua cucu, yang satu diracun istrinya sendiri dan yang lainnya dipenggal kepalanya, bahkan jenazahnya diseret menempuh jalanan bergerunjal yang sangat jauh?”

“Siapakah di antara kita, yang bukan Nabi bukan Wali bukan Ulama bukan Kiai bukan tokoh bukan siapa-siapa ini yang dianugerahi Allah penderitaan batin melebihi Baginda Muhammad? Apakah istrimu bertengkar dengan menantumu? Apakah cucumu diracun oleh istrinya dan satunya dipenggal kepalanya?”

“Masuk sorga itu pasti bagi Muhammad, tetapi ia mengisi malam-malamnya dengan tangis. Masuk sorga adalah pencapaian pribadi, dan Baginda Muhammad tidak bergembira-ria merayakan itu. Sebab hinalah bagi kepribadian beliau untuk bangga dan gembira oleh pencapaian pribadi. Yang disebut cita-cita oleh Baginda Muhammad adalah keadilan akhlak ummat manusia di Bumi, perkebunan luas rahmatan lil’alamin, yang buahnya adalah kemakmuran rohani dan bonus kemakmuran jasmani”.

“Tetapi beliau manusia mulia, dengan software rohani paling canggih, tak cukup dikostumi

geniousitas, mengerti dan melihat dengan terang benderang bahwa tidak ada cita-cita yang tercapai selama hidup di dunia. Kakek Adam ditikam oleh derita melalui tangan Qabil yang membunuh Habil kakaknya. Dan Baginda Muhammad hampir tak punya muatan apapun di dalam dadanya kecuali dua hal. Pertama, Allah. Kedua, kesedihan yang sangat mendalam atas ummatnya di masa depan. Sampai detik-detik hijrah beliau dari alam yang ini ke alam berikutnya dihiasai oleh ratapan Ummatiii…ummatiii”

***
Markesot tidak pernah punya pencapaian sukses pribadi apapun dan ia memang tidak mempedulikannya. Malam ini ia berangkat mencari Kiai Sudrun untuk memproses cita-citanya.

“Apakah banjir yang menenggelamkan ummat Nabi Nuh adalah cermin kegagalan dakwah Nabi Nuh? Juga apakah bencana-bencana besar yang menghancurkan masyarakat Nabi Hud, Nabi Shaleh atau Nabi Luth adalah ‘raport merah’ yang membuktikan kegagalan perjuangan beliau-beliau?”

“Jelas bahwa cita-cita para Rasul itu tidak tercapai, tetapi itu tidak sama dengan kegagalan…”

Demikian tausiyah ‘Ustadz’ Markesot.

Jelasnya, demikian cara Markesot menghibur dirinya sendiri, membesar-besarkan hatinya yang layu.

https://www.caknun.com/2016/tak-ada-cita-cita-yang-tercapai/ 


Foto  Buku Koleksi Yaddie Jossmart



Daur I No.055 Wali Negeri Khatulistiwa

 

Daur-I • 55

Wali Negeri Khatulistiwa


Sesungguhnya sudah bulat hati Markesot: nanti tepat tengah malam ia akan pergi mencari Kiai Sudrun, menelusuri jejaknya terserah sampai ke mana, tapi harus ketemu.

Tak peduli ia harus menembus gelombang apapun, menunggangi malam atau siang, menjejakkan kaki di koordinat waktu di depan atau belakang. Tapi wajib ketemu. Kali ini tidak bisa tidak.

“Kalau saya harus menyeberangi lautan untuk menemukan Kiai Sudrun, tujuh samudera akan saya arungi”, tekad Markesot, “tetapi berhubung saya tidak bisa berenang, maka saya akan bernegosiasi dengan laut, agar semua lautan bersedia untuk tidak rewel kalau saya lewati mereka tanpa berenang”
Kalau ingat hal rembug dengan laut ini Markesot tertawa sendiri.

 “Banyak orang terkagum-kagum kepada kisah tentang orang berjalan di atas air. Banyak tokoh bangsa Dayak ketika Perang Sampit melaju dari berbagai arah berkumpul di suatu tempat arah utara barat Sampit, banyak di antara mereka tidak menyeberangi sungai-sungai besar dengan perahu, melainkan dengan berlari di atas air”.
***
“Ada legenda tentang Ibu Maliàh yang dondom atau menjahit pakaian dengan jarum benang di dek sebuah kapal yang akan mengantarkan ratusan jamaah haji. Pak Kiai mengantarkan santri-santrinya sampai memasuki kapan. Dijumpainya si Ibu Maliàh sedang mengucapkan kalimat-kalimat wirid sembari dondom. Pak Kiai mengingatkan Maliàh bahwa makhraj dan tajwid ucapannya banyak yang salah. Maliàh langsung berhenti wiridan. Ketika Pak Kiai sudah kembali ke pelabuhan di pantai untuk nguntapke kapal melaju, tiba-tiba ada orang terjun dari kapal, berlari di atas air, menuju Pak Kiai. Orang itu langsung bertanya kepada Pak Kiai: Pak Kiai, Pak Kiai, Sampeyan tadi belum mengajari saya bagaimana wirid yang benar…”

“Ternyata orang itu adalah Maliàh. Pak Kiai langsung pingsan”.

Markesot selalu tersenyum ketika teringat kisah-kisah yang orang menyimpulkan itu kisah sakti. Padahal itu soal keakraban persaudaraan dengan alam. Itu soal tawar-menawar, saling murah hati di antara manusia dengan alam. Sepertinya itulah gunanya Tuhan menentukan di antara para Rasul dan Nabi, terdapat Baginda Raja Sulaiman.

Bahkan karena Markesot tidak berenang, ia mengupayakan semacam pengumuman yang meminta, mengimbau, atau kalau terpaksa ya memaksakan, agar semua makhluk penghuni laut dari jenis apapun, menyepakati suatu permakluman untuk membiarkan Markesot melintasi samudera dengan sarana apapun saja.

Dengan kapal, perahu, jalan kaki dan berlari di atas permukaan air laut, menaiki kuda setengah terbang, mesin kecepatan, alat strategi lintas ruang, teknologi peringkas jarak.

Atau mungkin tidak menggunakan semua itu. Terserah Markesot. Toh ia tidak mengganggu kenyamanan hidup dan keamanan lingkungan perkampungan maya serta walayah gelombang di mana para makhluk itu bertempat tinggal. Ia cuma mau ketemu Kiai Sudrun.

Tidak tertutup kemungkinan Markesot tidak melangkahkan kaki. Bahkan tidak pun berdiri. Tak pula duduk bersila. Malahan mungkin berbaring saja. Melintasi lautan yang terbentang dan hutan belantara yang terhampar di alam semesta dalam diri Markesot sendiri.

Sesekali mampir singgah di dalam mimpi orang-orang yang tidak mempercayai apa yang ia lakukan. Markesot hadir dalam mimpi-mimpi mereka dan menuturkan sejumlah gangguan atau godaan.
Terserah Markesot. Main transformasi-deformasi, pemadatan-pemuaian, kasat mata tak kasat mata, menyatai maya memayai nyata, biarkan saja. Yang penting ia mau ketemu Kiai Sudrun.
***
“Mana Kiai Sudrun ini?”, jiwa Markesot meronta.

“Mana Wali Qutub Negeri Khatulistiwa?”

“Wabah penyakit tiada tara. Maut tak bisa ditunda, tetapi kehancuran mungkin bisa dilompati…”

Tak kan berhenti Markesot sebelum menemukan Kiai Sudrun. Andaikan pun untuk itu Markesot harus melintas planet-planet, pun galaksi-galaksi kalau memang diperlukan, atau memergoki Kiai Sudrun di pojok-pojok perkampungan Jin, di perpustakaan digital di hutan-hutan, mengejar persembunyiannya di ke dalam setetes embun.

Markesot akan mengajukan pensiun dini dari penugasan di Bumi, kalau Negeri Khatulistiwa dibiarkan terus tanpa penjaga. Tanpa penyangga arasy. Tanpa pengawas. Tanpa pengontrol. Tanpa pemelihara keseimbangan. Tanpa orang-orang tua yang berentang tangan dalam rahasia. Tanpa hikmah Leluhur. Tanpa pelaksanaan amanah Auliya.

Sudah terlalu cukup bagi Markesot dan sudah usai usia kesabarannya untuk menyaksikan rakyat Negeri Khatulistiwa terkatung-katung menjalani darma zaman dengan bekal kebutaan batin dan ketulian rohani. Markesot tidak sanggup membiarkan terlalu lama masyarakat Negeri Khatulistiwa tenggelam dalam kegelapan dan kegelapan tentang tiga hal: Kepemimpinan, Ukuran dan Kemunafikan.

Krisis Kepemimpinan.

Kehilangan Ukuran-ukuran.

Dan menyempurnanya Kemunafikan.
***
“Kenapa tujuh belas Gardu Penjagaan Khatulistiwa kosong tanpa penjaga hampir dua puluh tahun terakhir. Ke mana para Wali? Lari dan bersembunyi di mana Wali Qutub-nya? Mana formasi koordinator regional penjagaan Negeri Khatulistiwa?”

“Kalau tidak ada kepemimpinan di Langit Keempat, yang meresonansikan hidayah dan mendistribusikan nilai, tidaklah adil untuk mengharapkan ada kepemimpinan di Negeri Khatulistiwa yang berada di langit bawah kepengasuhannya. Ke mana ini Kiai Sudrun?”

“Sampeyan ini Pemuka Regional Kaum Wali. Sampeyan bukan hanya zuhud, istiqamah ajeg permanen pada kepatuhan kepada Allah, diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa”
“Sampeyan membawahi aparat-aparat dan staf-staf untuk melaksanakan tugas menjereng bumi yang bulat menjadi seperti tikar raksasa. Sampeyan dipasang untuk berhak turut memusyawarahkan proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan pemanasan suhu permukaan Bumi, mengatur panas dinginnya gunung, mengendalikan angin, mendistribusikan asap, pergerakan lempengan-lempengan Bumi, menakar keharusan gempa, mempergilirkan letusan gunung-gunung”

“Ataukah Sampeyan sedang sibuk membantu para Malaikat mengangkat Arasy, untuk ditata kembali karena ada rencana reformasi kemakhlukan dari Tuhan? Atau Sampeyan sedang bersujud di Langit Keenam, menunggu sertifikasi qudroh sebagaimana yang dianugerahkan kepada Guru Besar Khidlir? Izin Allah untuk berdasarkan pengetahuan tentang putaran waktu dan makrifat bergulirnya zaman, Sampeyan boleh mencekik atau memuntir leher sejumlah Pemimpin di muka bumi, utamanya di Negeri Khatulistiwa?”

“Bukankah Tuhan Maha Tak Terperi Ilmu-Nya dalam kemaha-andalan membagi tugas kepada para staf dan makhluk-makhluk-Nya? Bukankah Rasul Pamungkas saja pun tak memperoleh perkenan sejumlah hal yang Tuhan perkenankan kepada Baginda Khidlir?”

“Apakah kali ini ada rancangan khusus?”

“Perkenan untuk membocorkan Kapal Tanah Air, mengganti Nakhodanya, menyusun aturan-aturan baru, bahkan membikinkan Kapal baru karena yang ada sekarang sudah tidak mungkin berlayar tanpa bergoyang dan berguncang? Kemudian Sampeyan tegakkan Pagar Zaman itu, menguak masa silam, menggali kekayaan simpanan, untuk menyiapkan kesejahteraan bagi anak-anak cucu-cucu bangsa Negeri Khatulistiwa ini yang kekayaan buminya dikikis habis oleh Bapak-Ibu dan Kakek-Nenek mereka?”

Inilah saat-saat Markesot menjadi cengeng dan sangat tertekan oleh dirinya sendiri. Markesot tenggelam oleh banjir yang berasal dari aliran dan kucuran airmatanya sendiri.

https://www.caknun.com/2016/wali-negeri-khatulistiwa/

Koleksi Buku By Yaddie Jossmart

Rabu, 11 Desember 2019

LIST DAUR KEDUA

Daur I No.054 Kemewahan Sebagai Barang Mainan




Daur-I • 54

Kemewahan Sebagai Barang Mainan


Lebih 40 tahun Sapron dijejali oleh ceramah-ceramah Markesot. Isi kepala, dada dan perut Sapron adalah ceramah Markesot. Bahkan setiap helai rambutnya, setiap butiran darahnya, bermuatan ceramah Markesot.

Mengalirnya darah di tubuh Sapron itu sendiri seakan-akan adalah ceramah Markesot. Gerak alirannya, speed-nya, iramanya yang tercermin pada dinamika cepat lambat kembang kempis jantungnya. Bahkan kotoran di antara kuku kaki dan daging jari-jari Sapron tidak lain tidak bukan adalah ceramah Markesot. Tausiyah Markesot. Mauidhah-hasanah Markesot. Makalah simposium Markesot. Artikel dan puisi Markesot. Mampuslah Sapron dimarkesoti sepanjang dan hampir seluruh kehidupannya.

Akan tetapi Sapron terus dan tetap setia kepada Markesot.

Mungkin karena terikat secara persaudaraan sejak masa kanak-kanaknya di dusun dulu. Markesot tukang dongeng, Sapron salah satu audiensnya di Langgar dulu.

Tetapi ternyata sampai Sapron mengikutinya di Patangpuluhan, hidup Markesot tetap saja mendongeng dan mendongeng.

Jelas Sapron tidak mempersoalkan itu. Sejarah nasib membawanya ke situ, entah bagaimana prosesnya dulu. Sapron sendiri tidak punya prestasi apa-apa, tapi sekurang-kurangnya ia punya cinta dan kesetiaan kepada Markesot. Dan karena sejarah cinta dan persaudaraan sejati itu maka ia selalu memaafkan Markesot dan tidak menuntut apa-apa.

Apalagi jelas Markesot tidak pernah bicara apapun tanpa ada Tuhan di dalamnya. Markesot tidak pernah melakukan apapun yang bermuatan keperluan pribadinya. Markesot tidak pernah meminta apa-apa untuk dirinya sendiri kepada siapapun kecuali Tuhan. Markesot tidak pernah mengganggu orang, menyakiti orang, mengemis kepada orang. Markesot tidak pernah mengejar harta, jabatan, membangun karier atau pencapaian-pencapaian apapun yang sifatnya keduniaan.

Bagi Sapron Markesot hanya semacam gelandangan. Dan karena gelandangan tidak ada alamatnya di peta masyarakat dan di buku urusan pemerintahan kecuali untuk diremehkan dan dihardik, maka Sapron diam-diam merasa terhormat dan bangga untuk menjadi penjaga dan pengawal seorang gelandangan.

Kalau suatu hari Markesot marah di jalanan karena orang ngawur mengendarai mobil atau motor, atau petugas pom bensin mengkorupsi volume literan jualannya, atau ada preman mentang-mentang, atau apapun saja — Sapron yang jaga-jaga. Markesot dikenal sebagai orang yang sehari-harinya lembut dan agak pendiam. Tapi sewaktu-waktu ia mendadak sangat tegas, bisa membentak-bentak siapa saja termasuk orang-orang berdasi.

Tapi terus terang sebenarnya tulang punggung keberanian Markesot adalah adanya Sapron. Kalau terjadi perkelahian benar, Sapron yang bertandang. Markesot marah kepada Tentara yang menendang seorang sopir gara-gara salah parkir, Tentara itu tidak berani bertindak apa-apa kepada Markesot, karena memperhitungkan ada lelaki gagah gempal di belakang Markesot. Ya Sapron itu.

Markesot yang berlagak, Sapron yang jaga-jaga. Tidak seorang pun berpikir bahwa sebenarnya Markesot tidak sehebat dan sepemberani itu. Rumusnya sederhana, kalau Markesot sendiri, ia sangat lembut. Kalau ada Sapron, mendadak tegas.
***
Sapron, pemuda gagah tidak jelas nasibnya sebagaimana Markesot, tuan rumah permanen rumah hitam Patangpuluhan. Seorang lelaki yang kesetiaannya boleh dikatakan membabi-buta kepada Markesot sejak dulu kala. Terkadang Sapron ini yang diminta mengantar Markesot boncengan motor, kemudian tak pulang beberapa lama. Kalau teman-teman menanyakan kepadanya, “Ron, Markesot kamu antar ke mana?”

Sapron menjawab, “Minta turun dari motor di dekat rel kereta luar kota sana, saya tidak tahu lantas ke mana dia”

Sapron rajin melukis kaligrafi kalau malam, siangnya makelaran apa saja: motor, barang-barang, kadang mobil. Sapron mewarisi ilmu dan keterampilan otomotif dari Markesot. Bahkan pernah disewakan tempat kecil untuk buka bengkel motor, tapi bubar.

Sapron pintar mesin, mengerti manusia pada umumnya, tetapi tidak memahami manusia yang datang kepadanya membawa motor rusak. Sapron tidak tahu kalau mereka lebih senang ditipu daripada disikapi secara jujur dan murah hati.

Kalau ada motor rusak datang, seharusnya Sapron mendramatisir dan menyeram-nyeramkannya.
“Wah, Pak, ini butuh waktu antara lima hari sampai seminggu. Spare part ini dan ini dan ini harus ganti….”

Sapron bodoh. Ia periksa motor, ia tidak menemui kerusakan, hanya perlu pembenahan dan fixing. Sapron menyentuh beberapa onderdil, diini-itu beberapa saat, kemudian motor jadi fix dan jrong.

“Sudah beres, Pak”.

“Berapa biayanya, Pak?” si empunya motor menjawab.

“Ah, wong cuma nyentuh-nyentuh sedikit kok”, jawab Sapron, “nggak usah biaya Pak, Sampeyan bawa saja”

Sapron tidak memperoleh upah dari kerjanya karena kemurahan hati dan rasionalitas berpikirnya. Juga tidak mendapat laba dari pembelian onderdil-onderdil baru yang mestinya bisa dikarang-karang, karena toh umumnya pengguna motor tidak paham-paham amat atas liku-liku mesin motornya.

Sapron bukan pedagang. Apalagi kapitalis. Ia jenis petani pengabdi.

Tidak berarti Sapron orangnya kalem dan halus. Sesungguhnya tidak ada siapapun di sekitar Markesot yang tidak usil, punya kecerdasan yang aneh, sangat suka berkelakar dan keputusan-keputusan hidupnya sering menyimpang dari kebiasaan umum.

Suatu siang Sapron menjemput Markesot di Stasiun Kereta. Sapron berlari menuju Markesot yang barusan turun kereta, membelah-belah kerumunan sambil teriak-teriak: “Cak Sot! Cak Sot! Ampun…ampun…”

“Lho kenapa?”, Tanya Markesot.

“Mohon saya jangan dimarahi, Cak Sot”

“Ah, ada apa. Kapan saya pernah marah”

“Bener lho ya, jangan marah”

“Ada apa, ada apa”

“Mercy-nya Cak Sot hilang…memang tadi saya parkir agak jauh di luar sana, barusan saya cek kok hilang. Gila benar maling-maling sekarang ini”

Markesot kaget dan terpana. Wajahnya pucat mendadak. Sorot matanya kosong. Sesaat kemudian pingsan, tubunya roboh, ditangkap Sapron dan satu dua orang di sekitarnya. Kemudian diangkat keluar menerobos kerumunan orang.

Ada yang menawarkan kepada Sapron untuk diantarkan ke kantor kepolisian terdekat, lapor Mercy dicuri orang. Lainnya menawarkan membayar taksi untuk membawa Markesot ke Rumah Sakit. Tapi Sapron menolak dengan halus dan mengucapkan terima kasih. Sapron hanya membawa Markesot ke sebuah pojok, mendudukkan di bongkahan batu bersandar pagar. Sapron memijit-mijit kepala Markesot. Markesot memejamkan mata dan mungkin saja ia  tertidur.

Beberapa lama kemudian ketika orang-orang sudah tidak berkerumun lagi, mereka berdua akhirnya tidak menjadi perhatian sekitarnya, Sapron diam-diam mengambil motornya, memboncengkan Markesot dan menghilang dari komunitas kecil yang tadi ikut gugup oleh teriakan Sapron “Mercy-nya Cak Sot hilang!”

Apa maksudnya mobil Mercy hilang dicuri orang? Atas dasar fakta sejarah yang mana dan bagaimana sehingga Markesot berkemungkinan punya mobil Mercy? Untuk apa Sapron teriak-teriak berlagak kehilangan mobil mewah? Pencitraan di komunitas Stasiun? Iseng-iseng memperindah kehidupan dengan khayalan di kalangan sesama orang miskin? Atau teknik pameran sosial agar masyarakat menyangka mereka orang kaya?

Semua itu mungkin. Tapi yang pasti adalah bahwa kemewahan tidak pernah berperan lebih dari barang mainan di mulut Markesot dan komunitasnya.

https://www.caknun.com/2016/kemewahan-sebagai-barang-mainan/

Koleksi : yaddie Jossmart.com


Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?

Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?   Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?, Buku Cak Nun, Buku Emha, Judul : Daur VI – Siap...