Kamis, 30 Mei 2019

Daur I No.036 Rimba Gelap di Depanmu Loncat Masuk!

 
Daur-I • 36

Rimba Gelap di Depanmu
Loncat Masuk!

Anak cucuku dan para jm kemarin kuajak memasuki rimba hutan belantara dan menembus hujan deras peradaban Abad 21, dunia dan Indonesia.

Kemudian anak cucuku dan para jm menagih kalimatku “sederas-deras air hujan, sela-sela kosong di antara titik-titik hujan masih lebih luas dibanding jumlah volume seluruh air guyuran hujan”.

Anak cucuku dan para jm mempertanyakan mana mungkin berjalan di bawah derasnya hujan, bisa tidak basah kuyup?

Jangan sampai didengar oleh para tetangga, ini sebatas kalimat buat anak cucuku dan para jm bahwa jawaban untuk tagihan dan pertanyaan itu, juga beribu pertanyaan yang lain — terletak pada hidupku.

Jangan sampai anak cucuku dan para jm meniru aku, atau apalagi sepenuh-penuhnya bertekad mengikuti jejakku. Sebab engkau semua bukan aku. Sejarahmu akan berkembang tidak seperti sejarahku. Juga aku bukan panutanmu. Bukan sebagaimana nabi atau para pemimpin yang diikuti oleh sebagian ummat manusia.

Jika kukatakan kepada bahwa “jawabannya ada pada hidupku” tak berarti hidupku ini penting, khas atau istimewa. Tidak sama sekali. Ini sekedar informasi bahwa jawabannya ada pada hidupku. “Ada pada” tidak sama dengan “hidupku”. Yang satu unsur atau muatan, yang lain wadahnya.

Mohon tetap diingat bahwa muatan maupun wadahnya itu tak ada di lingkup dunia dan Indonesia, sekurang-kurangnya mereka tidak melihatnya. Oleh karena itu semua omong-omong kita lingkupnya sebatas aku dengan anak cucuku dan para jm.

Engkau semua tidak berkewajiban untuk mempelajari atau mengakui wadahnya, tetapi kalau memang memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, setidak-tidaknya carilah itu di muatannya. Tengoklah, jenguklah, masukilah, telusurilah, telitilah, selamilah, temukan tetesan-tetesan nilainya, butiran-butiran maknanya.

Jika engkau melakukannya, tekanan makna dan manfaatnya tidak terletak pada “aku” nya, melainkan pada penemuan “jawaban” nya. Kalau hidupmu menuju masa depan yang remang-remang nanti tidak terkait dengan “jawaban” itu, maka si “aku” menjadi lebih tidak engkau perlukan lagi.
***
Sesuatu memasuki hatiku dan merasuki kepalaku, dan itu membuat jari-jari tanganku menulis:
rimba gelap di depanmu
loncat masuk! dan bukan berpikir
kapal di belakangmu musnah terbakar dan api terus
bernyala-nyala
api terus berkobar, menjilat-jilat, meremuk masa silammu…
Kemudian itu disebut puisi. Kutulis pada 1973, kelak pada 1993 diterbitkan bersama puisi-puisi lain menjadi sebuah buku. Jangan dipersoalkan dulu apakah itu puisi atau bukan. Yang kututurkan kepada anak cucuku dan para jm hanyalah sezarrah “jawaban” di antara padang pasir jawaban-jawaban yang lain.

Kalimat-kalimat itu titik loncat di belakangnya adalah peristiwa kapal dibakar atas perintah seorang Panglima Perang ketika memasuki Spanyol. Keputusan itu merupakan buah strategi mental bagi para prajurit untuk memojokkan mereka hanya di satu kemungkinan: maju! Tandang. Melangkah ke depan. Tidak ada kemungkinan lain.

Ada kalimat “dan bukan berpikir”, bagaimana maksudnya? Apakah kita diperintahkan untuk menjalani sesuatu tanpa pertimbangan pikiran? Tidak modern dan tidak ilmiah kalau bertindak tanpa landasan pemikiran. Dan bukanlah manusia kalau sepak terjangnya tidak bertulang punggung akal.

Hakikinya “dan bukan berpikir” berlaku pada satu dua detik pengambilan keputusan. Proses berpikir bisa membuat keputusanmu lebih matang, tapi bisa juga karena hidup ini tak kan selesai dihitung dan dipikir, maka tahap-tahap berpikirmu itu justru bisa menjadi serimpetan penghalang yang membuatmu tidak jadi melangkah. Atau bahkan tidak pernah melangkah.

Sebagian anak cucuku dan para jm hidupnya termangu-mangu, karena langkah yang direncanakan tidak pernah matang dalam pikiran. Akhirnya ia berubah menjadi pemikir yang perjalanan hidupnya bukan perjalanan, melainkan ketermangu-manguan.

***
Terkadang engkau bisa berlaku seperti seorang arsitek yang setiap langkah ke depannya dihitung dulu dengan seksama dan sesempurna mungkin. Kondisi tanah tempat ia akan mendirikan bangunan, lingkungan sekitar tanah itu, bentuk bangunannya, detail-detailnya, dan yang terutama ia tidak akan pernah menghitung semua itu jika tidak terlebih dulu tersedia dana untuk membiayainya.

Sebagian dari urusan hidupmu bisa engkau kelola dengan cara arsitek. Tapi aku menduga sebagian besar dari keharusan-keharusan perjuanganmu sama sekali tidak bisa engkau jalankan dengan cara itu. Engkau bisa memikirkan dan memperhitungkan segala sesuatu yang akan engkau kerjakan, tetapi ada beribu kemungkinan lain yang mustahil dijangkau oleh sangat terbatasnya kemampuan pikiranmu.

Bahkan para arsitek, pun para penguasa dan pengendali kehidupan di bumi, tidak ada yang mengerti persis apa yang akan terjadi lima menit yang akan datang. Gedung-gedung tinggi ambruk oleh gempa atau oleh korupsinya sendiri. Para penguasa, Kaisar, Raja, Presiden, pengusaha, ambruk, kecuali yang Tuhan membiarkannya dengan maksud tertentu, istidraj atau alat hidayah. Dan tidak berarti yang dibiarkan itu bebas dari wabal-Nya. Hanya soal pergiliran waktu, pada interval di dan antara dunia dengan akherat.

Kebanyakan di antara anak cucuku dan para jm bukanlah arsitek kehidupan dunia, terlebih lagi ada Maha Pekerja dan Maha Arsitek Agung yang sejatinya sangat dominan akses dan peranannya. Engkau kebanyakan adalah pejalan kehidupan, dengan api membakar hangus di belakangmu, dan rimba gelap di depanmu. Aku menyaksikan juga bahwa engkau berani mengambil keputusan “loncat masuk!”, dengan mental yang engkau menyebutnya bukan hanya tekad tapi “nekad”. Engkau meloncat masuk dan memperkembangkan aji-aji dan kecanggihan silatmu untuk “bismillah” menjalani apa yang engkau sedang dan akan jalani.

Anak cucuku dan para jm beralamat di “min haitsu la yahtasib” dan betapa dahsyatnya itu jika diterjemahkan di dalam struktur urusan-urusan, dipahami dalam konstruksi langkah-langkah, dan besoknya ditemukan di dalam fakta teknis yang ternyata bisa sangat sederhana.

Tapi meskipun demikian aku tahu engkau masih terganjal oleh pertanyaan “bagaimana caranya berjalan di dalam kegelapan rimba, bagaimana langkahnya supaya tidak basah kuyup di tengah hujan deras?”.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
9 Maret 2016
 https://www.caknun.com/2016/rimba-gelap-di-depanmu-loncat-masuk/
Foto : Koleksi Suyadi Jossmart.com


Daur I No.035 Hujan Deras Tidak Basah Kuyup



Daur-I • 35

Hujan Deras Tidak Basah Kuyup

Apakah aku menganjurkan agak anak cucuku dan para jm untuk menjauh dari hutan belantara yang berisi semakin banyak ketidakberadaban manusia? Mengajak mereka untuk menghindar, untuk pergi dengan sikap sok suci, atau bahkan meninggalkannya? Atau sekurang-kurangnya menjaga diri agar steril dari lingkungan ketidakberadaban itu?

Sama sekali tidak.

Bahkan tidak juga mengajak untuk mengutuk dan membenci. Apalagi secara emosional dan terburu nafsu merancang suatu bangunan negara atau pemerintahan baru yang disangka akan lebih baik dari yang dilawan.

Mungkin menganjurkan untuk melawan dengan perhitungan yang benar-benar  terukur. Atau kalau sangat kecil kemungkinan untuk melawan, sekurang-kurangnya menjaga diri sendiri semampu-mampunya untuk tidak menjadi bagian dari ketidakberadaban itu. Tetapi anak cucuku dan para jm bertanya bagaimana mungkin kita diguyur hujan dangat deras tanpa menjadi basah kuyup?

Bagaimana mungkin menghindari budaya pencurian di kantor? Bagaimana mungkin aku mengelak dari domino korupsi struktural yang sudah berlangsung seperti aliran darah yang mengalir dan menjadi tulang punggung kehidupan di kantor? Yang budaya vertikal horisontal antar petugas-petugasnya, atasan dan bawahannya, sudah hampir tidak mungkin menghentikan sistem pencurian bersama? Yang bahkan aturan dan undang-undangnya disusun berdasarkan kepentingan untuk memudahkan permalingan bersama itu?

Anak cucuku dan para jm menyatakan bahwa ia akan terpental jika tidak bergabung di dalam kultur sistemik permalingan itu. Ia tidak akan bisa berkembang. Atau bahkan dimutasi, dipindahkan ke daerah-daerah terjal, atau kalau kadar perlawanannya meningkat, ia akan dipecat, meskipun prosedur teknis dan performanya tidak terlihat sebagai pemecatan.

***
Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana aku akan pergi selain di bawah hujan deras itu? Wilayah mana yang bisa aku tinggali dan pekerjaan apa yang bisa kujalani yang berada di luar area hujan deras itu?

Negara berubah menjadi pasar rimba penghancur semua yang lemah. Ideologi menjadi topeng, agama berpusat pada kemunafikan, kemanusiaan diputus talinya dari belakang dan ke depan. Kesucian rakyat dilacuri sampai benar-benar menjadi pelacur.

Peradaban yang pilarnya adalah Ksatria diambil alih oleh Raksasa. Jalan menjadi tujuan. Tuhan dijadikan faktor produksi dan promosi. Kitab Suci dibuka dicari ayat-ayat yang diletakkan pada tempat yang tidak seharusnya, karena gunanya firman Tuhan adalah untuk meneguhkan pengambilan keuntungan harta benda dunia.

Pengurus negara yang berkewajiban melindungi dan menyejahterakan rakyat yang mengamanatinya berlaku sebaliknya: menyusun sistem manajemen pemiskinan. Pemerintah yang diperintah oleh rakyatnya untuk mengelola tanah airnya, melakukan penggadaian dan penjualan besar-besar tanah dan air, isi daratan dan muatan lautannya. Penguasa yang digenggami kekuasaan malah dikuasai oleh penguasa lain dan menandatangani surat-surat penguasaan oleh penguasa lain itu atas harta benda rakyatnya.

Peradaban yang penghuni mayoritasnya adalah pengemis dan minoritasnya perampok. Setiap warga mayoritas belajar di sekolah demi agar bisa mendaftar ikut merampok, kemudian jika gagal mereka menadahkan tangan semoga memperoleh sedikit atau banyak cipratan dari hasil-hasil rampokan.
Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana kami akan pergi? Sampai berapa lama kami mampu bertahan tak ikut merampok, dan hingga kapan kami dengan keluarga-keluarga kami bertahan lapar demi tidak menjadi pengemis? Hujan deras di mana-mana dan semakin deras. Desa-desa menjadi kota, dan kota-kota menjadi hutan belantara.

***
Pemimpin besar kami, kata engkau anak cucuku dan para jm, menyebutkan bahwa hidup ini diciptakan Tuhan dengan ummat manusia menjadi wakil kepengurusan-Nya agar kita semua saling mengamankan, saling memperjanjikan dan mengundang-undangkan suatu tatanan dan aturan untuk menjamin keamanan satu sama lain.

Keamanan nyawa, keamanan martabat dan keamanan harta.

Kami tidak sanggup menjaga titipan harta kekayaan Tuhan ini dari cengkeraman dan penguasaan golongan-golongan makhluk yang menyelenggarakan program pengambilalihan kekayaan Tuhan itu dari kami. Bertahap-tahap selama ratusan tahun titipan-titipan Tuhan itu lepas dari tangan kami, dan Tuhan tidak menghalangi semua itu terjadi.

Kekayaan titipan Tuhan semakin kikis dan di ambang sirna. Dan demi supaya masih bisa bertahan hidup, sebagian besar dari kami merelakan musnahnya martabat kemanusiaannya. Kami hidup di tengah rakyat, masyarakat dan ummat yang sudah mengikhlaskan ambruknya martabat, asalkan nyawa tidak hilang dan masih sekedarnya memperoleh sisa harta yang semakin kikis.

Penjajahan demi penjajahan, dengan bentuk dan formula yang terus diperkembangkan dan dimatangkan, sampai tahap di mana kebanyakan manusia tidak lagi mengetahui bahwa mereka sedang dijajah. Tidak hanya penjajahan yang samar dan tak kasat mata, sedangkan penjajahan yang terang benderang berwujud penjajahan pun sudah tidak dipahami sebagai penjajahan.

Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana kami akan pergi? Ke manapun kami melangkah, tak bisa lolos dari guyuran air hujan yang deras dan semakin deras.

Anak cucuku dan para jm menagih kalimatku “sederas-deras air hujan, sela-sela kosong di antara titik-titik hujan masih lebih luas dibanding jumlah volume seluruh air guyuran hujan”.

Anak cucuku dan para jm mempertanyakan mana mungkin berjalan di bawah derasnya hujan, bisa tidak basah kuyup?

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
8 Maret 2016


https://www.caknun.com/2016/hujan-deras-tidak-basah-kuyup/

Foto : Koleksi Suyadi Jossmart.com
 

Selasa, 28 Mei 2019

Daur I No.034 Aktivasi Akherat di Dunia

 

Daur-I • 34

Aktivasi Akherat di Dunia

Terjadi omong-omong serius antara Markesot dengan anggota Perhimpunan Njarem Nasional.

“Puluhan tahun kalian menikmati semua yang enak-enak dari saya. Yang nyaman-nyaman, yang sedap-sedap, yang menggembirakan dan meringankan hidup kalian. Dan itulah kesalahan besar dalam hidup saya”

“Bukankah menggembirakan orang, meringankan beban orang, memberi keamanan dan kenyamanan, adalah sedekah yang terbaik, Cak Sot? Kenapa itu kesalahan?”

“Karena saya kurang mengantarkan kepada kalian pelatihan dan pengalaman bagaimana menjadi manusia yang selalu siap memberi kenyamanan, kegembiraan dan keringanan”

“Kan hidup kita yang miskin dan serba kekurangan di Patangpuluhan dulu dengan sendirinya merupakan pelatihan untuk menjadi manusia yang siap menyamankan orang lain?”

“Apa kemampuan menyebar kegembiraan selalu dilatihkan dengan kemiskinan dan penderitaan?”

“Tidak juga. Tapi nyatanya selama di Patangpuluhan kita belajar dari pengalaman-pengalaman itu”

“Siapa bilang di Patangpuluhan dulu kita miskin dan menderita?”

“Lho memangnya kaya dan bahagia?”

“Kebahagiaan tidak selalu berada dalam sebab-akibat dengan kekayaan. Juga penderitaan tidak harus selalu dikaitkan dengan kemiskinan. Kalau begitu cara pandang kita, Patangpuluhan dulu bukan Universitas, tapi lebih cocok Usaha Dagang”

“Kan semua masyarakat hampir seratus persen menyepakati bahwa sukses adalah kaya harta, memuncak karier, syukur termasyhur. Yang disebut kebahagiaan ya begitu itu”

“Kamu juga berpendapat begitu?”

“Tidak juga sih. Tapi kan jelas di Patangpuluhan dulu kita miskin”

“Tapi tidak menderita”

“Ada yang tidak, tapi Cak Sot mungkin tidak tahu ada juga yang merasa menderita karena semua yang di rumah hitam itu miskin”

“Apa tanda-tandanya kita dulu miskin?”

“Makan tidak pasti”
“Terus?”

“Tidur menggeletak di sembarang tempat yang lowong”
“Oke”

“Seluruh kondisi rumah sangat tidak sepadan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tembok-temboknya lembab. Kamar hanya ada dua untuk puluhan orang. Kamar mandi terlalu tradisional, harus menimba sendiri-sendiri dari sumur. WC-nya memalukan. Sampai-sampai dijadikan parameter, kalau ada artis atau tokoh-tokoh bertamu, dan berhasil buang air besar di WC kita, berarti lumayan insan kamil dia”

“Ya”

“Bagaimana tidak miskin. Pintu depan, samping dan belakang tidak ada kuncinya. Bisa dibuka oleh siapa saja dan kapan saja. Itu tanda sangat gamblang bahwa tidak ada apa-apa di dalam rumah itu yang menarik hati para pencuri untuk mengambilnya”

“Oke”

“Pintu depan ringsek, kayunya semakin pecah dan bolong. Kita ganti pintu dengan kayu yang tidak lebih baik atau mahal. Tetangga sebelah merasa kita sedang memamerkan kemampuan finansial dengan mengganti pintu. Maka dia perbarui pintu-pintu dan jendela-jendela rumahnya, dengan harga mungkin sepuluh kali lipat dari harga pintu kita”

“Ya”

“Kita tidak tahu kalau sedang bersaing dengan tetangga. Sampai kemudian ketika pagar depan kita lengkapi tali-talinya, tetangga sebelah itu merestorasi pagar bambu menjadi pagar tembok dengan hiasan yang mewah. Kesadaran tentang kompetisi materialisme itu kemudian membuat kita mengambil keputusan untuk mengecat rumah Patangpuluhan dengan hitam penuh. Tembok hitam. Pintu hitam. Jendela hitam. Kaca hitam? Mana ada kaca. Deretan level-level untuk pentas teater juga hitam. Seterusnya baju kita celana kaos dan semua pakaian kita menjadi hitam. Mungkin juga hati kita”

“Oke”

“Oke ya oke ya oke ya….”

“Apakah kita menderita oleh itu semua?”

“Tidak sih”

“Tidak ada penderitaan di dunia. Hanya njarem

Njarem juga bisa menjadi penderitaan”

Njarem itu lucu. Itu semacam rasa sakit yang berbasa-basi”

“Itu kalau hanya njarem. Yang kita alami ini juga keseleo, kecethit, bengkak”

“Menjadi kesengsaraan kalau yang keseleo pikiranmu, yang kecethit hatimu, yang bengkak mentalmu”

“Tapi meskipun yang keseleo hanya badan, sakit juga”

“Sakit, tapi bukan penderitaan….”

Kemudian Markesot omong panjang tanpa memberi peluang kepada teman-temannya untuk menyela.

“Penderitaan terjadi hanya di Akhirat kelak kalau pengelolaan kita salah atas dunia. Maka mulai pertemuan hari ini bikin simulasi kesengsaraan. Hanya simulasi beberapa saat. Itu pun sekedar dengan pergi jauh ke belakang. Melompat jauh ke wilayah-wilayah di balik produksi keenakan, kenyamanan, kesedapan dan kegembiraan itu”

“Dan wilayah itu adalah wilayah pelatihan kanuragan-kajiwan yang sangat panjang. Yang berat dan sengsara. Yang hampir-hampir tak tersangga dan setiap saat dibanting oleh rasa putus asa. Pelatihan-pelatihan yang bisa sangat mengerikan agar kita pantas menjadi aktivis kehidupan sejati Akhirat”

“Tetapi harus saya ulang dan ulang lagi: tidak ada penderitaan di dunia. Karena selama yang terasa seolah-olah penderitaan itu membawamu kepada ingatan bahwa kau telah berbuat benar, kemudian Akhirat tampak di depan kesadaranmu – penderitaan itu berubah menjadi gizi kesehatan. Sepanjang manusia mengaktivasi Akhirat dalam proses perjuangan hidupnya, maka ujung tetesan hasilnya adalah Kalimah Thayyibah. Dan Kalimah Thayyibah meringankan yang berat, mencerahkan yang gelap, membukakan yang buntu, menggembirakan yang tadinya serasa sengsara”

“Dunia ini hanya diklat beberapa sesi. Maka pun tidak ada sukses di dunia. Semua bangunan peradaban, kekayaan materialisme dan kejayaan-kejayaan pembangunan Kerajaan dan Negara, adalah tipuan sesaat, artifisialisme dan tipu daya hologram dalam waktu. Karena beberapa saat berikutnya akan kalian tinggalkan dan meninggalkan kalian”

“Kalau kalian tidak pernah tuntas mengalami yang orang-orang menyebutnya kesengsaraan dunia, sebagai agenda-agenda pelatihan untuk aktivasi kehidupan sejati yang disebut Akhirat, yakni keabadian sesudah ujung dunia — saya bertanya: kenyamanan apa yang bisa kalian wasiatkan kepada anak cucu dan sesama jm? Biji apa yang kalian lempar ke masa depan untuk mereka tanam di kebun-kebun peradaban yang akan datang?”

“Ayo sekarang bangun semua”, Markesot mengakhiri, “kita lindas dan siksa jiwa kita dengan pemandangan-pemandangan njarem berikutnya. Lompat masuk ke arena hujan deras. Pelajarilah pergerakan dan jurus-jurus untuk memasuki sela-sela di antara derasnya air hujan. Kalian terus-menerus dihujani, maka sekarang berlatih agar kalian punya kemampuan untuk mengguyurkan hujan derasnya Tuhan”

https://www.caknun.com/2016/aktivasi-akherat-di-dunia/
Foto : Koleksi Suyadi Jossmart.com

Daur I No.033 Untuk Anak-Cucu dan Jape-Methe


Daur-I • 33

Untuk Anak-cucu dan Jape-methe

Tidak ada manfaatnya memperdebatkan apakah Markesot itu gila atau waras. Hahahaha…kalau glundhung-pringis pastilah selalu pringisan tertawa. Tetapi hantu kaki-tiga yang karakternya sangat serius pun jadi tertawa: Astaga…makhluk-makhluk yang mengira dirinya waras, padahal mereka semakin tidak waras, mempertanyakan waras-gilanya Markesot?

Wahai logika hancur. Wahai kemanusiaan kikis. Wahai akal dari Tuhan yang didayagunakan untuk mengakali. Wahai sistem tipudaya. Wahai regulasi perampokan. Wahai budaya birokrasi pengutilan.

Wahai peradaban kemunafikan. Wahai semut dan harimau pun punya kepemimpinan, dan ummat manusia kekasih Sang Pencipta melecehkannya. Wahai kumpulan makhluk rendah diri. Wahai para khalifah tanpa martabat, tak punya harga diri, tak ngerti muru’ah. Kalian meyakini diri kalian waras?

Hanya demi sopan santun saja Markesot membatasi tertawanya melihat makhluk-makhluk GR di salah satu lingkup seputaran Katulistiwa yang heboh dan gaduh. Makhluk-makhluk kesayangan Tuhan yang menyangka diri mereka waras, hidup di Negeri yang waras, menjalani budaya, hukum dan politik waras, bangga sedang mengemis “gemah ripah loh jinawi” dari Kerajaan Ya’juj dan Ma’juj, demi mewarisi dan membebani penganiayaan ke masa depan, yang anak-cucu mereka tak kan sanggup menanggung hutang-hutang dari kakek-neneknya sendiri.

Wahai inilah Markesot, seekor makhluk purba, jangan sebut seorang. Wahai inilah aku makhluk asing, hadir sebagai tamu liar yang tak diundang di bumi. Dulu kutitipkan pernyataan ini melalui seseorang untuk menyebarkannya:
“kalau memang tak bisa
kau temukan wilayahku
biarlah aku yang terus berusaha
mengetuk pintu rumahmu
kalau tak bersedia engkau
menatap wajahku
biarlah para kekasih rahasia Allah
yang mengusap-usap kepalaku”
Sebagaimana sia-sia warga Patangpuluhan itu mencari kebenaran tentang siapa nama Bapak dan Ibunya Nabi Khidlir, beliau masih sugeng atau sudah meninggal, tinggi badannya berapa, apa benar orang sakti dari kelamnya rahasia ini memutar Masjid Hagia Sophia, mengubah arahnya menjadi menghadap Kiblat, hanya dengan menempelkan telapak tangannya di salah satu tiang Masjid, kemudian menggeser seluruh bangunan raksasa itu.

Apa benar Nabi Idris sengaja ninggal sandalnya di dekat pintu sorga bagian dalam. Apa benar babi tercipta dari gajah dan tikus tercipta dari babi pada saat Nabi Nuh kerja keras menakhodai kapal agung penyelamat peradaban kaumnya yang beriman. Apa benar Iblis bergerilya memasuki sorga melewati mulut naga yang menguap di depan pintu sorga, kemudian menelusuri lorong tubuh panjang naga itu, kemudian keluar bersama tinjanya, dan ekor naga itu berada di dalam sorga. Dengan begitu ia bisa mensubversi pemindahan Adam dari sorga ke tempat yang seharusnya, yakni bumi.

Mungkin ada yang lebih jauh lagi menanyakan apa hubungan Markesot dengan tinja naga, dengan gajah babi tikus, dengan kerudung Nabi Khidir dan terompah Nabi Idris, demi Tuhan seru sekalian alam itu adalah pertanyaan yang paling bodoh dan sia-sia. Mahasiswa-alam Patangpuluhan dulu pernah memperdebatkan sebenarnya yang benar itu Zulaikha sangat mencintai Nabi Yusuf ataukah Nabi Yusuf yang sangat naksir Zulaikha.

Perdebatan itu terhenti oleh Markesot. “Saya tidak punya data tentang cinta. Yang saya pelajari hanya pisau yang dipegang oleh abdi-dalem Kerajaan yang tak sengaja mengiris tangannya sendiri, karena takjub terpesona menatap betapa gantengnya wajah Nabi Yusuf. Pisau itu saya simpan dan ada di tangan saya”

Kemudian Markesot mengambil tasnya. Memasukkan tangan kanannya ke dalam tas itu. Ia keluarkan lagi dalam keadaan tergenggam.

“Kalian pejamkan mata”, kata Markesot, “hati kalian masing-masing memohon ampun keada Tuhan. Supaya jiwa kalian bersih, dan mripat kalian diperkenankan Tuhan untuk mampu melihat pisau ini”
Kemudian sesudah teman-temannya diziinkan Markesot membuka matanya, Markesot pelan-pelan membuka genggaman tangannya. Di telapak tangan itu ada gambar pisau kecil, hasil goresan fulpen murahan.

“Ini pisaunya di tangan saya”, kata Markesot.
***
Berhentilah mempelajari pisau di tangan abdi-dalem Keraton di jaman hidupnya Nabi Yusuf. Ini keadaan masih njarem dan semakin tidak waras. Jangan mengharapkan apapun dengan pedoman seolah-olah ini zaman waras.

Sumbangan nasional njarem itu membuat Markesot merasakan kembali kegagalan hidupnya.

Jelasnya: kegagalan subversi Markesot di bumi. Tulisan demi tulisan yang dibacakan itu seperti mengejek dan menjelentrehkan hamparan dan daftar kegagalan Markesot. Bagaimana tidak. Mungkin gagal tidak di jagat Patangpuluhan, melainkan gagal di dunia dan Negeri Katulistiwa.

Tulisan-tulisan itu tidak ada masalah bagi Universitas Patangpuluhan. Tetapi itu kegagalan besar bagi masyarakat dunia dan bangsa Negeri Katulistiwa.

Itulah sebabnya sejak awal Markesot menekankan: “Tuliskan sesuatu, apa saja, tanpa syarat dan batas, untuk anak cucumu dan sesama Jape-Methe, sesama pembelajar di Kosmos Patangpuluhan.

Sekali lagi, tulisanmu itu untuk anak cucumu entah sampai turunan keberapa, serta untuk Jape-Methe”.

Sebagian temannya bertanya, “Jape-Methe itu apa, Cak Sot?”

Markesot menjawab, “Mungkin kalian pikun atau dulu lalai selama sesrawungan di Patangpuluhan. Jape-Methe itu bocahe dhewe. Kalian selama di Patangpuluhan kan orang kampung, bukan orang kota. Orang kampung di Patangpuluhan membaca “b” menjadi huruf apa, “c” “h” “d” “w” berubah jadi huruf apa. Itu kan password peradaban kampung kalian sendiri dulu. Jape-methe adalah sesama kita di jagat raya kita. Sesama teman di lingkup Patangpuluhan”

“O iya ya, saya lupa….”, kata si pikun.

“Kamu singkat saja Jape-Methe menjadi jm. Kelak, jm akan punya kepanjangan yang bukan Jape-Methe”

“Apa itu?”

“Saya bilang kelak. Kok ditanyakan sekarang”

“Baik, Boss. Tapi saya nanya kenapa tidak J dan M huruf besar?”

“Tidak usah ‘j’ dan ‘m’ besar. Kecil saja. Jawabannya ada enam ribu enam ratus enam puluh enam.

Tapi ambil satu saja. Misanya karena kita tidak besar dan hanya kagum kepada Kebesaran Tunggal, yakni yang ada pada Tuhan sendiri”

“Biasanya kalau singkatan ditulis huruf besar semua, Cak Sot”

“Biasanya siapa? Biasanya pada atau bagi siapa? Untuk sejumlah hal kita sudah bermurah hati untuk mengakomodasi dan menyesuaikan diri dengan dunia dan bangsa Negeri Katulistiwa. Tetapi untuk hal-hal tertentu setiap kita boleh memilih kata, bahasa, idiom, cara berpikir, metoda analisis dan pola-pola pandang berdasar kedaulatanmu masing-masing. Jadi tak harus JM. Bisa jm saja”

“Tapi nanti orang tidak paham bahwa itu dua huruf singkatan dari dua kata?”

“Orang siapa? Orang di dunia? Orang dari Bangsa Katulistiwa? Itu semua wasiat untuk anak cucumu sendiri dan kepada sesama jm. Orang di dunia dan di Negeri Katulistiwa tidak harus paham, bahkan tidak perlu membaca wasiat itu. Kalian pikir mereka pernah benar-benar apa yang mereka katakan, yang mereka baca dan dengar?”

“Kalau anak cucuku dan Jape-Methe juga tidak paham bagaimana?”

“Berarti bukan anak cucumu dan bukan jm. Berarti mereka belum manusia merdeka. Belum manusia berdaulat”

“Merdeka dan berdaulat dari apa?”

“Belum memerdekakan diri dari dari kebiasaan ummat manusia dan bangsa Negeri Katulistiwa, dalam hal cara berpikir, pola konsumsi komunikasi, teknik penyerapan serta pengambilan keputusan tentang hulu hilir pangkal tujuan hidup”

“Jawaban Sampeyan bisa agak lebih sederhana, Cak Sot?”

“Belum merdeka dari tradisi kesempitan. Belum merdeka dari naluri berhubungan dengan sesuatu hanya untuk peka terhadap keuntungan yang diambil. Belum merdeka dari subyektivisme yang merugikan diri sendiri…”

“Masih mewah bahasa Sampeyan, Boss”

“Belum merdeka dari kebiasaan masuk kebun hanya berpikir memetik buahnya, tidak ingat biji buahnya, proses ketumbuhan pohonnya, perkawinan akarnya dengan tanah, keterkaitan tanah dengan seluruh sifat bumi, ketergantungan bumi terhadap sunnah alam semesta dan kehendak Penciptanya”

“Sedikit agak lebih sederhana, Cak Sot”

https://www.caknun.com/2016/untuk-anak-cucu-dan-jape-methe/
Foto: Koleksi Suyadi Jossmart.com

Daur I No.032 Perhimpunan nJarem nasional

 

Daur-I • 32

Perhimpunan nJarem Nasional

Semua tulisan yang sudah dibacakan sebelum Markesot menginterupsi, maupun yang tersisa, sebenarnya memang yang demikian itu yang diharapkan oleh Markesot. Tetapi ternyata itu membuat dirinya makin merasakan njarem, di hatinya maupun tubuhnya.

Sangat jelas sebabnya. Tulisan-tulisan itu memang lahir dari rasa njarem masing-masing penulisnya, meskipun njarem kolektif ini belum disadari oleh teman-temannya. Mereka ini cocoknya mungkin berkumpul di dalam Perhimpunan Njarem Nasional.

Ungkapan-ungkapan yang lahir tidak dari hati yang kebal. Karena di Universitas Patangpuluhan memang disepakati bahwa mereka melarang diri mereka sendiri untuk memasuki, mempelajari, melatih dan memperkembangkan Ilmu Kebal. Baik Kajiwan maupun Kanuragan.

Komunitas Patangpuluhan menemukan bahwa upaya pengkebalan badan itu menyinggung perasaan Tuhan. Ilmu Kebal berposisi menolak sunnah atau tradisi hukum alam yang diregulasi oleh Tuhan bagi makhluk manusia. Salah satu dimensi keindahan hidup manusia antara lain adalah rasa sakit, meskipun jangan sampai memproduksi rintihan yang berlebihan dan ratapan yang berkepanjangan.

Rasa sakit mungkin membawa manusia pada ketidakseimbangan struktur kejiwaan. Tapi bersamaan dengan segala sesuatu yang menyakitkan, sudah disediakan juga perangkat dan metode untuk menawarnya. Sakit badan atau hati tidak perlu membawa manusia ke kelumpuhan tubuh atau sakit jiwa, karena ia adalah bagian dari kelengkapan “sebab musabab”, untuk dikelola oleh manusia menuju ketangguhan, kedewasaan, kematangan dan kesaktian.

Ketangguhan tidak sama dengan kekebalan. Kedewasaan tidak sama dengan kebebalan. Kematangan tidak sama dengan fatalisme. Dan kesaktian adalah kekuatan rahasia yang disimpan oleh Tuhan di dalam diri manusia, di luar kekuatan alamiahnya. Kalau pakai Kitab suci, kekuatan alamiah itu disebut “quwwah”, sedangkan kesaktian itu “sulthan”.

***
Tuhan mengizinkan “sulthan” untuk dilantikkan sebagai pinjaman resmi dari-Nya kepada manusia, sesudah berbagai tahap ujian, perjuangan, tawar-menawar kewajiban dan hak antara manusia sebagai pelaku kehidupan dengan Tuhan sebagai Maha Pelaku segala lakon yang dikehendaki-Nya.

Maka di kalangan para pejalan ilmu lelaku di Patangpuluhan, mereka memberanikan diri berdoa memohon kepada Tuhan, “La haula wa la quwwata wa la sulthana illa billahil ‘aliyyil ‘adhim”, sebagai dorongan ekstra di tengah riyadlah perjuangan mereka membangun kemanusiaannya.

Dari “quwwah” menuju “sulthan” terhampar luasnya kemungkinan bekerja selama waktu yang tersedia, di ruang sempit yang bernama dunia, yang sama sekali bodoh untuk menjadikannya sebagai tujuan perjuangan.

Kenyataan-kenyataan sosial membuat njarem. Tipu daya negara dan pasar bebas membuat njarem. Pencitraan eksistensi dan kemunafikan para pemimpin membuat njarem nasional dan internasional. Adzab Tuhan berupa ketoprak kepemimpinan, sandiwara ketokohan atau kepalsuan negara dan pemalsuan pemerintahan, menimbulkan njarem massal.

Kenapa di media-media komunikasi ummat manusia dan bangsa Negeri Katulistiwa tidak ada atau sekurang-kurangnya tidak ditonjolkan tema tentang kepemimpinan, apalagi kepemimpinan sejati? Karena sistem yang sedang diterapkan harus menghindari dan menghalangi munculnya Pemimpin Sejati.

Kenapa kesadaran tentang sejarah dan penghormatan kepada Leluhur diupayakan agar semua orang terutama generasi muda meremehkannya? Karena hal itu merupakan penghalang besar bagi pola penjajahan yang sedang dijalankan. Kalaupun ada yang mendasar dan mendalam secara nilai dari masa silam bangsa Negeri Katulistiwa, harus dirumuskan dengan istilah yang meremehkan, menyempitkan dan membuat rendah diri, yakni: kearifan lokal.

Kenapa wacana tentang kemunafikan tidak boleh dibiarkan menjadi trending-topic pada suatu jangka waktu yang melebihi batas strategi kaum penjajah? Karena kesadaran, detail dan komprehensi ilmu tentang kemunafikan akan membuka aib-aib besar para stake-holders kekuasaan, bisa merusak tananan, membubarkan mekanisme yang sudah ditata secara seksama.

Akal bulus politik, hipokrisi kebudayaan, manipulasi agama, penipuan-penipuan kata dan bahasa melalui pelembagaan gagasan dan ideologi — dari demokrasi, liberalisme, moderat, fundamentalisme, radikalisme, madzhab, sekte, trend dan berbagai macam hologram pikiran lainnya — membuat njarem, linu-linu, pegal-pegal, rasa lumpuh, remuk redam.

Himpunlah data-data teknis, statistik, bagan-bagan, jurnal-jurnal atau bentuk apapun dari media massa, dunia maya, buku-buku, perpustakaan dan apapun, untuk memperoleh pengetahuan teknis mengenai itu semua. Lakukanlah pendataan sebagaimana kaum terpelajar di dunia dan Negeri Katulistiwa. Tetapi di tulisan yang manapun di sini tidak akan kutambahi rasa njarem nasional-globalmu dengan membeberkan hal-hal semacam itu.

***
Aslinya selama hidup Markesot sendiri hampir tak pernah berhenti merasakan njarem. Dan sebenarnya ia meminta teman-temannya berkumpul di Patangpuluhan ini tak lain tak bukan semata-mata untuk melaksanakan semacam niat jahat menjebak mereka semua agar menyatu dalam kebersamaan njarem.

Dan ketika kemudian ternyata empat puluh orang itu memang datang dengan njarem-nya masing-masing, akibatnya Markesot malah menjadi lebih parah njarem-nya. Sumbangan njarem dari seluruh Negeri Katulistiwa yang dihimpun di rumah hitam Patangpuluhan itu jelas membuat tidak selalu stabil menjaga citra kematangan dan ketenangannya.

Markesot tidak terus-menerus bisa berpura-pura bahwa ia seolah-olah bagian dari kehidupan modern abad ini. Tatkala rasa njarem-nya tak tertahankan, keluarlah perwujudan bahwa belum tentu ia murni keturunan Homo-Sapiens. Muncullah manusia purba yang selama ini acting memperkenalkan dirinya sebagai Markesot. Atau andaikan bukan manusia purba, sekurang-kurangnya ia bukan manusia asli Bumi. Mungkin ia transmigran dari entah planet apa di tatasurya tetangga matahari atau dari belahan galaksi jauh di sana.

Gilanya muncul. Liarnya ketahuan. Cambuk keluar dari balik kostum sandiwaranya. Ledakan-ledakan aneh memecah udara. Suara tertawa-tawa yang susah diidentifikasi itu impressi dari sesuatu yang lucu, atau ekspresi dari kegembiraan. Tapi bukankah kandungan tawa itu lebih banyak rasa deritanya?

Salah seorang teman Markesot membisiki sebelahnya. “Sesungguhnya keliaran Markesot tadi menunjukkan bahwa ia adalah manusia sejati. Dia orang biasa. Penderitaan jiwanya dan ekspresi komunikasinya relatif sama dengan kita semua dan rata-rata orang….”

https://www.caknun.com/2016/perhimpunan-njarem-nasional/
Foto : Koleksi Suyadi Jossmart.com


Daur I No.031 Allah Bertajalli Padamu

Daur-I • 31

Allah Bertajalli Padamu

Untungnya empat puluh anak-anak teman-teman orang-orang itu sudah terdidik di Universitas Patangpuluhan untuk melihat sesama manusia tidak berdasarkan sukses gagalnya, kaya miskinnya, pejabat bukannya.

Mereka menyepakati satu hari di tengah “liburan panjang akhir minggu”. Tidak mudah menemukan satu hari bersama itu, tapi juga tidak sulit-sulit amat. Sebagian mereka yang sebenarnya tidak bisa, akhirnya bisa hadir, dengan cara “memanjang-manjangkan liburan akhir minggu”.

Tempat pertemuan mereka di kampus pembelajaran mereka dulu, yakni markas rumah hitam Patangpuluhan. Meskipun banyak dari mereka adalah sarjana berbagai Universitas, tapi mereka menyebut Patangpuluhan juga Universitas. Kalau ditulis, pakai ‘…’ tanda petik, supaya tidak menyombongkan diri. Tapi mereka mengalami bahwa di Universitas formal tempat kuliah, mereka menghimpun pengetahuan plus sedikit metodologi. Sementara di Patangpuluhan mereka mengembarai ilmu.

Mempelajari ilmu dan belajar menghidupkan ilmu. Mereka menghormati Ilmu Sekolahan di Universitas, tapi menyempurnakan prosesnya dengan melatih Ilmu Kehidupan di Patangpuluhan. Di kampus mereka mendalami suatu pembidangan pengetahuan fakultatif, di Patangpuluhan mereka melatih praksis ilmu komprehensif.

Di Patangpuluhan mereka mengalami pengetahuan dan ilmu, data-data dan fakta, keadaan dan situasi, kenyataan dan nuansa, garis-garis resmi dan kemungkinan dimensi-dimensi. Di Patangpuluhan mereka bergaul hanya dengan buku, lembaran kertas dan huruf-huruf. Melainkan mempelajari kehidupan secara darah daging, ‘nggetih’, ngaw-ruh. Tidak hanya mengukur panjang lebar, tapi menyelam. Tidak hanya menghitung jumlah orang miskin, tapi menangis dan marah. Tidak hanya mentransfer statistik data keuangan negara dan rakyat, tapi mengelola amarah, rasa geram, mungkin juga dendam. Tapi apapun itu yang didalami dan dialami, tetap diletakkan pada landasan cinta sejati kepada bangsanya, ummat manusia, jagat raya dan terutama Maha Penciptanya.

***
Empat puluh orang yang berkumpul di markas Patangpuluhan itu disebut anak-anak ya bisa, karena lepas dari perbedaan usia, mereka memang seperti anak-anak Markesot yang tinggal bersama di rumah hitam Patangpuluhan tiga era sebelum sekarang. Mereka tidak hanya duduk di depan meja membalik-balik lembaran buku-buku, tapi juga mempelajari kegembiraan dan kesedihan, menyelami bayangan kebahagiaan dan fakta kesengsaraan.

Disebut orang-orang, karena mereka sekarang memang sudah “menjadi orang”, sesudah di Patangpuluhan dulu belajar dan berlatih menjadi orang. Apakah ketika itu mereka belum orang?

Sudah, tetapi belum orang yang mampu melihat hewan di dalam dirinya. Belum orang yang sanggup menemukan semacam dimensi malaikat di dalam jiwanya. Belum orang yang memiliki Peta Ilmu Diri untuk mengidentifikasi ragam himpunan potensi di dalam dirinya.

Kalau pembelajaran tentang potensi jasadiyah mungkin tidak terlalu sulit. Apa yang padatan, yang cairan, yang uapan, yang kosongan, yang hampaan. Atau yang tanahan, kayuan, logaman, airan. Atau bumian, gunungan, angkasaan, langitan. Serta berbagai termonologi lainnya. Itupun masing-masing satuan masih terus bisa diperdalam, didetail, dimikrokan dinanokan. Hingga ke ada yang terkecil. Ke ada yang tiada. Kemudian takjub kepada tiada yang sejatinya ada.

Itu baru jasadiyah. Belum yang uluhiyah dengan keindahan mikro mulukiyah-nya dan makro rububiyah-nya. Orang-orang Patangpuluhan menikmati syair-syair ekstra indah tajallullah atau lirik-lirik dendang lagu Allah yang ber-tajalli.

Orang patangpuluhan belajar mengidentifikasi diri-nafsiyah, diri-ruhiyah, diri-fikriyah, diri-sirriyah atau diri-wujudiyah. Orang Patangpuluhan bercengkerama dan bercanda dengan aku-badan aku-mental aku-sukma aku-nyawa aku-jiwa, bahkan aku-roso aku-tan-ono aku-sirno aku-mukswo. Sampai samar-samar tampak Aku Tan Kinoyo Ngopo Aku Tan Keno Kiniro.

Tuhan menyatakan bahwa manusia Ia beri hidayah, Ia pinjamkan kaki-Nya kepada orang itu untuk berjalan. Ia pinjamkan tangan-Nya untuk bekerja. Ia pinjamkan mripat-Nya untuk melihat dan telinga-Nya untuk mendengar.

Maka si manusia meletakkan dirinya terus menerus di jalan pembelajaran, mengasah kepekaan, memperhalus kewaskitaan tentang kapan Allah seolah-olah ber-tajalli padanya. Maka kepada semua engkau, amati momentum tatkala Allah ber-tajalli padamu.

Nanti pemetaan itu akan bergambar-gambar hingga tak tampak gambar. Berwajah-wajah sampai tak berwajah. Berbagan-bagan seolah bukan bagan. Langit dan Bumi berganti, diri dan Diri berseliweran dalam kesadaran dan peran.

***
Di Universitas Patangpuluhan kata ‘orang’ disebut dengan disiplin yang tinggi untuk secara dinamis dan irama cepat tempo tinggi menyetiai batas-batas yang tak terkira antara orang benar atau orang-orangan, manusia sejati atau kepalsuan dan pemalsuan, antara denotasi yang didera oleh konotasi, hingga ke konotasi yang justru memproses pematangan denotasi berikutnya.

Markesot mempersiapkan orang-orang Patangpuluhan untuk berdialektika dalam fungsi Dzat, Sifat, Isim dan Jasad, yang keseluruhannya merupakan Af’al. Kinerja agung selama pengelolaan diri di alam semesta. Tuhan fa’-‘alun lima yurid. Allah maha bekerja melaksanakan kehendak-Nya.

Manusia bekerja meresonansi kinerja Allah itu pada posisi cipratan, pantulan, gema dan gelombang.
Markesot mempersiapkan itu semua di Universitas Patangpuluhan dengan hanya membukakan pintunya kemudian melempar sejumlah kode dan simbol-simbol  arah di tepian jalan, di pepohonan, di bebauan dan atmosfir sepanjang perjalanan anak-anak Patangpuluhan.

Markesot bukan guru yang hidup dengan murid-muridnya. Bukan Kiai dengan santri-santrinya. Mereka semua di Patangpuluhan maupun di terminal Suluk, terminal Shirath, terminal Syari’, terminal Thariq, serta berbagai terminal berikutnya sampai hari ini, adalah teman-temannya, sahabat-sahabatnya. Yang ia temani berproses menjalani pendidikan dan kehidupan yang diselenggarakan oleh Tuhan.

Dan akhirnya, ketika anak-anak itu, orang-orang itu, teman-temannya itu, berkumpul di Patangpuluhan di hari akhir minggu yang dipanjang-panjangkan, Markesot ternyata menemukan sangat banyak kegagalan di era Universitas Patangpuluhan.

Sehingga dia melepas cambuk dari pinggang di balik bajunya dan ber-acting seperti orang gila.
Mereka yang menyayangi Markesot mengatakan, “Markesot keluar jadzab-nya”. Bahkan ada yang ngawur berkhayal, “tunggu saja nanti kambuh Wali-nya”. Padahal itu perilaku yang meskipun tidak lazim tapi tetap ada penjelasan rasionalnya.

Sebenarnya Markesot sedang mengaduh. Sebenarnya itu rintihan, tapi ditutupi dengan kegagahan suara ledakan cambuk. Sebenarnya Markesot sedang merasa kesakitan, karena jiwanya terluka.

 https://www.caknun.com/2016/allah-bertajalli-padamu/
Koleksi: Suyadi Jossmart.com


Daur I No.030 Ilmu Peta Diri



Daur-I • 30

Ilmu Peta Diri

Padahal Markesot sendiri yang, sejak di Universitas Patangpuluhan dulu sok-sok berteori-teori mengkategorikan manusia. Markesot sering mengemukakan, dalam konteks itu, empat macam manusia.

Yakni manusia yang tahu banyak tentang banyak hal. Manusia yang tahu sedikit tentang banyak hal. Manusia yang tahu banyak tentang sedikit hal. Dan manusia yang tahu sedikit tentang sedikit hal.
Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan dan permakluman orang-orang yang terlanjur mengenal Markesot, Markesot adalah manusia jenis pertama. Markesot tahu banyak tentang banyak hal, sehingga gagal memilih yang mana di antara banyak pengetahuan itu yang ditekuninya.

Tahu, mengerti, bisa, mau, mengerjakannya dan sukses. Markesot pasti tahu, tapi belum tentu mengerti, belum teruji bahwa dia bisa, dan jelas dia tidak pernah benar-benar mengerjakannya, sehingga Markesot tidak mencapai sukses apa-apa.

Banyak di antara empat puluh teman-teman Markesot itu malah lebih berhasil mencapai sukses dibanding Markesot. Ada yang nyata menjadi tokoh masyarakat, pejabat, pemuka organisasi, pengusaha cemerlang, pemimpin di bidang keagamaan, penulis yang merajalela karyanya, bahkan ada yang aktif sebagai dukun. Dan beragam lagi sukses mereka, dibanding Markesot yang tak pernah berhasil menjadi apa-apa atau siapa-siapa di kalangan masyarakatnya.

***
Padahal, meskipun skalanya sangat lokal, Markesot adalah penggiat kemajuan hidup di hampir segala bidang. Pembelajaran intelektual, penekunan spiritualitas, pendidikan politik, kritisisme ke-Negara-an dan ke-Pemerintahan, perambahan dan pendalaman ideologi-ideologi, eksplorasi teknologi bahkan multi-teknologi, dari stasioner mesin motor hingga pendistribusian dan negosiasi penjadwalan hujan, dan bermacam-macam lagi pekerjaannya.

Markesot memang sangat berbakat teknologi, mesin, listrik, otomotif, logika fisikanya luar biasa, memahami mesin pesawat dan arloji mini atau filosofi “balase sepur” atau rel kereta api, sama bagusnya.

Tetapi Markesot tidak mencapai eksistensi apa-apa. Tidak menjadi engineer. Tidak punya patent penemuan teknologi apa-apa. Tidak menjadi kepala montir di bengkel mobil. Tidak menjadi teknolog. Tidak menjadi kepala unit atau apalagi Direktur bidang teknologi apapun. Tidak menjadi tokoh kunci di pabrik mobil. Tidak apapun dan siapapun.

Markesot pernah menjelaskan secara sangat teknologis metode bagaimana menghentikan bocoran lumpur yang meluap-luap dari perut bumi menjadi danau. Tetapi karena tidak ada yang bertanya kepadanya, tidak ada yang meminta tolong kepadanya, bahkan pun tak ada yang sekedar bertanya saja kepadanya, maka dia diam saja.

Markesot tahu semua itu sebabnya adalah karena memang tidak ada siapapun yang mengerti siapa dia. Tidak ada yang pernah mengidentifikasi dan mengukur kemampuan-kemampuannya. Hasilnya adalah tidak ada siapa-siapa yang percaya kepadanya. Markesot merasa sangat menderita. Khususnya bab luapan lumpur itu. Bukan karena ia tidak dikenal, apalagi dipercaya. Tapi karena ia tidak tega melihat suatu kemudlaratan yang menimpa banyak manusia, namun ia tidak pernah mendapatkan perintah untuk menolong mengatasi keadaannya.

***
Markesot juga seorang pejalan rohani yang istiqamah luar biasa. Ahli wirid dan pelaku thariqat yang mengerikan perjalanan hidup yang ditempuhnya. Terutama tanggungjawab tauhidnya. Tetapi Markesot tidak punya Klub Dzikir. Tidak memimpin Kelompok Komunitas Wirid. Jangankan menjadi Mursyid, Syekh ini Maulana itu.

Setiap orang yang ketemu Markesot, melihat sosoknnya, pakaiannya, wajahnya, cara komunikasinya, lingkungan pergaulannya, tidak akan percaya kepadanya kecuali membayangkan Markesot adalah seorang makelar serabutan di Pasar. Tidak ada tanda-tanda keunggulan apapun yang tercermin di segala sisi penampilannya. Tanda kecerdasan ya tidak ada. Kearifan, kematangan, kepandaian, kecanggihan, keterampilan, apapun lah.

Markesot tidak memancarkan cahaya yang membuat orang merasakan bahwa ia seorang yang linuwih. Aura ya tidak. Wibawa ya tidak jelas. Benar-benar tidak ada yang layak diharapkan dan diandalkan dari penampilannya.

Padahal Markesot puluhan tahun lamanya berkeliling ke banyak tempat sebagai seorang penggiat sosial. Di berbagai peristiwa ia mampu memagnet banyak orang. Menyerap dan menghimpunkelompok-kelompok masyarakat untuk diajak melakukan berbagai jenis kebaikan bersama.

Bidang garapnya pun ragam dan luas. Yang berkaitan dengan kerjasama penghidupan ekonomi.

Kebersambungan sosial. Kreativitas budaya. Pendalaman rohani. Keterdidikan intelektual. Bahkan penanganan psikologi. Pengupayaan kesehatan badan. Eksplorator penggalian kedalaman tenaga batin. Pengobatan terhadap situasi benci dan bentrok kolektif. Serta bermacam-macam lagi pengelolaan sosial yang jumlah bidangnya berbanding lurus dengan jenis permasalahan yang muncul di masyarakat.

***
Tetapi, meskipun demikian, hasil puncak dari beratus kegiatan Markesot itu adalah pertanyaan umum: “Markesot? Siapa itu? Apa kegiatannya? Kok tidak eksis?”.

Sehingga kalau ada yang menanyakan “bagaimana Markesot menilai dirinya sendiri berdasarkan cara pandang Ilmu Peta Diri yang Markesot sendiri yang sering memakainya untuk menjelaskan manusia dan masyarakat?”, Markesot pasti menjawab: “Lihatlah seluruh hidup saya, maka akan kelihatan contoh manusia yang paling gagal dari cara pandang itu”.

Markesot sendiri yang dalam banyak kesempatan selalu menunjuk dirinya sendiri untuk menjelaskan contoh orang gagal, orang tidak sukses, orang tidak berpestasi dan tidak punya reputasi. Tidak perlu lantas siapapun memberinya stempel “merendahkan diri untuk menaikkan derajat”. Sebab toh tidak ada fakta apa-apa tentang level tinggi posisi sosial Markesot. Fakta membuktikan bahwa ia memang bukan orang yang sukses. Tidak ada padanya sesuatu yang bisa diandalkan apalagi dibanggakan.
Hanya saja ke manapun Markesot pergi, di manapun ia berada, orang-orang disekitarnya entah bagaimana menjadi bergembira, sehingga mereka sangat menyayangi Markesot. Sampai-sampai ada orang yang menikahkan anaknya pun minta Markesot untuk memberi ular-ular alias nasehat perkawinan.

Tentu saja sangat mudah bagi Markesot. Ia berpidato “Pokoknya pengantin berdua dan siapa saja para hadirin di sini, kalau mau selamat, enak dan bahagia: jangan ada yang menjalani hidup seperti saya”.

 https://www.caknun.com/2016/ilmu-peta-diri/
Foto: Suyadi Jossmart.com

Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?

Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?   Buku Daur VI – Siapa Sebenarnya Markesot?, Buku Cak Nun, Buku Emha, Judul : Daur VI – Siap...